Ketika menyiapkan salah satu dari hari membahagiakanmu bersama pasangan, rasanya pasti campur aduk. Dengan bersatunya dua keluarga besar, artinya kamu akan memiliki Ayah dan Ibu baru. Menyenangkan sekali ya? Namun perlu kamu ketahui, semakin banyak anggota keluarga, maka akan semakin banyak pula kepala yang berlomba-lomba untuk merancang konsep pernikahanmu. Tak terkecuali dari orangtuamu dan pasangan.

Perbedaan generasi yang memiliki pandangan dan keinginan masing-masing sangat perlu dibicarakan secara matang, supaya seimbang dengan harapan kedua atau ketiga belah pihak. Ada beberapa hal yang perlu dirundingkan bersama antara orangtua dan kamu, agar kesakralan tetap terjaga dan kesan santai pun bisa dirasa bersama. Hal ini diperlukan agar tidak ada omongan dan kesan kurang menyenangkan di belakang. Wah, apa saja ya kira-kira? Simak bersama yuk, guys!

1. Ritual dengan adat tanah kelahiran biasanya didambakan oleh orangtua. Jika keberatan, beri masukan mengenai waktu dan tenaga yang dibutuhkan.

Butuh proses panjang via stasiun-tinta.blogspot.co.id

“Pakai adat Jawa ya, Nak? Biar lebih pas dan lega di hati, kayak Ayah Ibu dulu.”

Sebagian besar orangtua menginginkan agar pernikahan anaknya kelak menjalani prosesi sesuai adat asal mereka, seperti yang pernah dilalui leluhurmu dulu. Mungkin saja kamu, yang lebih memilih untuk proses yang praktis dan tidak bertele-tele, kadang merasa hal itu tidak wajib untuk dipenuhi.

Advertisement

Jika memang kamu dan pasangan berkenan untuk melewatkan prosesi adat yang panjang, tak apa jika kamu utarakan mengenai hal ini kepada orangtuamu. Beri pandangan mengenai prosesi yang harus dilewati mulai beberapa minggu sebelum hari-H hingga hari perayaanmu. Selain itu sampaikan juga bahwa semua prosesi tersebut memerlukan banyak waktu, padahal untuk kamu ambil cuti saja susahnya setengah mati. Untuk budget yang harus dianggarkan pun juga perlu kamu bicarakan, supaya tak ada pengeluaran membengkak yang membuatmu terkejut. Yakin, orangtuamu pasti akan bisa memaklumi jika disampaikan dengan baik kok.

2. Konsep baju nikah, seragam keluarga, dan pendamping lainnya di benakmu dan orangtua pasti berbeda. Ajak Ibu dan Mertua untuk ke bridal, sambil merancang bersama.

Rundingan barengan makin enak via www.google.co.id

Orangtua: “Gaunnya warna putih yang panjanga 5 meter saja, trus seragam keluarga warna pink.
Mertua: Kayaknya ijo lebih OK, seger gitu. Nanti keluarga bisa pakai kuning.
Kamu: *pusing*

Orangtua mana yang tidak ingin melihat anak kesayangannya tampil menawan di hari bahagia nanti? Sembari menemanimu dan pasangan di pelaminan nanti, bahkan untuk menyambut para tamu undangan, tak mungkin jika mereka tak punya bayangan tersendiri mengenai beberapa hal. Salah satunya adalah gaun dan jas pengantin, seragam untuk keluarga, penerima tamu, dan pendamping pengantin lainnya.

Pasti pusing jika harus menuruti permintaan dari banyak pihak seperti ini. Dari payet atau warna saja, sekadar mencatat di atas kertas pun tak akan cukup. Untuk menghindari ketidakpuasaan dari beberapa pihak, ada baiknya kamu berkonsultasi dengan ahli pembuat gaun kebaya beserta jasnya bersama pasangan, orangtuamu dan calon mertuamu. Ajak mereka berunding dan menyatukan konsep bersama yang pas dan bisa memberi kepuasan. Supaya saat hari H, nggak perlu rempong lagi, kan.

3. Untuk among tamu, tak apa jika orangtuamu mengajak beberapa temannya. Ingat, harus ada temanmu juga, agar tamu undangan yang kamu kenal nggak kerasa canggung nantinya.

Hehehehehe temanmu mana? via babymoontravelling.wordpress.com

Kamu: “Aku mau ngajak Nene, Orin, Titi, Lina buat jadi among tamu, Ma. Biar……..
Mama: “Udah, temen mama aja yang diajak jadi among tamu. Banyak kok yang bisa dateng.”

Eksistensi para among tamu di sepanjang jalan menuju pelaminan itu penting. Supaya tidak tersesat saat datang ke acara resepsimu, dan saling berbagi kebahagiaan di sana. Mereka pun senantiasa akan berbagi senyum ramah di sana. Tak jarang orangtuamu ternyata sudah menawarkan teman-temannya untuk dijadikan among tamu. Bukan masalah besar sebenarnya.

Sebenarnya kamu perlu mengajak teman-teman yang kamu kenal untuk bersukarela berdiri di depan untuk menyambut teman-temanmu yang menjadi tamu. Akan aneh rasanya jika temanmu datang tapi tak ada yang di kenal dalam jajaran among tamu. Kadang, melewati orang yang tidak dikenal akan menghasilkan rasa canggung luar biasa. Mending, kamu sudah merencanakan hal ini bersama orangtuamu ya, agar suasana tetap menyenangkan nantinya.

4. Jika ragu dengan perias pengantin pilihan Ibumu, kamu harus pandai merajuk agar bisa memilih bridal makeup-mu sendiri.

MUA yang pas di hati via www.lenny-wijaya.com

Segala persiapan untuk resepsi pernikahanmu kelak tidak bisa diputuskan begitu saja tanpa pertimbangan yang matang. Sekadar mengiyakan tanpa melakukan riset kecil-kecilan adalah hal yang perlu kamu hindari. Mengenai penampilan mempelai pun kamu pilih-pilih agar tidak terjadi riasan berlebihan yang bikin tamu jadi ilfeel.

Ibu dan Ibu mertuamu tidak akan tinggal diam. Mungkin saja mereka sudah mendapatkan rekomendasi bridal makeup dari teman-temannya.

Ibu: “Ngerias di Salonnya bu Tutik aja, katanya bagus kok.”
Ibu mertua: “Atau di mbak Yuni aja, murah dan alus hasil makeup-nya.”

Padahal, dalam hati kamu sudah menemukan salah satu bridal makeup yang pas di ahti dan budget-mu, yang sudah benar-benar kamu lihat hasilnya. Tak perlu merasa nggak enak buat menolak rekomendasi dari mereka. Kamu bisa bilang bahwa pilihanmu nggak akan memberikan hasil yang mengecewakan nantinya. Setuju?

5. Tak hanya teman-temanmu yang datang ke resepsi, kerabat orangtuamu pun juga. Jatah undangan dan waktunya dapat dibedakan, agar suasana tidak campur aduk.

Agar suasana tetap enak via www.insideweddings.com

Mengenai tamu undangan, kamu juga perlu meluangkan waktumu untuk membahas hal ini. Tak hanya kamu yang ingin mengundang teman dan sahabat terdekatmu untuk menghabiskan momen sakral ini bersama, pasangan, orangtua, mertuamu juga menginginkan hal yang sama. Supaya semua merasa adil, kamu dan pasangan perlu membagi porsi yang pas. Mungkin saja dalam perhitungan seperti ini….

30% undangan untuk temanmu & pasangan
35% undangan untuk teman orangtua
35% undangan untuk teman mertua

Agar suasana tetap terasa menyenangkan, mungkin saja kamu perlu membedakan jam untuk undangan lintas generasi tersebut. Menuliskan jadwal sore untuk undangan para orangtua, dan malam untuk kalangan temanmu dan pasangan bisa dijadikan pilihan. Bisa disesuaikan sesuai mufakat yang didapat dari rundingan kecil bersama orangtuamu. Jadi, tamu tidak membludak dan suasana tetap menyenngkan nantinya.

6. Agar budget tidak membludak, anjurkan tamu untuk bersua saja di venue. Jika mampir ke rumah, kamu harus menambah porsi katering nantinya.

Bertandang ke rumah pun harus mempersiapkan kudapan lebih via keluarga-moersidik.blogspot.co.id

Hal yang perlu dicatat dan perlu mempersiapkan budget besar adalah mengenai katering, yang meliputi makanan berat, kudapan ringan, hingga minuman. Tak hanya di venue, untuk kamu yang melaksanakan prosesi seperti selamatan dan pengajian, harus diperhitungkan secara matang. Penting sekali untuk kamu tangani dengan cermat, agar total pengeluaran tidak membludak dan melebihi budget awalmu.

Kadang, ada saja tamu undangan yang tidak bisa datang di hari H dan di venue yang sudah tertera pada undangan. Tak jarang, orangtuamu akan mempersilakan mereka akan bertandang ke rumahmu untuk sekadar mengucapkan selamat di hari-hari menjelang resepsi. Janggal rasanya jika tidak memberi suguhan kudapan, yang berarti akan menambah jajaran total kateringmu di akhir acara nanti. Mungkin, kamu juga perlu membincangkan mengenai hal ini kepada orangtuamu agar tidak mudah mengiyakan kedatangan mereka ke rumah. Supaya bisa berbahagia bersama di acara yang memang sudah dipersiapkan sejak jauh-jauh hari ini.

7. Untuk mencairkan suasana, musik dan nyanyian pun perlu disesuaikan dengan generasinya. Dangdut melulu juga nggak asik, lho.

Menyumbang lagu untuk teman di kondangan asik uga~ via bridalmusings.com

Tidak hanya gedung, dekorasi, penampilan mempelai beserta keluarga yang perlu disiapkan secara matang. Mengenai susunan dan pengisi acara pun tidak boleh luput dari persiapan ini. Misalnya saja mengenai musik dan lagu-lagu yang mengiringi selama acara berlangsung.

Beda generasi, referensi musik kesukaan pun bisa dibedakan dengan jelas. Para orangtua lebih menyukai lagu dengan dendangan selow seperti dangdut dan lagu kenangan yang didominasi oleh Dewi Yul dan Broeri Marantika. Sedangkan anak muda, akan lebih suka dengan musisi yang masih satu generasi pula. Kalau seharian tema lagunya dangdut terus, suasana jadi beda dan kurang menyatu dengan yang anka muda. Bergiliran dalam tema lagu pengiring perlu disesuaikan lah, ya. Hehehehe.

Hal-hal kecil yang tak terpikirkan kadang membawa dampak yang besar pada saat berlangsungnya cara resepsi pernikahanmu kelak. Jadi, kamu juga perlu menyatukan opini banyak kepala untuk sebuah konsep yang matang, tertata, dan tetap memberi kepuasan banyak pihak. Nah, mana nih yang perlu kamu rundingkan dengan orangtuamu kelak, guys?