Seringkali bila kita mendengar kata pernikahan, gambaran yang pertama kali muncul dalam pikiran kita adalah sakralnya upacara nikah dan megahnya resepsi pernikahan. Kita seringkali terlena dengan indahnya pesta pernikahan, sibuk membandingkan pesta mana yang lebih baik, gaun pengantin mana yang lebih cantik, dan lain-lain. Kita lupa bahwa pernikahan yang sesungguhnya sama sekali bukan tentang gambaran pesta pernikahan. 

Bunga-bunga yang cantik, pelaminan yang istimewa dan hidangan yang melimpah melingkupi kedua mempelai yang tampil mempesona dalam balutan jas dan gaun bak pangeran dan putri. Kemegahan pesta pernikahan mengaburkan kesadaran kita akan realita kehidupan pernikahan. Menyatukan dua pribadi yang berasal dari latar belakang dan karakter yang berbeda untuk selama-lamanya sampai akhir hayat bukanlah perkara sepele. Ada banyak variabel seperti status sosial, status pendidikan, latar belakang keluarga, budaya, agama, karakter, dll yang menjadikan penyatuan dua pribadi ini menjadi seni yang sangat dinamis dan menarik.

Saya menikah tanggal 17 Januari 2016, usia pernikahan yang baru lewat 1 tahun belum memberikan banyak pengalaman bagi saya, tetapi sudah cukup memberikan saya gesekan untuk menjadikan saya pribadi yang lebih baik. Seandainya sudah ada yang bertanya pada saya, hal tersulit apa yang saya hadapi setelah menikah, maka jawaban saya adalah berusaha menekan ego. Jangan keburu manggut-manggut dulu, saya akan jelaskan mengapa.

Saya dan suami menikah setelah berpacaran selama kurang lebih 3 tahun. Meskipun melewati beberapa kali fase LDR, masa 3 tahun pacaran kami rasa sudah cukup membuat kami mengenal satu sama lain (termasuk mengenal keluarga) dan memantapkan kami untuk naik ke jenjang pernikahan. Kami berdua sama-sama berprofesi sebagai dokter. Saat kami menikah, usia saya 28 tahun, usia suami saya 30 tahun.

Saya tumbuh di keluarga yang harmonis dan cukup demokratis. Saya adalah anak sulung dari 2 bersaudara. Saya dididik dengan nilai-nilai utama yang mendasar seperti tanggung jawab, kerja keras dan integritas.

Advertisement

Orang tua saya hampir tidak pernah melarang-larang saya melakukan sesuatu, alih-alih mereka memberikan penjelasan yang logis tentang hal yang baik dan hal yang buruk. Setelah lulus SMA saya mulai merantau berpindah-pindah ke berbagai daerah di Indonesia. Saya belajar untuk hidup mandiri, mengambil keputusan sendiri, mencari sendiri solusi untuk setiap masalah dan melakukan banyak hal lain secara mandiri. Saya terbiasa mengatasi setiap tantangan dengan cara saya. 

Saya adalah perempuan dengan jiwa yang bebas dan pikiran yang terbuka, saya senang bergaul dengan banyak orang dan senantiasa berusaha menjadikan hidup saya berwarna-warni.

Suami saya sangat memahami karakter saya dan latar belakang kehidupan saya (makanya saya nikahin!), beliau paham bahwa saya tidak suka dikekang, saya tidak suka dikuatirkan dan dimanja secara berlebihan, beliau tahu bahwa saya mengatur kehidupan saya sendiri. Sikap pengertian suami saya bukan berarti dia memiliki kepribadian yang kurang lebih sama dengan saya. Salah besar! Suami saya adalah seorang introvert, dengan pikiran lurus dan fokus, hidupnya terlihat hitam putih bagi saya. 

Selama masa pacaran, saya melihat figur suami saya sebagai sosok yang sangat tenang dan stabil, visinya jelas dan misinya sangat terfokus.

Sangat menarik karena berkebalikan dengan saya yang pecicilan layaknya kutu loncat, yang meskipun punya visi dan plan tetapi tetap berupaya belok ke kanan ke kiri lihat-lihat pemandangan sebelum sampai tujuan. Suami saya layaknya font Arial yang lurus dan jelas, kadang ditambahi underline, tanda titik atau tanda seru. Sementara saya adalah Calligraphy campur Comic Sans plus Freestyle Script warna-warni, dibubuhi stiker dan emoticon.

Satu dua bulan berlalu setelah pernikahan. Di sinilah mulai terasa apa yang sering diceritakan oleh pasangan-pasangan suami istri yang lebih berpengalaman. Hal-hal kecil mulai mengusik ego kami masing-masing. Saya gemas dengan sikapnya yang cenderung rutin dan membosankan, dia jengkel dengan saya yang sulit diatur. Saya ingin dia lebih rileks dan luwes tetapi itu bukan gayanya dan dia sudah rileks dengan caranya sendiri.

Dia ingin menerapkan aturan-aturan wajar untuk rumah tangga ini, saya menghormatinya tetapi merasa kesulitan menjalaninya. Sampai sekarang saya masih sering lupa minta ijin dengan beliau sebelum melakukan hal-hal yang cukup penting, karena saya tidak terbiasa minta ijin, saya sering berakhir dengan hanya memberitahu pada beliau apa yang sudah saya lakukan.

Setelah saya potong rambut jadi pendek atau mengkriting rambut saya, saya kaget karena ternyata suami saya kurang menyukai saya berambut pendek atau keriting, katanya kurang cocok. Saya baru tahu kalau untuk potong rambut saja saya harus tanya pendapat dia! Yah tidak harus juga sebenarnya, tetapi mungkin rasanya lebih nyaman bagi dia bila paling tidak saya bertanya terlebih dahulu (gitu kan Yang?). Tetapi seperti kata pepatah: lebih baik minta maaf daripada minta ijin.

Kondisi finansial, domisili yang berjauhan dan situasi hidup yang berbeda menjadikan proses adaptasi ini menjadi lebih sulit. Beruntung kami memiliki orang tua yang tidak ikut campur dalam urusan rumah tangga kami sehingga tidak banyak air yang menjadi keruh. Tetapi inilah serba serbi fase-fase awal kehidupan pernikahan. Di tahun-tahun berikutnya kami akan menghadapi tantangan yang berbeda lagi dan jawaban saya untuk pertanyaan di atas akan berubah lagi. Semuanya harus dijalani dengan bahagia, one step at a time, menuju masa depan bersama yang sudah ditakdirkan Tuhan.

Semangat bagi pasangan-pasangan muda di jagad raya ya!!