• 17 November 2018
  • Yogyakarta

Tentang Ngayogjazz

Sebagai sebuah perayaan musik jazz yang diselenggarakan setiap tahunnya di Yogyakarta, Ngayogjazz tidak hanya berhenti sebagai sebuah festival tetapi juga menjadi suatu peristiwa budaya yang selalu dinantikan. Berawal dari keinginan untuk mendobrak pandangan bahwa jazz yang selalu diidentikan dengan aliran yang ekslusif dan hanya dinikmati oleh kalangan tertentu, Ngayogjazz menawarkan hal yang bertolak belakang. Para penggagas Ngayogjazz Djaduk Ferianto, Ajie Wartono, Hattakawa, Vindra Diratara, Hendy Setiawan, Ahmad Noor Arief, dan Bambang Paningron pada tahun 2006 mencoba untuk merekonstruksi ulang konsep jazz dengan cara yang nyeleneh sehingga dapat diterima khalayak luas.

Konsep tersebut baru dapat diwujudkan pada tahun 2007 dengan diselenggarakannya Ngayogjazz untuk pertama kalinya di Padepokan Bagong Kussudiarja. Mengusung konsep dasar untuk membawa musik jazz ke dunia yang lebih luas, Ngayogjazz menjadikan musik jazz inklusif dengan harapan bisa dinikmati oleh siapapun dan dimanapun, bahkan di desa sekalipun. Tidak ada barikade dan jarak antara warga setempat, penonton serta musisi, hanya ada interaksi.

Advertisement

Ngayogjazz juga memiliki perhatian besar terutama pada generasi-generasi muda sebagai bibit baru musik jazz. Menjadi wadah persemaian, Ngayogjazz memberikan ruang yang sangat luas bagi bibit baru ini untuk tumbuh dan berkembang dengan memberikan kesempatan untuk berkarya dan mempresentasikan hasil karya mereka kepada publik. Ada pula sesi-sesi yang diadakan saat acara berlangsung yang mempertemukan musisi senior dengan generasi muda untuk berbagi pengalaman dan mengasah kemampuan. Selain itu, Ngayogjazz juga memberikan kesempatan untuk berbagai komunitas jazz dari se-Nusantara untuk reriungan, momen bertemu serta bertegur sapa sekaligus membagikan pengalaman dan cerita.

Waktu dan Tempat

Dalam pelaksanaannya, Ngayogjazz memang memilih untuk tidak memiliki satu lokasi tetap tetapi berpindah dari satu lokasi ke lokasi yang lain. Mulai dari Padepokan Bagong Kussudiarja, Desa Wisata Tembi, Pasar Seni Gabusan, Pelataran Joko Pekik, Pasar Kota Gede, Desa Wisata Brayut, Desa Wisata Sidoakur, Padukuhan Kwagon dan yang terakhir Dusun Kledokan. Hal ini dilakukan untuk memberikan nuansa yang berbeda dan menggabungkan antara musik jazz dan suasana pedesaan. Dari satu desa ke desa lainnya, tentu memiliki warna tersendiri dan menjadikan suasana dan nuansa pergelaran Ngayogjazz terasa berbeda setiap tahunnya.

Pada kesempatan kali ini, Ngayogjazz 2018 akan diselenggarakan pada hari Sabtu Legi, 17 November 2018 di Desa Gilangharjo, Pandak, Bantul menghadirkan lebih dari 40 grup/musisi se-Indonesia dan bahkan dari luar negeri seperti Perancis, Belanda, Spanyol dan Italia.

Tagline

Bukan Ngayogjazz namanya jika tidak memiliki ciri khas nyeleneh yang selalu tersaji di tagline yang dihadirkan. Pada kesempatan yang ke-12 kali ini, Ngayogjazz mengusung tema Negara Mawa Tata, Jazz Mawa Cara sebagai jawaban atas fenomena yang terjadi dan berkembang di masyarakat Indonesia saat ini.

Advertisement

Tema ini merupakan plesetan dari “Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata” yang kurang lebih maknanya: Walaupun Negara mempunyai hukum dan tata Negara, tapi tiap daerah juga memiliki adat dan budaya yang khas menurut mereka dan erat kaitannya dengan kearifan lokal daerah masing-masing.

Pada kesempatan kali ini, Ngayogjazz 2018 mengajak semua yang hadir untuk belajar menghormati kearifan lokal dan menggunakan jazz sebagai penghubungnya agar dapat melebur dan membaur bersama dengan masyarakat dan budaya daerah. Hal ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat saling menghormati dan belajar, agar tidak muncul kesalahpahaman, dapat mematuhi hukum yang dibuat oleh negara namun tetap bisa luwes menyesuaikan diri dengan kearifan lokal yang ada. Ngayogjazz ingin mengajak semua yang hadir sebagai sedulur jazz bersama dengan masyarakat desa setempat untuk bersama-sama bergembira, menciptakan hubungan dan kehidupan yang harmonis melalui musik.

Ngayogjazz dan Komunitas

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ngayogjazz melibatkan masyarakat desa, yang kedapatan untuk menjadi tuan rumah, untuk turut serta dalam hajatan akbar tahunan ini. Hal ini pun juga didasari dengan pandangan untuk pemberdayaan masyarakat tidak hanya dari segi ekonomi, tetapi lebih dari itu. Di Ngayogjazz, bukan hanya pertunjukan musik jazz saja yang bisa dinikmati, ada pula penampilan menarik lainnya seperti kesenian tradisional yang ditampilkan oleh warga setempat. Untuk membuatnya semakin meriah, Ngayogjazz menggandeng Froghouse untuk mengambil bagian dan berbagi pengetahuan dan pengalaman bersama warga setempat dalam workshop artistik.

Froghouse akan hadir bersama kolaborator seni, Situ(s)eni – terdiri dari 3 orang seniman berlatar belakang berbeda: Prihatmoko Moki (muralis), Annisa P Cinderakasih (arsitek) dan Wilujeng (penari), yang juga akan ikut ambil bagian memeriahkan Ngayogjazz 2018 dengan menghadirkan karya-karya seni yang tersebar di beberapa titik yang berbeda di desa Gilangharjo dan semua karyanya terinspirasi dari situs seni yang ada di desa tersebut.

Secara keseluruhan, suasana seperti inilah yang kemudian membuat Ngayogjazz selalu diminati, tidak hanya oleh orang-orang yang tinggal di Yogyakarta saja tetapi juga dari luar daerah bahkan luar negeri. Lebih dari 30.000 pengunjung setiap tahunnya dari berbagai usia, bermacam tingkat sosial dan pendidikan, hingga berbagai kebangsaan hadir dan bergerak bersama Ngayogjazz menyebarkan kebahagiaan.

Contact Media:

Kandida Nyaribunyi (0822-4728-6412)

Amelberga Astri P (0818-0274-0296)

E-mail: komunikasi.ngayogjazz@gmail.com

Website: www.ngayogjazz.com

Facebook: Ngayogjazz

Instagram: @ngayogjazz

Twitter: @ngayogjazz

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya