Di masa sekarang, traveling hampir gak bisa dipisahkan dengan kegiatan mengabadikan momen yang dilalui lewat sebuah foto. Foto adalah salah satu bukti sahih bahwa kita udah menjelajah suatu tempat. Selain itu, foto juga menjadi oleh-oleh yang oke buat orang-orang terkasih yang gak ikut pergi.

Tapi, fotomu akan terasa biasa aja kalau kamu sekadar mencomot lewat angle yang mainstream. Gak ada bedanya dengan gambar-gambar pemandangan di Google, ‘kan? Bahkan bisa saja mirip dengan foto yang bisa kamu temui di kartu pos. Demi foto traveling yang ikonik dan istimewa, dan bernyawa 9 trik dari Hipwee ini layak kamu coba.

1. Masukkan papan petunjuk berbahasa lokal dalam frame jepretanmu. Biarkan orang tahu destinasimu tanpa perlu berkoar-koar dengan location tag atau check in yang sering mengganggu

Papan nama jalan Malioboro via www.flickr.com

Sebagai manusia urban yang urutan laporan wajib kegiatannya harus ditujukan pada:

  1. Path
  2. Facebook
  3. Twitter
  4. Instagram
  5. Foursquare
  6. Pacar
  7. Orangtua
Advertisement

check in atau tag lokasi di berbagai jejaring sosial sering kita lakoni. Kalau sekali dua kali sih gak papa, tapi kalau ganti tempat langsung check in dan ganti lokasi ya followers lama-lama pasti sebal juga. Demi jadi pengguna media sosial yang menyenangkan akali “laporan wajib” ini dengan gambar yang menunjukkan destinasimu, tanpa perlu berkoar-koar membuat orang lain jengah.

Ingin menunjukkan kalau kamu sedang traveling ke Jogja tanpa harus bilang “Paulus is at Malioboro” — unggah saja papan petunjuk khas Jalan Malioboro yang terdiri dari Aksara Jawa dan alfabet biasa. Merasa terlalu mainstream? Coba unggah gambar Pasar Beringharjo atau deretan ibu-ibu penjual pecel yang berjualan di depan pasar.

Bukankah sesuatu yang tersirat akan lebih indah dibanding sesuatu yang diungkapkan tanpa seni? Hukum ini juga berlaku bagi foto yang akan kamu bagi.

2. Pasang badan untuk mengabadikan kegiatan dan senyum warga lokal. Memori macam ini akan tetap indah dikenang, tak akan terpental

Ekspresi yang bercerita. via www.flickr.com

Seringkah kamu membuka folder lama foto traveling dan mendapati dirimu termenung dalam keadaan emosi yang datar? Jika ini yang terjadi, tandanya kamu kurang meniupkan jiwa dalam foto-fotomu. Tak ada bedanya foto yang sudah kamu ambil dengan susah payah itu dengan kartu pos atau foto hasil search di Google.

Bagaimana cara untuk membuat foto memento traveling yang bernyawa? Tentunya dengan memasukkan mereka yang memiliki nyawa dalam frame-nya. Waktu kamu mengabadikan pendakian ke Rinjani, misalnya. Jangan cuma sibuk foto lanskap curamnya Bukit Penyesalan saja — jepret juga kesibukan pendaki yang sedang membongkar keril untuk mengambil roti. Atau mereka yang sedang mengelap peluh dengan ujung lengannya.

Waktu traveling ke Bali bebaskan otakmu untuk mengambil gambar lebih dari sekadar Pura dan indahnya garis pantai. Pasang badan pada keajaiban momen yang bisa datang kapan saja: gadis Bali yang sedang berjalan ke pura membawa persembahan, 2 anak kecil di seberang hotel yang sedang berebut mengayuh sepeda. Kenangan dari gambar macam ini akan kembali mengalir ke pembuluh darahmu saat foto itu kau buka lagi nanti.

3. Cobalah jadi pendongeng lewat kamera. Abadikan beberapa frame secara utuh hingga membentuk sebuah cerita

Membuat serangkaian foto yang runtut via www.flickr.com

Mengambil sejumlah frame secara runut juga sanggup membuat cerita dalam foto-fotomu terasa utuh. Kamu bisa memulai dari sudut lebar sebuah pasar tradisional, lalu mendekat dan mengambil beberapa gambar close-up barang-barang yang dijajakan, orang-orang yang bertransaksi, bocah-bocah setempat yang sedang bermain, sampai bapak tua yang mengisap tembakaunya.

Yang jelas, foto-foto ini bakal bikin albummu lebih unik dan mengesankan. Mereka yang gak mengalaminya langsung pun bisa menyelam dalam suasana yang kamu tangkap lewat lensamu.

4. Jangan sekadar narsis di landmark dengan pose yang itu-itu saja. Ambil foto candid teman seperjalanan yang nantinya bisa jadi bahan candaan

Foto candid via octaadhiana.blogspot.com

Tentu boleh banget narsis di depan sebuah landmark yang kamu kunjungi saat traveling. Tapi, kalau posemu gitu-gitu aja, fotomu bakal terlihat monoton dan membosankan. Alih-alih berfoto dengan pose yang sama melulu, cobalah mengeksplorasi sudut lain lewat pose yang candid. 

Kamu bisa mengambil foto teman perjalananmu yang lagi mengobrol dengan warga lokal, nawar harga ke penjual souvenir, ngupil sembunyi-sembunyi, bahkan ketiduran. Foto-foto inilah yang bakal bikin kamu tersenyum setiap kali melihatnya kembali. Dan juga bisa jadi bahan candaan saat kalian sudah kembali ke rutinitas sehari-hari.

5. Iya, Hipwee tahu kamu suka selfie. Bring your selfie to the next level dengan 2 cara ini:

a. Feet selfie, karena pamer selfie yang kelihatan mukanya sudah terlalu biasa

Feet selfie yang anti mainstream via www.missstrangelove.com

Supaya foto-fotomu lebih bernyawa, abadikan semua indera yang merasakan perjalanan itu di dalamnya. Kalau mau selfie, kenapa harus terus-terusan mengarahkan kamera ke muka? Sesekali coba ubah sudut pandang selfie-mu dengan mengarahkan penangkap gambar itu ke kaki.

Bikin serial feet selfie sepanjang perjalanan. Abadikan pantulan landmark yang terlihat dari genangan air dengan mengarahkan kamera ke arah sepatumu. Atau saat long term traveling ke luar negeri yang membuatmu merasakan keempat musimnya coba abadikan perubahan musim itu dari sudut pandang mata kaki.

Unggah serial ini ke media sosial, dan dapatkan atensi yang berasa lebih nyeni dan classy.

b. Selfie-ception pakai tongsis. Demi kenangan bahwa ternyata kamu sempat super narsis

Selfieception with tongsis via www.missstrangelove.com

Yeah, hampir semua orang juga sepakat kalau tongsis adalah primadona baru dalam dunia per-selfie-an. Demi memberikan penghargaan pada inovasi yang menyuburkan level narsis kita ini, kenapa tidak membawanya dalam selfie-mu?

Ambil foto pakai tongsis, kemudian minta teman seperjalanan untuk menjepret gambar kalian lewat kamera digitalnya. Selfieception dengan tongsis ini akan mengingatkan bahwa dulu kamu pernah senarsis itu…

6. Gambar yang kamu ambil boleh sama, tapi kreativitas mengambil sudut pandang akan membuatmu jadi juara!

Sudut lain Candi Prambanan. via www.flickr.com

Saat mengunjungi sebuah landmark seperti Candi Prambanan, jangan cuma meniru sudut yang mainstream—sudut-sudut yang mudah kamu temukan di Google Image. Gak usah ragu untuk mencoba perspektif baru, siapa tahu kamu justru menemukan sudut yang menjadikan fotomu unik dan kreatif.

Cobalah mendekat dan mengambil detil arsitektur atau pola berulang yang menarik diabadikan. Puas mengambil dari jarak dekat, ganti lensa ke wide lens atau fish eye demi sudut pandang yang berbeda. Kamu pasti bakal menuai pujian deh!

7. Demi foodselfie yang sempurna, komposisi dan kesabaran adalah kunci utama

Foto-foto sebelum makan. via jogjarasa.com

Foto-foto sebelum makan itu gak haram, kok. Kamu malah bisa melatih kemampuan food photography-mu. Matikan flash-mu dan pilih tempat di dekat jendela yang kaya dengan cahaya alami, lalu bingkailah makanan lokal yang kamu pesan.

Perhatikan juga komposisi gambar yang hendak kamu ciptakan. Jangan cuma foto piringnya saja, sertakan potongan taplak meja plastik yang jadi ciri khas warung itu. Atau minuman segar yang berwarna indah karena dibuat dari campuran cendol dan gula merah.Tapi, jangan terlalu asyik mengambil foto sampai-sampai makanannya jadi dingin, ya.

8. Agar tetap bisa menikmati momen dalam perjalanan perlakukan kegiatan foto-fotomu seperti skripsi. Tetapkan tema yang harus ditepati setiap hari

Tentukan satu atau dua tema via mycamerajournal.wordpress.com

Saat traveling, kamu mungkin terbiasa mengambil foto sebanyak mungkin saat mengunjungi suatu tempat. Iya, sih, toh kamu belum tentu mampir ke sana lagi. Tapi, kadang kamu justru terlalu sibuk mengambil gambar sampai lupa menikmati suasana yang ada, padahal itulah yang terpenting dari sebuah perjalanan.

Setiap harinya, cukup pilih satu atau dua tema foto yang akan kamu bingkai. Ini akan membantumu tetap fokus, sehingga kamu gak akan merasa kerepotan karena harus menangkap begitu banyak momen dalam satu hari. Tentu saja, kamu bebas mengubah arah temamu, terutama ketika kamu menemukan sesuatu yang lebih menarik.

Traveling akan membawamu pada hal dan tempat baru, tentunya mustahil menangkap semuanya dalam satu waktu. Alih-alih, buatlah rencana dengan mengambil tema agar foto-fotomu gak berakhir membosankan.

9. Cukup bawa 1-2 lensa selama perjalanan. Kesederhanaan barang bawaan membuatmu harus mengambil foto dengan menggunakan perasaan

Jadilah minimalis via www.magic4walls.com

Kamu yang menyukai fotografi mungkin mengoleksi berbagai macam lensa untuk kameramu. Tapi, sebaiknya simpan dulu koleksi lensamu di rumah saat traveling. Bawa satu kamera dengan satu lensa aja karena momen-meomen sempurna bisa aja terlewat saat kamu tengah mengganti lensa.

Selain itu, mengganti lensa di tempat terbuka juga membuat sensor kameramu riskan terkena debu. Lagipula, perjalananmu gak bakal menarik jika punggungmu pegal gara-gara membawa peralatan memotret terlalu banyak, ‘kan?

Dengan tips di atas, semoga kamu bisa membawa pulang foto-foto menakjubkan yang sanggup bercerita tentang perjalananmu. Tapi, jaangan keasyikan mengambil foto, nikmati juga setiap momen yang kamu lewati saat traveling!