Banyak orang yang mengatakan bahwa jurusan yang paling santai adalah bahasa. Jadi mahasiswa jurusan Bahasa adalah hal yang paling indah karena tanpa ada rumus, praktikum, responsi, penelitian, menghitung, dan lain-lain. Padahal sebenarnya tidak juga.

Mau tahu apa saja enaknya jadi anak bahasa terutama bahasa Jepang?

Enaknya jadi mahasiswa jurusan bahasa Jepang, yaitu :

1. Santai Tanpa Ada Responsi, Menghitung, Rumus, Praktikum, Penelitian, Responsi, dan Laporan

Mahasiswa jurusan bahasa Jepang memang tidak merasakan sulitnya tujuh hal ini seperti mahasiswa psikologi, kedokteran, dsb. Di saat teman satu kost sibuk mengerjakan laporannya, anak bahasa Jepang bisa santai nonton drama Korea atau anime.

Advertisement

2. Tidak Banyak Buku yang Harus Dimiliki

Apabila mahasiswa jurusan lain memiliki banyak buku di rak bukunya, berbeda dengan mahasiswa jurusan bahasa Jepang yang tidak memiliki banyak buku di rak buku atau lemari bukunya.

Mahasiswa bahasa Jepang pada umumnya dari mulai semester 1 sampai 6 atau 8 hanya memiliki 6 sampai 8 buku tata bahasa, 1 atau 2 kamus, dan beberapa lembar materi yang diberikan oleh dosen. Lembaran yang diberikan oleh dosen tersebut kurang lebih tidak sampai 700 lembar.

3. Jarang Praktek Kuliah Lapangan

Mahasiswa jurusan bahasa Jepang yang umumnya didominasi oleh wanita tidak perlu khawatir kulitnya terbakar sinar matahari karena saking jarangnya ada praktek kuliah lapangan. Kuliah lapangan hanya ada pada mata kuliah tambahan atau umum saja. Dalam setahun mungkin mahasiswa jurusan bahasa Jepang hanya sekitar 2 sampai 3 kali saja.

4. Sering Bertemu dengan Orang Jepang

Mahasiswa jurusan bahasa Jepang otomatis sering bertemu dengan orang-orang Jepang asli, baik itu yang didatangkan oleh dosen pada saat mata kuliah berlangsung atau saat ada kuliah ekstra (kuliah tambahan yang berfokus pada latihan berbicara) maupun dosen orang Jepang asli. Lumayanlah untuk cuci mata dan teman foto. hehehe

5. Pekerjaan di Masa Depan yang Menjanjikan

Banyaknya perusahaan Jepang yang berkembang di Indonesia otomatis memperluas lapangan kerja bagi para mahasiswa Bahasa Jepang. Selain itu, karena jurusan bahasa Jepang tidak begitu "populer" di Indonesia membuat mahasiswa jurusan bahasa Jepang berpeluang besar untuk menjadi dosen, guide, interpreter, translator, atau penerjemah tersumpah dalam bahasa Jepang.

Konon katanya bekerja dengan perusahaan Jepang juga sangat menguntungkan karena gajinya besar, bahkan ada yang mengatakan di atas upah minimum rata-rata.

6. Bisa Menonton Film, Drama Jepang, dan Anime tanpa Subtitle

Sebagai mahasiswa yang mempelajari bahasa Jepang setiap hari, tentu sangat mungkin apabila menonton anime, film, ataupun drama Jepang dalam bahasa Jepang tanpa memerlukan subtitle.

Lalu apa sajakah duka atau tidak enaknya menjadi mahasiswa jurusan Bahasa Jepang? Ini nih jawabannya.

1. Harus Menghapalkan Ratusan Kanji

Kanji adalah salah satu dari empat aksara yang digunakan dalam tulisan modern Jepang selain katakana, hiragana, dan romaji. Kanji adalah aksara yang paling rumit dibandingkan dengan katakana dan hiragana. Mahasiswa jurusan bahasa Jepang wajib menghapalkan kanji. Mengapa? Karena materi, soal kuis, dan ujian selalu dituliskan dengan kanji.

Apalagi bagi mahasiswa semester 3 ke atas, wajib hukumnya menghapalkan kanji, karena apabila tidak, maka sudah jelas tidak akan mengerti materi yang diberikan oleh dosen dan tidak bisa mengerjakan kuis ataupun ujian yang biasanya dituliskan dengan aksra kanji seutuhnya. Kalau kamu nggak bisa baca? Silahkan banyak berdoa agar ada keajaiban.

2. Malas Menghapal Sesat saat Ujian

Berbeda dengan mahasiswa dari beberapa jurusan lain yang bisa menjawab soal dengan menggunakan nalar, mahasiswa bahasa Jepang bisa menjawab soal seutuhnya 75% harus dengan menggunakan hapalannya. Bagi mahasiswa Bahasa Jepang, ketidak tahuan adalah petaka. Apabila tidak menghapalkan kanji, kosakata, dan pola kalimat, maka dipastikan ia tidak bisa mengerjakan soal kuis ataupun ujian.

Kanji dan kosa kata tidak bisa dipikir dengan penalaran atau logika, jadi kalau tidak tahu ya sudah. Kalau mentok ya sudah. Alamat kiamat. Hehehe, lebay.

3. Dianggap Remeh oleh Sebagian Orang

"Oh, jurusan bahasa. Bahasa mah enak kali, nggak ada laporan sama praktikum." dan "Jurusan bahasa mah gampang, gitu kok ngeluh."

Dua kalimat ini bukanlah hal yang asing didengar oleh mahasiswa jurusan bahasa Jepang, karena memang sebagian besar masyarakat masih berpendapat bahwa jurusan bahasa itu mudah, tidak sesulit akuntansi, matematika, dan sebagainya.

Padahal sebenanya tidak juga. Ada kesulitan tersendiri yang terdapat dalam bahasa Jepang. Bagi mereka yang kuliah di jurusan ini bukan karena passion, melainkan dorongan orang tua, asal pilih, atau salah jurusan, bahasa Jepang adalah bahasa yang sangat sulit untuk dipelajari.

4. Berpaku pada Pensil, Penghapus, dan Buku

Berbeda dengan beberapa jurusan lainnya yang berpaku pada teknologi dan internet, mahasiswa jurusan Bahasa Jepang justru lebih sering menggunakan pensil, penghapus, dan buku. Bagi mereka pensil, penghapus, dan buku adalah senjata utamanya. Hal ini sering pula menjadi bahan ejekan.

Ada yang mengatakan, "Hari gini make pensil? " atau "Loh kok tugasnya kayak gitu? Kayak anak TK/ SD saja." Namun hal itu tidak membuat mereka patah semangat.

5. Kesulitan Mencari Kamus yang Akurat

Berbeda dengan bahasa Inggris yang sangat populer di masyarakat sehingga terdapat banyak kamus elektronik maupun manual yang akurat, kamus bahasa Jepang elektronik maupun manual yang akurat masih agak sulit dijumpai.

Tidak jarang mahasiswa jurusan bahasa Jepang ditertawakan atau diprotes oleh dosen karena kosa kata yang digunakan terkesan aneh/ rancu. Hal tersebut adalah salah satu dampak dari masih agak sulitnya kamus bahasa Jepang elektronik maupun manual dijumpai.

Sekian, itulah pendapat saya dan beberapa teman dari jurusan bahasa Jepang mengenai suka duka menjadi mahasiswa jurusan Bahasa Jepang.

Bagi teman-teman yang berminat kuliah di jurusan Bahasa Jepang ataupun mau belajar bahasa Jepang, Jadikan kesulitan itu sebagai tantangan dan jangan menyerah!

Ganbatte kudasai!