Pendidik adalah panggilan hidup. Panggilan untuk mendidik siswa, baik secara intelektual, emosi, mental dan karakter. Berbicara tentang pendidikan, dewasa ini kita melihat bahwa dunia pendidikan di Indonesia benar-benar memuakkan. Pencetakan manusia-manusia yang korup justru terjadi di sekolah-sekolah yang seyogianya menumbuhkan nilai-nilai moral yang baik.

Bagaimana tidak, pendidikan saat ini mengajarkan kepada siswa sekedar untuk pencapaian target, nilai yang bagus, tak perduli bagaimana cara meraihnya. Yang penting, tingkat keberhasilan seorang anak didik hanya ditentukan oleh angka-angka atau nilai yang diraihnya.

Mencontek, jurus aji mumpung, sogok menyogok dianggap sebagai hal yang wajar dalam proses pencapaian target.

Pada hakekatnya, pendidikan awal diterima anak dari orang tuanya, namun kembali kita melihat kenyataan yang ada saat ini, tanggung jawab orangtua untuk mendidik sudah bergeser menjadi sekedar memenuhi kebutuhan secara materi. Justru pemenuhan kebutuhan siswa secara berlebihan turut ambil bagian dalam pembunuhan karakter siswa.

Siswa SD, SMP dan SMA sudah difasilitasi dengan tablet, BB, I-Pad dan berbagai teknologi lainnya. Mereka begitu bebas mengakses internet tanpa kontrol dari orang tua. Dan tanggung jawab mendidik, yang seharusnya dimulai dari rumah, kini diserahkan total kepada sekolah, bimbingan belajar atau guru privat.

Advertisement

Ketimpangan ini tentu menumbuhkan citra yang tidak baik bagi pendidikan si anak.

Profesi sebagai guru atau dosen, dipandang bukan lagi sebagai pengabdian atau panggilan jiwa, melainkan sekedar pekerjaan. Apalagi dewasa ini, profesi guru sudah mulai dihargai dan diperhitungkan dalam masyarakat. Mengajar dilakukan sebagai rutinitas dalam pekerjaan bukan lagi karena kecintaan kita kepada anak didik dan kerinduan yang tulus untuk turut membentuk karakter dan intelektual siswa sebagai pemimpin-pemimpin masa depan.

Bahkan, ketika ada segelintir pendidik diantara ratusan bahkan ribuan pendidik yang tersebar di tanah air Indonesia, yang menangkap visi Allah melalui dunia pendidikan, justru terjebak di dalam sistim yang sudah rusak. Kejujuran dan ketulusan mengemban visi, membuat kita tampak aneh di lingkungan tempat kita berkarya. Tidak diterima rekan-rekan pendidik dan bahkan dibenci oleh murid-murid yang kita kasihi.

Tidak mengherankan, jika Indonesia memiliki budaya korup yang tinggi. Mulai dari pejabat-pejabat sampai pada masyarakat bawahan, budaya korupsi sudah mendarah daging. Sebab secara tidak sadar itu sudah ditanamkan sejak dini melalui pendidikan yang mereka terima.

Melihat kenyataan ini, seolah tidak ada alasan untuk berharap, bahwa pada suatu saat nanti pendidikan akan kembali kepada fungsi sebenarnya. Menciptakan generasi-generasi bangsa yang berintelektual dan berkarakter positif, mencintai tanah air Indonesia dan pencetus ide-ide kreatif untuk mensejahterakan rakyat Indonesia.

Singkatnya, jika bukan karena visi yang kuat, kita tidak akan bertahan untuk berkarya di dunia pendidikan. Tetapi selama masih ada orang yang bervisi kuat di dalamnya, harapan selalu ada.

Kembali kita melihat bagaimana seharusnya profil seorang pendidik. Dalam Ulangan 6 : 1-25, Jelas diuraikan bagaimana seharusnya seorang pendidik.

Seorang pendidik haruslah memperhatikan anak didiknya, artinya harus memiliki kepedulian terhadap kebutuhan anak didik.

Dikatakan di sana, “hendaklah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anakmu” artinya pendidikan itu harus berkesinambungan, terus-menerus dan sebagai pendidik harus memiliki kesabaran terhadap tingkah laku anak didik yang berbeda-beda. “menuliskannya sebagai tanda di tanganmu dan dahimu” artinya keteladanan mutlak diperlukan.

Seorang pendidik tidak hanya mengajarkan kebenaran, tetapi harus terlebih dahulu menjadi pelaku kebenaran itu sendiri.

“Engkau harus menjawab anakmu” artinya sebagai seorang pendidik, kita harus peka dengan rasa keingintahuan siswa, dan oleh karena itu seorang pendidik harus aktif mengembangkan ilmu pengetahuannya sehingga boleh menjawab setiap pertanyaan siswa dan memberikan pengajaran yang berkualitas.

Mendidik sebagai mandat dari Allah, hendaknya kita lakukan dengan terlebih dahulu mencintai anak didik dan mencintai profesi kita sebagai pendidik.

Pendidikan, mutlak diperlukan dalam menempa generasi-generasi muda yang berintelektual, dan berkarakter mulia. Dan hanya orang-orang yang bervisi kuatlah yang sanggup melakukannya. Walau hanya segelintir orang yang menangkap visi itu, harapan selalu ada.

Jika kita berhasil menanamkan pola pikir yang sehat sejak dini kepada anak didik kita, niscaya dia juga akan mempengaruhi orang lain di hari esok. Dan pengaruh itu akan terus berkesinambungan, menumbuhkan generasi muda yang berintelektual dan berkarakter mulia.

Semangat para pendidik, mari tunaikan tugas sebagai panggilan dan mandat dari Tuhan kita… SPIRIT…!!!

Created By :

Dewi Sartika Harianja, S.Pd