Menelisik soal kehidupan romansa tokoh Indonesia memang menarik. Apalagi kalau yang bersangkutan pernah jadi orang nomor satu di negeri ini. Lihat saja kisah cinta Habibie Ainun yang menjadi kisah klasik dan banyak diteladani masyarakat. Tak hanya kisah cinta mereka yang legendaris, kisah romantika tokoh yang satu ini juga nggak kalah menarik untuk disimak.

Dialah Ibu Tien dan Pak Soeharto. Ibu negara dan presiden RI yang kedua

Kisah cinta mereka dinilai sangat menarik, karena selama lebih dari 50 tahun pernikahan, Ibu Tien dan Soeharto tetap setia dan harmonis sampai wafat. Selain itu, hampir nggak ada berita skandal tentang asmara mereka berdua. Kesetiaan Ibu Tien terhadap Soeharto maupun sebaliknya menjadi teladan banyak pasangan di Indonesia.

Bertemu di kota Wonogiri ketika keduanya sama-sama masih sekolah. Ibu Tien dan Pak Soeharto tak pernah menyangka akan menjadi teman hidup selamanya

Soeharto dan Tien muda. Ganteng dan cantik ya via www.boombastis.com

Pak Harto dan Ibu Tien dipertemukan di Wonogiri ketika keduanya masih sekolah. Waktu itu Soeharto kecil adalah anak angkat Prawirowiharjo di Wuryantoro, Wonogiri. Sementara Ibu Tien adalah anak dari RM Soemoharjomo, seorang mantri gunung yang disiplin. Bertemu di kala remaja, tetapi belum ada bibit cinta keduanya. Tak menyangka, akhirnya berjodoh selamanya.

Setelah pertemuan pertama, keduanya ‘dipisahkan’ karena tugas masing-masing. Pak Soeharto menjadi tentara, dan Ibu Tien sibuk berorganisasi kewanitaan

Advertisement

Ibu Tien muda, ceria dan mempesona via www.kaskus.co.id

Setelah pertemuan pertama, Pak Harto dan Ibu Tien menjalani karir masing-masing. Satunya sebagai tentara, dan satunya sibuk berorganisasi kewanitaan di kota Solo. Lalu Pak Harto ‘kembali’ ke Wonogiri dan meminang cinta lama, seorang putri ningrat yang memesona. Jodoh memang tak kemana.

Ibu Tien yang mempunyai darah ningrat dari keturunan Mangkunegaran III dan bergelar Raden Ayu tak menyurutkan langkah Pak Soeharto yang waktu itu hanya anak petani, untuk meminangnya

Ningrat Jawa via www.kaskus.co.id

Di waktu itu, adalah kurang lazim jika wanita keturunan ningrat menikah dengan lelaki biasa. Namun kondisi ini tak lantas membuat Pak Harto ciut nyali untuk mempersunting wanita idamannya. Mereka menikah di saat situasi perang kemerdekaan. Untuk itulah nggak ada foto sama sekali di acara nikahan mereka. Hmm, sayang banget nggak sih? Tapi apa boleh buat. Cinta yang suci tak perlu banyak bukti.

Menikah dengan sederhana, tibalah cobaan Ibu Tien sebagai istri tentara. Beliau harus rela ditinggal Pak Soeharto tugas berkali-kali yang membahayakan jiwa

istri tentara via historia.id

Baru nikah berapa hari, eh, sang suami tercinta harus memenuhi tugas negara. Saat itulah ujian pertama LDR bagi Ibu Tien dan Pak Harto. Jangan bayangkan LDR di waktu itu bisa dibantu dengan kirim-kiriman chat atau video call. Sekadar menitip surat saja harus ekstra hati-hati karena takut disadap Belanda yang waktu itu melancarkan agresi militer. Cobaan berikut pun menanti, Ibu Tien masih harus melahirkan anak pertamanya tanpa dampingan sang suami. Hiks hiks.

Ketika Pak Harto sedang penat dengan tugas militer dan hampir menyerah, Ibu Tien selalu menyemangatinya dengan “Saya dulu menikah dengan tentara, bukan dengan sopir taksi, jadilah tentara yang bermartabat”

jangan mudah menyerah via m.tempo.co

Dulu diceritakan bahwa Pak Harto merasa penat menjadi tentara dan ingin menjadi sopir taksi saja. Ibu Tien menyemangatinya dengan bilang “Saya menikah dengan tentara, bukan sopir taksi”. Dan jadilah Pak Harto tetap menjadi tentara dan akhirnya menjadi presiden. Coba kalau beliau keukeuh menjadi sopir taksi? Nggak bakalan jadi presiden dong beliau?

Menjadi pengungsi karena tugas suami pun pernah dilakoni sejoli ini. Bu Tien tak pernah menjadi istri yang manja karena baginya suami punya tugas yang berat dan tidak hanya untuk keluarga saja

mendampingi di saat susah dan senang via print.kompas.com

Sewaktu tinggal di Jogja, Pak Harto bertugas sebagai tentara keamanan. Waktu itu Belanda sedang menyerang, sehingga sedikit saja interaksi dengan para tentara menjadi hal yang riskan. Ibu Tien bela-belain mengungsi dan berpura-pura bukan jadi istri tentara demi menyelamatkan diri dan suami tercinta. Dipisahkan karena tugas, bukti ketegaran Ibu Tien sebagai istri setia.

Bagi Bu Tien, untuk menjaga suami tetap sayang adalah jangan mengenggamnya seperti pasir, karena pasir akan berlari-lari mencari keluar ketika digenggam terlalu erat

menjadi presiden via belazipper.blogspot.co.id

Bu Tien adalah istri yang nggak mengekang suami untuk berkarya. Segala hal dilakukan untuk menyayangi dan memberi kebebasan bersyarat untuk suami. Itulah yang membuat Pak Harto sangat menyayangi istrinya lebih dari apapun. Bahkan, salah satu wasiat Pak Harto adalah “Ketika saya mati, semuanya kuserahkan ke istri”. Seolah punya firasat akan meninggal duluan sebelum istrinya. Namun takdir berkata lain.

Setia sampai mati, itulah mengapa pasangan ini tidak pernah diterpa gosip miring dan Pak Soeharto pun enggan untuk berpoligami dan memilih untuk tetap dengan satu istri

Pak Harto dan Bu Tien sama-sama berprinsip akan memegang teguh tali cinta dan perkawinan monogami. Sudah banyak pihak negatif yang berusaha memfitnah pasangan ini dengan menyebut Pak Soeharto punya selir, tapi tak ada satupun yang terbukti. Ini karena mereka adalah pasangan so sweet yang setia dan berpegang teguh pada konsep satu pasangan.

“Kami, istri saya dan saya, memang sama-sama setia, saling mencintai, penuh pengertian, dan saling memercayai” — Soeharto

saling percaya via www.tribunnews.com

Petuah Soeharto dalam membina hubungan dengan istrinya selalu dilandasi dengan rasa kasih, sayang, setia, pengertian dan hormat-menghormati antar pasangan. Bayangkan saja kalau sebuah hubungan tak dilandasi dengan cinta, kesetiaan dan hormat? Dijamin lambat laun akan kandas dengan sendirinya. Nggak mau seperti itu ‘kan? Untuk itulah, petuah ini layak ditiru, Guys.

“Hanya ada satu Nyonya Soeharto dan tidak ada lagi yang lainnya. Jika ada, akan timbul pemberontakan yang terbuka di dalam rumah tangga Soeharto” –Soeharto

hanya satu untuk selamanya via sariberitacoco.blogspot.co.id

Pak Harto dengan tegas menolak untuk memiliki wanita lain. Entah itu poligami maupun menikah lagi selepas kepergian Bu Tien. Baginya, hanya ada satu Nyonya Soeharto sepanjang hidup dan satu-satunya. Binaan cinta yang tidak main-main, mengingat usia pernikahan mereka yang bisa langgeng hingga 50 tahun lebih. Siapa sih yang nggak ingin?

Tahukah kamu? Bu Tien adalah wanita yang mendampingi Pak Harto saat susah maupun senang. Dan, diam-diam beliau adalah cewek yang sangat stylish

Menjadi istri yang setia tak menghalangi Bu Tien untuk tampil selalu stylish. Beliau adalah wanita yang menyebar virus ‘kebaya’ kemanapun dia pergi. Hampir di setiap kesempatan Bu Tien selalu mengenakan kebaya. Keanggunan wanita Indonesia tercermin dari Ibu Negara yang satu ini. Bahkan ada salah satu fotonya yang terlihat sedang bermain boling dengan memakai kebaya.

Menjaga cinta dan keutuhan rumah tangga sampai mati. Itulah prinsip yang dijunjung tinggi Ibu dan Bapak negara yang satu ini

cinta sampai mati via blccommunity.blogspot.co.id

Menjunjung tinggi tali kasih pernikahan sampai mati adalah prinsip pasangan ini. Di luar kasus Pak Harto yang simpang siur di era Orde Baru, kita tetap sepakat bahwa cinta Pak Harto dan Bu Tien dan harmonisnya pernikahan mereka layak untuk ditiru dan diambil contohnya.

Bagaimana, kamu setuju?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya