Apa itu Nikmat Tuhan?

“Melawan Batas”, demikianlah tema hangat yang disajikan oleh sebuah acara talk show melalui salah satu stasiun TV swasta Indonesia . Dengan mengundang beberapa atlet penyandang disabilitas, yang sudah meraih banyak medali emas dan menebarkan semerbak harum Merah Putih hingga ke kancah Internasional. Sungguh, menyaksikannya seperti menikmati buah durian yang penuh kelezatan, namun juga sekaligus merasakan sakit akibat tusukan kulit durinya yang teramat tajam .

Dibalik kekuatan ada pula kelemahan

Hingga terbukalah beberapa rahasia dibalik kekuatan mereka kini ,

“Saya pernah dianggap sebagai Pengemis saat di bandara, hingga diberi uang 50 ribu, padahal saya baru pulang mengikuti lomba renang dari luar kota …..” ucap seorang pria tanpa sebelah kaki kirinya.

“Ketika kaki saya diamputasi saya sempat depresi, saya tidak mau keluar rumah saya takut bertemu orang –orang apalagi anak –anak….. “ ,tutur seorang Gadis berusia 19 tahun sebagai atlet lempar lembing Indonesia.

Sungguh hati saya yang tidak terlihat secara kasat mata , seolah telah ditembus oleh sebuah tusukan duri yang sangat tajam mendengar cerita haru dibalik kesuksesan mereka kini . Bagaimana tidak ? Saya punya dua kaki yang sempurna sejak lahir, tapi tak pernah mampu berlari sekuat mereka hingga keluar menembus batas Indonesia untuk menebarkan semerbak harum Merah Putih.

Kutundukkan kepalaku, menatap jari jemari kakiku sambil mengenang setiap peristiwa ketika dulu bersama rekan – rekan teman seperjuangan di sekolah manakala waktu itu disuruh oleh Guru olahraga berlari mengitari area lapangan sekolah. Belum memulai laripun kami sudah mengeluh dengan berbagai alasan, hingga pada akhirnya kami terpaksa harus melakukannya.

Advertisement

Saat belum penuh satu putaranpun, gerakan kaki kami sudah mulai melambat dengan berbagai alasan yang diciptakan sendiri. Sungguh berbeda dengan mereka para sang atlet penyandang disabilitas yang punya prinsip “semakin hari kaki harus semakin cepat melangkah sekalipun tidaklah sempurna”.

Nikmat Tuhan tak boleh lagi didustakan, segeralah kita melangkah!

Duri itu seolah berkata “Nikmat Tuhan mana lagi yang ingin kau dustakan”?

karena sesungguhnya , tidaklah takdir sang Maha Kuasa menetapkan kita sebagai kaum yang lemah sekalipun kita semua memilki kelemahan. Jika kelemahan dijadikan sebagai alasan untuk tidak mampu melakukan sesuatu, setidak – tidaknya kita pasti punya kelebihan yang dapat dijadikan alasan untuk tidak tetap tinggal diam dalam kelemahan tersebut.

Kelebihan tak perlu dicari jauh – jauh dengan cara yang ribet, sama seperti mereka yang tanpa kaki sempurna bisa berenang, bisa menjadi atlet lempar lembing, bisa mengendarai sepeda motor, atau mungkin masih banyak kisah menakjubkan lainnya yang pernah kita saksikan dari orang –orang hebat penyandang disabilitas. Jika kita berpikir secara logis , otak kita mungkin tak mampu menemukan jawaban yang detail untuk menjelaskan itu semua .

Kuncinya hanyalah “Jangan pernah mendustakan nikmat yang Tuhan telah kita terima“.