Belum lama ini, Google telah dikabarkan menambah lokasi wisata di Indonesia untuk fitur Google Arts & Culture aplikasi yang mampu mengajak kita merasakan pengalaman jalan-jalan secara virtual. Setelah tahun lalu telah bekerjasama dengan Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Ratu Boko, dan Museum Nasional, kini perusahaan teknologi tenar asal Amerika Serikat tersebut menggaet museum yang telah diakui UNESCO, Museum Purbakala Sangiran.

Namun yang bakal Hipwee Travel bagi kali ini bukanlah soal review aplikasi Google tersebut, melainkan pengalaman berwisata ke Museum Purbakala Sangiran. Bisa dibilang museum tersebut sebagai salah satu museum paling keren di Indonesia. Kami merasakan benar-benar dibawa ke masa lalu lewat suasana Sangiran, mulai dari gerbang desa sampai hal remeh-temeh di dalam museum.

Buat kamu yang asing dengan nama Sangiran. Nggak susah kok untuk bisa ke sana. Cuma sekitar setengah jam dari Kota Solo…

Nggak susah kok nyarinya via hipwee.com

Buat kamu yang mau ke Museum Purbakala Sangiran, sebenarnya tak sulit untuk menemukan kawasan purbakala tersebut. Hanya saja Hipwee Travel menyarankan kamu buat menggunakan kendaraan pribadi ke Sangiran.

Sangiran merupakan sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Sragen. Andai kamu berasal dari Solo, kamu tinggal menuju arah utara, lalu jadikan Jalan Raya Solo-Purwodadi. Dan buat kamu yang berasal dari sebelah utara Sragen, seperti Purwodadi. Kamu bisa menuju arah selatan, dan sekali lagi, menjadikan Jalan Raya Solo-Purwodadi sebagai patokan.

Advertisement

Sepanjang perjalanan, kamu akan disuguhi ladang-ladang pertanian dan perkebunan yang menghiasi. Tenang, nggak ada gedung-gedung tinggi. Pokoknya matamu akan dibikin segar lewat pemandangan lingkungan alami dan asri.

Tiba di kawasan Sangiran, gapura besar berbentuk artefak bakal menyambutmu. Dua replika artefak berdiri dengan megah. Namun jangan senang dulu, gapura tersebut masih cukup jauh. Namun, gapura itu baru awal. Untuk mencapai museum utama, kamu masih harus menempuh jarak sekitar 4 km lagi. Sepanjang jalan menuju museum, baliho-baliho yang keren soal zaman purba menambah suasana masa lalu makin terasa. Kamu seperti ke ruang waktu.

Melimpahnya kekayaan nggak hanya bikin Sangiran jadi laboratorium alam, tapi juga membuat PBB mengakui keberadaannya sebagai warisan dunia

Halaman depan museum via hipwee.com

Sangiran adalah kawasan situs prasejarah yang kaya dengan fosil peradaban purba. Setelah ditemukan pada akhir abad 19 oleh Eugene Dubois, Sangiran kini jadi sebuah laboratorium alam yang menunjukan berbagai lapisan tanah dan memperlihatkan interaksi kehidupan manusia dengan lingkungannya.

Tiba di depan museum, Hipwee Travel disambut patung manusia purba. Untuk bisa menikmati dan menjelajah masa lalu di museum tersebut, kamu nggak harus mengeluarkan duit lebih dari Rp 10.000. Menurut salah satu petugas, Drs. Budhy Sancoyo, M.A, hampir 50% penemuan manusia purba di seluruh dunia ditemukan di Sangiran. Kurang lebih ada 120 individu tengkorak. Nggak heran kalau PBB lewat UNESCO mengakui museum tersebut menjadi warisan dunia.

“Di sini memang banyak menyimpan potensi ilmu pengetahuan yang luar biasa yang bisa untuk dikaji, sebagai kajian evolusi manusia. Karena tidak hanya binatang yang berevolusi tetapi manusia juga dapat berevolusi,” tutur Budhy.

Setelah sempat berbincang-bincang dengan Pak Budhy, Hipwee Travel langsung bergegas masuk ke dalam museum. Ada yang unik di museum ini. Museum membuat petunjuk jalan secara rapi, sehingga nggak ada bagian dalam museum yang bisa luput dari perhatian pengunjung. Kami tak bisa sembarangan loncat-loncat ruang pamer. Harus rapi dan urut.

Masuk ke ruang pamer pertama, kamu bakal menemukan beragam fosil binatang yang ditemukan di Sangiran dan sekitarnya. Rapinya penataan barang temuan bikin kita betah di sana

Keren ‘kan? via hipwee.com

Museum Purbakala Sangiran memiliki banyak ruang pamer. Kami yang sudah penasaran langsung masuk ke ruang pamer pertama. Suasana purbakala sangat kental di dalam sana. Kami disuguhi berbagai informasi tentang evolusi kehidupan. Beberapa fosil yang dipamerkan di antaranya; fosil gading gajah, tengkorak gajah purba, tengkorak manusia, buaya, kepala kerbau, kepala banteng, badak, harimau, babi, kura-kura, kerang serta kuda sungai purba. Beragam fosil tersebut ditata rapi dan ditempatkan dalam diorama.

Selain itu, dalam ruang ini juga terdapat diorama kehidupan Homo Erectus di Sangiran, vitrin dan panel teknik pembuatan serta penggunaan alat batu. Pada ruang ini pula kamu bisa mengetahui alasan kenapa Sangiran mendapatkan pengakuan dari UNESCO. Kamu yang punya ketertarikan dengan sesuatu yang berbau masa lalu (bukan mantan tapi ya) bakal diobati dahaganya di sini.

Di samping diorama barang temuan, kamu pun bisa menikmati ruang-audio visual di sekitar ruang pamer kedua. Jadi lebih asik buat lama-lama di sana

Wajib main ke sini sih via hipwee.com

Tulisan ‘Langkah-langkah Kemanusiaan’ kemudian menyambut kamu di ruang pamer kedua. Di ruang ini, kamu juga bisa menikmati ruang audio-visual, seperti bioskop. Di sana kamu bakal disuguhi banyak informasi berupa animasi. Ada penjelasan tentang sistem tata surya, pengenalan planet bumi, evolusi makhluk hidup, sejarah dan tokoh teori evolusi, proses migrasi manusia, penemuan jejak evolusi manusia, perintis Museum Sangiran, sejarah geologi kepulauan Nusantara, hadirnya manusia purba Homo erectus pertama kali di Indonesia, sebaran situs dan evolusi mereka di Indonesia selama 1 juta tahun, muncul Homo sapiens Sang Manusia Modern, hingga kegiatan penelitian ekskavasi.

Selain itu, di ruang pamer kedua, kamu akan dijelaskan sejarah situs Sangiran. Kalau di ruang pamer pertama kita hanya dikasih tahu alasan pengakuan UNESCO, maka di ruang pamer kedua kita diajak mengetahui proses penemuan situs purbakala Sangiran dari pertama sampai sekarang. Pokoknya di ruang ini kamu bisa merasakan diajak jalan-jalan ke masa lalu.

Ruang pamer ketiga jadi ruangan terakhir di Museum Purbakala Sangiran. Temukan gambaran situasi mengagumkan bagaimana manusia hidup 500.000 tahun lalu

Epik ‘kan? via hipwee.com

Kamu akan disuguhi diorama raksasa dengan diameter 24 meter dan tinggi 12 meter. Hipwee Travel dibuat kagum dengan penyajian yang menggambarkan situasi Situs Sangiran pada zaman keemasannya — sekitar 500.000 tahun lalu.

Di sebuah ruang kecil, sebuah manekin rekontruksi Homo erectus S17 dan Homo florensiensis yang canggih menunggu untuk dikunjungi. Manekin buatan seorang paleoartis, Elisabeth Daynes, tersebut mirip sekali seperti asli dan tampak alami. Buat kamu yang penakut, tenang saja, itu cuma manekin kok. Nggak ada nyawanya.

Sebagai sebuah museum modern, diorama-diorama merupakan model utama penyajian. Museum juga dilengkapi dengan touch screen dan film-film pendek yang memberikan informasi lebih pada sebuah obyek yang dipamerkan. Tiap ruangan di museum sangat nyaman karena sejuk ber-AC dan tata pencahayaan yang memadai.

Sudah saatnya kita sadar dengan sesuatu yang bernilai di sekitar kita. Tak perlu jauh-jauh pergi ke luar negeri, seperti Museum National d Histoire Naturelle di Perancis untuk datang ke sebuah museum modern nan lengkap edukasi tentang zaman purba. Cukup pergi ke sebuah kawasan bernama Sangiran di Kabupaten Sragen, maka kita akan diajaknya ke jutaan tahun yang lalu. Bagaimana? Tertarik menjadikan Museum Manusia Purba Sangiran sebagai destinasi wisata Anda di waktu libur mendatang?

Suka artikel ini? Yuk, follow Hipwee di mig.me!