Bicara soal Kirana memang seperti tidak ada habisnya. Anak cantik nan lucu yang sedang jadi Indonesian sweet heart ini memang membuat kita kagum dengan kecerdasan dan kepolosannya. Lagi-lagi, kecerdasan ini tentu tidak datang begitu saja. Ada peran Ibu yang hebat di belakangnya.

Setelah pernah membahas bagaimana gaya parenting Ibok Retno ke Kirana dan juga sudah memberimu kesempatan bertanya langsung pada Ibok lewat Ask Me Anything Kirana kali ini Hipwee ingin membahas lebih dalam tentang pertanyaan dan pernyataan yang jadi stimulus bagi Kirana hingga dia jadi anak yang cerdas dan peka. Penasaran apa saja? Ini yang bisa Hipwee kumpulkan dari Feed Instagram @retnohening.

P.S: Kalau ada yang missed tolong maafkan ya Ibok. Sebagai pengamat pasti ada yang kurang sesuai dengan kenyataan 🙂

1. “Nggak papa. Kirana spesial……”

A video posted by @retnohening on


Patah hati orangtua yang paling parah adalah saat anaknya sakit dan dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengurangi bebannya. Retno pernah menceritakan perjuangannya menghadapi Ezcema Kirana. Mulai dari menjaga makanan, mencuci baju Kirana dengan air PH 6 sampai mengurangi waktu tidurnya demi menjaga Kirana tidak menggaruk tubuhnya sampai berdarah.

Advertisement

Untuk membesarkan hati Kirana Retno mengajak Kirana untuk menyadari bahwa dia spesial. Seperti di video yang diunggah Retno ke Instagram demi menjelaskan kenapa dia tidak bisa makan beberpa makanan. “Nggak papa. Kirana nggak bisa makan karena Kirana spesial!”

2. “Kan Kirana lihat aja. Nggak dimakan.” Pengertian sederhana untuk menguji kesabaran Kirana

A video posted by @retnohening on

Alih-alih berkata, “Nggak boleh Kirana!” Ibu Retno lebih memilih membuat Kirana paham bahwa dia harus bersabar untuk mendapatkan apa yang dimau. Seperti saat Kirana ingin mencoba makan permen karet. Kirana diajak berpikir bahwa dia masih terlalu kecil untuk itu. Karena itu Kirana cuma boleh lihat aja. Nggak usah makan 🙂

3. Demi menguji kemandirian Kirana Retno bertanya: “Emang Kirana bisa sendiri? Nggak perlu dibantuin?”

A video posted by @retnohening on

Scene saat Kirana ingin mengambil sikat giginya sendiri ini lucu sekali. Kirana menolak bantuan Ibunya karena merasa bisa. Retno tidak langsung berteriak atau merasa takut Kalau Kirana kenapa-kenapa. Ibok malah mengajukan pertanyaan, “Emang Kirana bisa sendiri? Bener nggak perlu dibantuin?”

Cara ini sepertinya mengajak Kirana berpikir mengenai kemampuannya. Ibok membiarkan Kirana menganalisa apa yang mampu dia lakukan sebelum meminta bantuan.

4. “Kirana senang?”

A video posted by @retnohening on

Tidak banyak Ibu yang menanyakan bagaimana perasaan anaknya secara berkala. Namun Ibu Retno kekeuh rutin melakukannya. Kirana dengan lugas mengatakan bahwa dia sedih jika ditinggal Ibu dan Ayahnya naik haji. Atau dia senang ketika diperbolehkan main cat dan kotor-kotoran.

5. “Emangnya biru?” Pertanyaan menggemaskan yang dipungkasi dengan muka usil Kirana

A video posted by @retnohening on

Bintang kecil di langit yang biru…

Saat Ibok menyanyikan lagu anak paling standar untuk bocah Indonesia itu Kirana dengan cerdasnya menimpali, “Emangnya biruu?” dengan muka usilnya. Kirana mempertanyakan bahwa bintang seharusnya tidak ada di langit yang biru. Tapi di langit yang hitam.

Ibok Retno menimpali dengan kaget, “Eh?” mendengar pertanyaan Kirana. Kemudian tertawa. Beliau tidak berkata bahwa Kirana salah atau mengujinya. Ibok membiarkan ada ruang untuk berdebat dan bertanya.

6. “Sabar dulu. Gimana sabarnya?”

A video posted by @retnohening on

Adalah sebuah awe moment melihat Kirana yang masih bayi diajak bersabar. Ibok mengajarkan makna sabar dari memberi pengertian secara berulang-ulang bahwa sabar berati menunggu lebih lama, tidak menangis untuk mendapatkan apa yang dimau.

Walau belum tahu jelas maknanya Kirana kecil sudah mampu menerima. Dia berhenti menangis saat Ibok berkata, “Sabar dulu. Tenangkan dulu…”

Pemandangan yang tidak biasa ‘kan untuk seorang balita?

Konon parenting adalah pekerjaan paling berat yang tidak ada sekolahnya. Ibok Retno jelas tidak sempurna. Tapi paling tidak beliau sudah menginspirasi kita bagaimana membersamai tumbuhnya seorang manusia.