Aku mengingatnya, 5 tahun yang lalu kita pertama bertemu. Kau tersenyum dengan semua kehangatanmu. Perkenalan yang tak terduga mengubah alur cerita. Pertengkaran itu menjadi kenangan Ketika 1 tahun setelah itu kita sudah terbiasa dengan keadaan dan sifat masing-masing, ya aku dan kamu. Kita sudah tahu apa dan bagaimana sifat kita. Bahkan setiap pertemuan yang selalu aku harapkan tak jarang menjadi pertengkaran, menjadi perdebatan yang tak pernah kita tahu kapan ujungnya. Namun sekarang pertengkaran itu adalah satu hal yang aku rindukan. Satu kenangan yang mendarah daging diingatan. Entah kapan lagi bisa kuulang, yang jelas aku mengharapkanmu datang walau dengan pertengkaran. Kau mengajarkanmu sedikit hal, namun itu merubah segalanya. Ucapanmu yang selalu aku ingat

Ketidakpedulianmu akan menjadi satu hal yang selalu aku sesali, pedulilah pada dirimu sendiri. Belajarlah dari orang yang ada didepanmu.

Meskipun awalnya aku tak mengerti maksudmu itu, seiring berjalannya kebersamaan kita akhirnya aku tahu. Maksudmu adalah agar aku bisa meningkatkan kualitas diri untuk bisa bersanding denganmu, walaupun kita berdua tidak tahu kapan saatnya akan tiba. Terimakasih untuk hal terbaik yang membuatku kini mampu untuk merubah segalanya. Lihatlah kini aku berbeda, aku kini telah siap dan pantas untuk bersanding denganmu. Tidakkah kau ingin kembali kesisiku? Aku yang kan membawamu pada mimpi yang kita rangkai dulu. Aku ingin menunjukkan padamu bahwa mimpi yang disebut kebahagiaan itu bisa menjadi nyata. Lalu, kenapa perpisahan yang menjadi titik akhir? 2 tahun yang lalu, setelah perpisahan itu, aku masih mengingatnya. Kata terakhir yang takkan pernah padam didalam benakku.

Jika nanti sudah tiba saatnya, ketika kita sudah pantas dan Allah mengizinkan, disaat itu aku berharap kamu menjemputku.

Waktu demi waktu aku berjuang. Hanya dengan keyakinanku bahwa kelak kita akan bersama. Aku pergi kemanapun dengan apa yang telah aku pelajari. Selusin bulan datang dan pergi, seperti itu seterusnya. Sampai tiba hari dimana aku merasa hancur. Hari dimana Tuhan membawamu terbang. Berita tentangmu yang sama sekali tidak ingin kudengar. Aku merasa hancur dan lemah. Terkadang aku ingin menyalahkan Tuhan, tapi aku tak punya kuasa. Hanya ikhlas berbalut kesedihan yang bisa kulakukan diatas peristirahatanmu. Kini lama setelah kamu pergi, aku telah bertemu wanita lain yang aku harap dipilih dan disiapkan Tuhan. Kami bedua masih berjuang memantaskan diri, menunggu Tuhan menakdirkan kami bersanding. Namun melupakanmu adalah sesuatu yang tidak mungkin aku lakukan. Bagaimanapun keadaan kita sekarang, tak peduli seberapa jauh dunia kita berbeda, kamu akan tetap hidup sebagai kenangan.