"Sejak awal akulah yang selalu menanti. Menanti hal yang tak pasti darimu."

Surat ini adalah isi hatiku yang selama ini tak pernah bisa ku ungkapkan padamu. Atau mungkin memang tak boleh ku ungkapkan? Mungkin perasaan yang kurasa ini harus ku pendam dalam mulai detik ini. Karena ku tahu kau sama sekali tak melihat hadirku disini.

Ini kesekian kalinya aku berusaha. Berusaha untuk menghapusmu dari otakku. Tapi, apa yang ku dapatkan? Nihil.

Sejak awal kita bertemu, aku tahu Tuhan mempunyai suatu rencana antara kita. Pertemuan itu tak mungkin hanya angin lalu belaka yang begitu saja menghilang. Namun, ternyata itu bukan jawabannya. Mungkin aku yang kurang bersabar menanti jawaban dari-Nya.

Kau dan aku memang berbeda. Memang, kita sama-sama makhluk ciptaan-Nya yang tak sempurna. Tapi, dirimu tetaplah bagai bintang yang tak mungkin bisa ku gapai dengan mudah. Ya, aku hanya bisa memandangimu dari kejauhan. Menikmati tiap kerlipan cahaya indah yang kau pancarkan.

Advertisement

Sedari awal aku hanya mampu memperhatikanmu dari kejauhan. Melihatmu memulai aktivitas mengajar di kampus itu sudah biasa bagiku. Awalnya ku kira aku hanya terpesona dengan caramu berbicara. Tapi… kali ini berbeda. Ada getaran lain yang kurasakan tiap kali berpapasan denganmu di lorong kampus.

Apakah ini cinta? Semua temanku mengatakan hal yang sama. Mereka bilang, aku telah jatuh cinta padamu. Lebih dari 2 tahun aku hanya bisa menantikan senyuman dari bibirmu. Biarpun aku tak tahu untuk siapa senyuman itu, ketika melihatnya rasanya aku memiliki kekuatan untuk menjalani hari detik itu. Selama itu aku hanya bisa berharap kau melihatku. Melihat bahwa ada seseorang yang menantimu. Melihat bahwa ada seseorang yang ingin menggenggam tanganmu erat dan memberi pelukan hangat.

Sampai akhirnya kini kau bersamanya…

Bersama seseorang yang mungkin bisa membahagiakanmu dibanding aku yang hanyalah seorang pengecut yang tak mampu menyatakan apa yang kurasakan sedari dulu.

Apa yang kurasakan sekarang? Entahlah… aku pun tak pernah mengerti sepenuhnya.

Yang kutahu, aku harus tetap tersenyum apapun yang terjadi dalam hidup ini. Biarpun aku tak pernah mendapatkan senyum yang sangat ku impikan sejak awal.

Ku tahu, aku telah berusaha. Berusaha untuk melepaskan segalanya. Berusaha merelakanmu bahagia bersama yang lain.

Ini kesekian kalinya aku berusaha membersihkan ruang hati ini dari tiap keping kenangan yang kau berikan. Walaupun aku tak pernah mampu untuk membersihkannya. Atau, memang aku yang tak ingin melakukannya?

Tapi, aku tak pernah menyesal telah membiarkanmu menghiasi ruang kosong dan hampa itu. Meski hanya sebentar. Bahkan sebelum aku merasakan manisnya tiap hal yang kau bawa ke dalam ruangan itu.

Aku tak pernah menyalahkan dirimu yang hadir hanya untuk singgah sesaat di ruang kosong tak berpenghuni itu. Tidak. Aku tidak pernah menyalahkan dirimu yang sedang berkelana dalam pencarian.

Aku… Sejak awal akulah yang terlalu berharap. Terlalu memimpikan hal indah yang tak pasti. Akulah si pemilik ruang kosong yang dengan senang menerimamu waktu itu.

Aku akan tetap tersenyum…

Biarpun kau telah pergi dan menginggalkan goretan-goretan di ruangan itu begitu saja tanpa pamit. Aku akan selalu melukiskan senyum sembari berusaha mengganti goretan itu menjadi lukisan indah.

Aku akan tetap tersenyum meski itu sulit…

Dariku,

Seseorang yang masih mengagumimu…