Aku baru saja menyadari, bahwa ternyata lingkungan dapat membunuhmu dengan perlahan-lahan. Dan itu sering kali menjelma sebagai pertanyaan-pertanyaan casual yang sering dilempar orang selayaknya bertanya apa kabar. 

Mulai dari ditanya kapan menyelesaikan masa studi, apa yang hendak dilakukan setelah lulus. Bahkan pertanyaan-pertanyaan tidak penting lainnya seperti mengapa kita menjadi gemuk atau kurus, atau bahkan perkara yang lebih komunal lagi seperti kapan menikah, mengapa tak kunjung punya anak, mengapa tak mau menambah momongan dan lain sebagainya.

Terkadang kita nggak sadar dan sering dianggap sepele, tapi bagi orang lain, pertanyaan-pertanyaan itu  bisa sangat menyakitkan

Ngobrol dengan orang lain via theoakstreatment.com

Advertisement

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu memang bentuk perhatian orang lain terhadap kehidupan kita. Namun dalam titik tertentu, hal-hal tersebut menjadi sebuah mesin pembunuh yang jitu. Terlebih jika kamu adalah orang yang mempunyai banyak peer group di luar sana, yang mana setiap peer group akan menciptakan mesin pembunuhnya sendiri-sendiri.

Bayangkan bagaimana kita secara perlahan dimatikan oleh hal-hal seperti itu, mereka yang tak akan pernah puas atas pencapaian orang lain dan menciptakan sebuah standar yang lagi-lagi harus selalu kita capai, harus kita ikuti. Misalnya saja, ketika kita lulus kuliah kemudian seorang kawan menanyakan kita akan bekerja di mana, lantas jika ketika kita telah bekerja, ada kawan lain menanyakan kepada kita mengapa tidak bekerja di perusahaan lain.

Atau mungkin ketika kita menjalin hubungan dengan seseorang, kemudian muncul pertanyaan kapan kita akan menikah, lalu jika sudah menikah akan muncul lagi pertanyaan kenapa tak kunjung punya buah hati, begitu terus sampai ujung peradaban dunia. Singkatnya, kita hidup untuk memenuhi standar orang lain, menyeramkan sekali.

Nggak cuma di kehidupan nyata, ranah dunia maya pun nggak terlepas dari hal-hal semacam ini juga

Social media bullying via www.straitstimes.com

Advertisement

Belum lagi kehidupan media sosial yang tingkat standarnya ditentukan dengan begitu bias. Berapa jumlah pengikut, “love”, dan “share”, serta berapa komentar yang menyanjung mereka. Aku sepakat bahwa kehidupan di media sosial terkadang menjadi hal yang lebih menyenangkan dibanding dunia nyata dalam beberapa hal. Kita dapat membagikan apapun yang kita inginkan, momen bahagia dan pencapaian-pencapaian yang telah kita dapatkan. Sekali lagi media sosial memberikan candu kepada kita dengan begitu besar.

Terlebih bagi mereka yang menginjak usia 20an, di mana kita sedang berlomba-lomba memenuhi tuntutan sosial yang begitu keras, mewujudkan aktualisasi diri dan mencari pengakuan. Melihat postingan orang lain yang dirasa lebih di atas dibanding kita adalah sebuah cambuk yang begitu menyakitkan. Dan lagi lagi kita dipaksa memenuhi standar kehidupan orang lain. Efek sampingnya? tentu saja kita akan merasa kesulitan dalam mengapresiasi dan menyayangi diri sendiri, kita tak akan pernah melihat bahwa kita telah mencapai suatu pencapaian dalam hidup.

Maka dari itu, usia 20-an adalah salah satu fase perubahan hidup paling mengerikan bagi seseorang

Usia millenial adalah usia rentan via www.forbes.com

Usia 20an bagi sebagian orang adalah fase yang begitu mengerikan, orang-orang berlomba-lomba menciptakan standar yang mungkin secara tidak sadar akan menuntut orang lain juga untuk mengikuti mereka. Dan bagi yang tidak mampu, maka selamat datang para tersepelekan.

Namun, setiap kali merasa tersepelekan, aku jadi ingat sebuah kutipan dari mas Farid Stevy, “Berbahagialah wahai kalian para tersepelekan, dengan begitu kita punya kesempatan besar untuk mengejutkan”.

Hal-hal yang terkadang kita lupakan adalah bagaimana kita mencintai dan mengapresiasi diri sendiri. Berhenti menggunakan standar orang lain untuk membahagiakan diri sendiri. Sebab bagaimanapun juga, semakin kamu mematok bahwa kebahagiaan dan pencapaian orang lain harus kamu capai juga, maka perlahan-lahan kamu akan kehilangan diri sendiri.

Dan terakhir,
Tanpa kita sadari, kita seringkali menjadi mesin pembunuh itu sendiri, membunuh orang-orang terdekat kita secara perlahan dengan hal-hal yang tak kita duga. Yuk pikirkan kembali apa yang hendak kita tanyakan dan lakukan, #UpgradeDirimu dengan tidak jadi orang yang suka menyakiti perasaan teman atau orang lain.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya