Beberapa waktu yang lalu, saat sedang mengobrol dengan seorang teman tentang gadget, ia mengeluhkan sejak ada gadget / smartphone, waktunya habis untuk melakukan aktivitas online atau virtual. Macam-macam yang dikeluhkan. Ia mengaku keranjingan dengan media sosial terutama twitter. Belum lagi media-media chatting yang memungkinkan kita ngobrol dengan teman-teman.

Terkadang update informasi terbaru pun dilakukan melalui bantuan internet.

Teman saya itu pernah mencoba hidup seminggu tanpa twitter. Hanya demi ingin mengurangi kebiasaannya ber-twitter. Dan juga ingin mencoba sampai sejauh mana ia bisa melepaskan diri dari media tersebut. Seminggu pun bisa dilalui dengan selamat. Tapi apa daya. Saat waktu untuk menyepi itu mulai habis, ia kembali ber-twitter ria dan kecanduan lagi.

Mendengar cerita teman saya ini, saya jadi teringat anak saya dirumah. Gegara teman-temannya ia jadi tertarik menonton drama turki untuk anak-anak di siang hari. Dirumah saya, kebiasaan nonton televisi sangat kurang sekali. Saya menganggap acara-acara yang disodorkan stasiun televisi masih belum ramah anak. Masih banyak adegan kekerasan, ketidaksopanan atau miskin etika, miskin pesan moral, dan sangat didramatisir. Jadilah secara tidak langsung saya mengajak anak untuk tidak banyak mengkonsumsi tayangan televisi. Awalnya mereka banyak bertanya ini itu tentang mengapa saya tidak suka tayangan-tayangan seperti sinetron, dsb. Lama-lama mereka mengerti dan terbiasa untuk tidak banyak melakukan aktivitas didepan tivi. Tapi saat anak saya yang pertama mulai tertarik pada drama turki, saya mulai bersiap-siap. Harus diakui saya pun melakukan trial and error.

Awalnya saya memperbolehkan ia menonton dengan catatan tidak terlalu sering. Muncul juga semacam excuse pada diri saya sendiri, supaya anak saya bisa ‘gaul’ dengan teman-temannya. Namun dalam prakteknya, dalam seminggu ia bisa menonton lebih sering daripada harapan saya sebelumnya. Muncul hal lain misalnya ia menolak untuk diajak pergi saat jam tayang tersebut karena tidak ingin ketinggalan jalan cerita tersebut. Hal yang lain lagi adalah ia mulai marah saat tidak bisa menonton tayangan tersebut. Saya menengarai bahwa ini indikator anak saya mulai kecanduan di tingkat awal.

Advertisement

Hal yang saya lakukan kemudian adalah dengan tegas mengurangi jam tonton dari yang biasa dilakukan. Saya berpikir, sebelum ia mulai kecanduan di tingkat yang lebih parah. Namun demikian saya juga memberikan pengertian tentang kebiasaan yang bisa mengarah pada kecanduan. Pelan-pelan ia mulai melepaskan diri dari ketergantungannya menonton tayangan tersebut.

Saya memberikan tayangan alternatif untuknya, misalnya film-film kartun berdurasi pendek. Ia sempat bertanya, mengapa saya menganjurkan tayangan-tayangan berdurasi pendek. Ya, karena tayangan durasi pendek akan memiliki alur cerita yang lebih jelas, pesan yang disampaikan lebih jelas, tidak terlalu mendramatisir ceritanya, dan tidak membuat ketergantungan harus menonton esok harinya. Saat ini ia sudah lebih fleksibel. Sesekali menonton tanpa menimbulkan kecanduan.

Jangankan anak kecil. Orang dewasa pun seringkali tanpa kita sadari juga terjebak pada sebuah kebiasaan yang mengasyikkan sehingga cenderung merugikan dan membuat kecanduan. Misalnya, ketergantungan pada gadget. Saya sendiri harus diakui pernah mengalami kecanduan pada media chatting. Sampai saya harus menonaktifkan aplikasi tersebut untuk menjajal sejauh mana mental saya beradaptasi tanpa adanya aktivitas tersebut. Kecanduan akan dianggap ‘berbahaya’ bagi mental kita apabila sampai mempengaruhi rasa kita. Misalnya, rasa gelisah atau marah saat tidak bisa mengakses,

rasa tidak percaya diri berkomunikasi di dunia nyata dan lebih nyaman berkomunikasi melalui dunia virtual, dsb.

Kecanduan bisa bermacam-macam bentuknya. Jangan mengira kata kecanduan hanya berlaku pada pengguna obat-obatan terlarang. Bagaimanapun efek yang ditimbulkan adalah sama berbahayanya bagi kehidupan kita. Kita menjadi terseret dalam pusaran ketergantungan yang sulit untuk dilepaskan. Bagian inilah yang harus diantisipasi sejak awal. Apapun itu sesuatu yang membuat kecanduan.

Beberapa hal yang bisa kita antisipasi sejak awal sebelum kecanduan tersebut berada dalam level yang lebih tinggi adalah : ada beberapa indikator atau perubahan yang bisa dilihat pada diri orang yang kecanduan, misalnya :

Aktivitas tersebut mulai menyita waktu kita dan kita menjadi cenderung abai dengan situasi real pada saat itu. Misalnya, jam-jam belajar anak tapi kita memilih untuk terpukau pada tayangan sinetron demi untuk mengikuti jalan ceritanya. Atau chatting saat jam kerja.

Perasaan kita mulai terpengaruh apabila tidak bisa mengakses aktivitas tersebut, misalnya gelisah, tidak nyaman, bisa jadi marah, tidak percaya diri, dsb.

Apabila sudah melihat indikator tersebut, saatnya bertindak sebelum tingkat kecanduan berubah menjadi lebih parah. Pertama, segera sadari bahwa anda sudah mulai terpengaruh dengan aktivitas tersebut. Mengurangi akses terhadap aktivitas tersebut secara pelan-pelan. Tapi adakalanya tidak berhasil. Akses harus benar-benar ditutup. Anda akan mengalami sakau seperti para pecandu narkoba. Merasa bingung kehilangan aktivitas tersebut, tidak tahu harus bagaimana, gelisah, marah, dan sebagainya. Tapi manusia pada dasarnya adalah makhluk yang gampang menyesuaikan diri. Ia akan belajar untuk beradaptasi. Setelah beberapa waktu tanpa akses tersebut, ketergantungan akan berkurang. Pastikan akses bisa dibuka setelah kondisi perasaan benar-benar yakin bisa dikendalikan.

Saat bisa mengakses kembali, pastikan bahwa anda tetap berjuang untuk tidak terlalu terpengaruh pada aktivitas tersebut. Segala sesuatu yang berlebihan itu pastilah buruk.

Tapi sesuatu yang digunakan sesuai porsi dan tempatnya insyaalloh akan mendatangkan manfaat bagi pengguna maupun orang lain.