Kali pertama aku melihatmu, aku memang sudah menyukaimu. Namun, kala itu aku hanya seorang anak SMP yang hanya bisa memendam rasa sukaku. Aku sering mendengar cerita tentangmu dan kekasihmu dari kakak sepupuku yang juga satu SMA denganmu. Yang kutahu darinya, kamu adalah seorang remaja yang hidup mandiri tanpa orang tua. “Kamu pria hebat.”

Menerimamu hanyalah sebuah tindakan coba-coba

Hingga detik ini, aku masih tidak percaya jika aku sudah pernah memilikimu. Berawal dari sapaanmu di media sosial Facebook. Aku pikir, waktu itu aku sudah mengenalmu, hanya saja aku sudah lama tidak mendengar kabarmu semenjak kelulusan kalian, jadi aku rasa tak salah bila aku menjawab sapaanmu, hingga akhirnya kita menjadi lebih dekat, dan dirimu mengungkapkan perasaanmu padaku.

“Dan jika akhirnya aku mau menerimamu menjadi kekasihku, itu hanya tindakan coba-cobaku. Aku menyadari bahwa perasaanku ini hanya sebatas rasa suka.”

Aku merasa gagal, aku bukan Pacar yang baik untukmu

Advertisement

Kamu adalah pria pertama yang berhasil menyandang status pacar pertamaku. Ya, aku belum pernah menjalin hubungan serius dengan pria manapun. Selain karena belum mendapat lampu hijau dari kedua orangtuaku, aku memang tidak ingin memiliki pacar selama masih berstatus pelajar dulu.

Maklumlah bila aku belum terlalu tahu bagaimana caranya memperlakukanmu. Tak sepertimu yang sudah berkali-kali berganti pasangan, pastilah kamu lebih tahu bagaimana cara menjalani sebuah hubungan. Sejak awal hingga bulan ke delapan hubungan kita, aku memang tidak pandai mencari tahu tentang dirimu. Hingga akhirnya dirimu mengatakan bahwa hubungan kita membosankan, hanya seperti teman SMS yang menanyakan kabar, sudah makan atau belum, dan bertemu hanya disetiap hari sabtu. Aku tidak tahu harus bagaimana, aku merasa gagal, aku bukan pacar yang baik untukmu.

“Maaf jika selama ini aku belum bisa menjadi seperti yang kamu inginkan. Aku sudah memikirkannya baik-baik dan aku rasa lebih baik kita putus. Kamu berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dariku.”

Kesalahan fatal yang kamu lakukan mengahancurkan hatiku

Permintaanku untuk menyudahi hubungan kita membuatmu menyuruhku untuk berpikir ulang tentang keputusanku. Setelah bersama-sama membicarakannya dengan baik, akhirnya kita memutuskan untuk break. Selama proses istirahat ini kita memutuskan untuk sama-sama instropeksi diri. Permintaanmu untuk mencari informasi apa saja tentang dirimu membawaku pada seorang temanmu.

Awalnya aku hanya ingin bertanya informasi ini itu tentang dirimu, tapi ternyata aku mendapatkan bonus informasi yang sebenarnya tak ingin aku dengar. Kesalahanmu sangat fatal, ini bukan perselingkuhan, tapi entahlah, aku tak tahu harus menyebutnya apa.

“Baru satu hari kita menyudahi hubungan kita untuk sementara, tapi kamu sudah melakukan tindakan bodoh yang tidak hanya melukai hatiku tapi juga menghancurkannya.”

Aku memafkan kesalahanmu, meskipun luka dihati tetap menganga

Setelah meminta maaf dan menjelaskan bahwa semua yang terjadi tidak seperti yang aku bayangkan, dirimu mengajakku untuk kembali bersama. “Ingin memperbaiki semua kesalahan dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi” jelasmu.

Tak adil rasanya jika aku tidak memaafkanmu. Bukankah Tuhan itu pemaaf? Bukankah selalu ada kesempatan untuk memperbaiki setiap kesalahan yang kita perbuat? Lantas bila Tuhan itu pemaaf, pantaskah aku untuk tidak memberi maaf kepadamu?

“Aku telah memaafkanmu, aku juga mau menerimamu kembali, meskipun luka dihatiku masih menganga. Menurutku semua masalah ini ada untuk mendewasakan kita.”

Semakin hari, aku semakin mencintaimu

Semenjak masalah itu, hubungan kita memang semakin dekat, bahkan aku menjadi sering berterimakasih pada Tuhan atas masalah yang Ia izinkan hadir dalam hubungan kita. Mungkin tanpa masalah itu kita tidak pernah bisa sedekat ini. Tanpa masalah itu, aku tidak pernah menyadari bahwa perasaanku tak sekedar rasa suka.

Proses menuju kedekatan yang sangat menyakitkan membuatku semakin takut kehilanganmu. Sangat sulit untuk mengenalmu sejauh ini, siapa dirimu sebenarnya, bagaimana background keluargamu, bahkan hanya ingin menjadi pendengar setiap keluh kesahmu seperti sekarangpun sangat sulit. Hingga akhirnya aku berhasil, dan setiap prosesnya membuatku semakin mencintaimu.

“Kamu bukan seorang pria yang romantis, bukan juga seorang pria humoris, kamu adalah pria yang dingin, dan cuek, tapi aku tetap cinta.

Aku sudah berusaha berjuang, namun gagal

Hari itu hubungan kita hampir genap dua tahun. Ya, tepat ditanggal hari jadi kita, hubungan kita harus berakhir. Janjimu untuk tidak mengulangi kesalahanmu itu palsu. Nyatanya dirimu kembali menggores luka di tempat yang sama dihatiku.

Hubungan kita berakhir dengan baik-baik. Mungkin ini yang dinamakan “perpisahan terindah”. Kesan dan pesan ikut membumbui perpisahan kita. Aku berusaha tegar, tak ingin ada tetes air mata di pipiku namun gagal. Ah, pantas saja gagal, dirimu yang memulai tangis itu hingga air mataku ikut menetes.

Meskipun dirimu yang menginginkan perpisahan ini tapi dirimu jugalah yang memintaku untuk tetap menunggumu karena kamu akan kembali. Aku sempat menunggumu, namun akhirnya aku menyerah. Aku tidak bisa menunggu pria yang mengaku mencintaiku namun dengan sengaja melukaiku. Melepasmu dengan ikhlas adalah cara terbaik untuk mengurangi lukaku semakin melebar.

“Setidaknya aku sudah berjuang untuk mempertahankanmu, mengabaikan semua lukaku, semua kesalahanmu dan semua kekuranganmu, meskipun akhirnya aku tetap gagal.”

Aku tidak pernah menyalahkanmu atas semua kesalahanmu yang telah menyakitiku

Semua kesalahanmu memang telah menggoreskan luka dihatiku. Kamu adalah pria pertama yang berhasil mengisi hari-hariku dan pria pertama pula yang berhasil melukaiku.

“Namun percayalah, aku tidak pernah menyalahkanmu atas semua kesalahanmu yang telah menyakitiku. Aku tidak akan pernah menjadi pribadi yang lebih baik seperti sekarang tanpa luka yang kamu ciptakan.”

Untukmu Pria yang telah berkali-kali menyakitiku, namun tetap kucinta

Terimakasih atas semua pelajaran berharga yang telah kamu berikan untukku. Terimakasih, melalui dirimu Tuhan menjadikanku pribadi yang lebih dewasa. Aku belajar untuk bersyukur, belajar bersabar, belajar untuk tidak mencaci maki orang yang menjadi partner mu menyakitiku.

Terimakasih atas dua tahun yang sangat berharga. Aku tahu keinginanku untuk menjadikanmu pacar pertama dan terakhirku terlalu keras, aku telah sadar bahwa aku terlalu memaksakan kehendakku. Terimakasih selalu menjagaku, juga menghargai aku dan tubuhku. Terimakasih untuk cintamu yang sempat aku rasakan bahkan masih aku rasakan hingga sekarang. Terimakasih telah menepati janjimu untuk kembali, juga usahamu untuk memperbaiki semua.

“Untukmu pria yang telah berkali-kali menyakitiku, namun tetap kucinta, bukannya aku tak ingin menerimamu kembali. Aku hanya tak mampu mengumpulkan kepingan kepercayaan yang ikut hancur seiring dengan kepergianmu dulu. Cinta saja tak cukup kuat untuk membangun sebuah hubungan, tanpa kepercayaan pondasinya akan rapuh bahkan runtuh.”