Problematika soal sampah memang masih jadi momok tersendiri bagi kita semua, terutama sampah plastik. Tak jarang kita tahu fakta kalau ternyata banyak sampah plastik yang berakhir di lautan, mencemari dan meracuni ekosistem di sana. Dari laporan NatGeo, sampah-sampah plastik yang mengambang di Samudera Pasifik aja katanya udah hampir mencapai luas daratan Indonesia!

Memang sih, banyak pihak yang mulai sadar akan dampak dari menggunungnya sampah plastik di bumi ini. Kalau di Indonesia, pemerintah sudah menerapkan kantong plastik berbayar di minimarket atau swalayan. Namun kenyataannya, kebijakan itu masih belum mampu mengerem tingginya penggunaan plastik sebagai tas belanja. Ada juga komunitas-komunitas yang tidak kenal lelah mengajak masyarakat menghentikan penggunaan plastik dan beralih ke bahan-bahan yang lebih ramah lingkungan. Hasilnya? Tampaknya belum juga memuaskan.

Keindahan alam yang kini sering ‘ternodai’ sampah plastik via majikphil2.blogspot.com

Advertisement

Nah, di luar negeri ternyata mulai banyak ilmuwan yang mengembangkan spesies pemakan plastik lho. Kalau beneran bisa dibudidaya, bukan tidak mungkin masalah sampah plastik jadi tinggal kenangan. Apa aja ya spesies itu? Yuk simak rangkuman Hipwee News & Feature kali ini~

1. Satu jenis jamur yang ditemukan di tumpukan sampah ternyata terbukti dapat menguraikan plastik dalam hitungan minggu

Jamur pengurai plastik via www.elitereaders.com

Normalnya, sampah plastik butuh waktu puluhan bahkan ratusan tahun agar bisa terurai. Tapi dengan jamur yang ditemukan di tumpukan sampah di Pakistan ini, katanya plastik bisa terurai hanya dalam 8 minggu. Jamur dengan nama Aspergillus tubingensis ini diketahui bisa menguraikan plastik jenis poliuretana, yang biasa ada di produk kulit sintetis. Aspergillus tubingensis mencerna makanannya dengan mengeluarkan enzim lalu menyerap kembali bahan organik yang sudah larut ke dalam sel. Selain mengurai plastik, katanya jamur ini bisa ‘melahap’ tumpahan minyak, bahan kimia beracun, dan limbah radiaktif!

2. Ada juga cacing bernama Squirmy Mealworms yang ternyata bisa melahap plastik dan styrofoam dan mengurainya lewat ususnya!

Squirmy Mealworms via www.digitaljournal.com

Sebuah penelitian yang dilakukan seorang profesor dan mahasiswa dari Universitas Beihang, Cina, menemukan spesies cacing yang bisa bertahan hidup meski hanya memakan plastik dan styrofoam. Cacing yang diberi nama Squirmy Mealworms itu memang punya sistem pencernaan yang ajaib. Di dalam ususnya terdapat mikroorganisme yang dapat mengurai polietilen -bentuk umum dari plastik. Para peneliti itu juga memantau kesehatan cacing-cacing itu selama diberi plastik dan styrofoam. Hasilnya, mereka tetap sama sehatnya dengan cacing lain yang diberi pakan biasa. Selain itu, peneliti juga menemukan kalau cacing ini bisa mengubah plastik yang dikonsumsi menjadi karbondioksida.

3. Hewan melata lain yang juga punya kemampuan memakan plastik adalah ulat atau larva serangga Galleria mellonella

Wax worms via www.nytimes.com

Advertisement

Penemuan ini berawal dari ketidaksengajaan yang dilakukan seorang biologis Federica Bertocchini dari Spain’s Institute of Biomedicine and Biotechnology of Cantabria. Ia yang notabene adalah peneliti lebah, mengumpulkan parasit wax worms yang ia kumpulkan dari sarang lebahnya. Federica kemudian menaruhnya di kantong plastik. Tidak lama setelahnya ternyata ia menemukan plastik itu mulai berlubang dan banyak ulat yang kabur. Ulat yang biasa dipakai buat umpan pancing itu langsung ia teliti karena diduga bisa memakan plastik. Bersama timnya, Federica benar-benar bisa membuktikan kalau sekitar 100 wax worms yang disimpan dalam kantong belanja plastik, bisa menghasilkan lubang setelah 40 menit, dengan pengurangan 92 mg setelah 12 jam.

4. Organisme pengurai plastik lainnya adalah bakteri Ideonella sakaiensisyang bisa mengurai plastik dalam waktu 6 minggu dan dengan suhu 30 derajat celsius

Bakteri Ideonella sakaiensis via www.express.co.uk

Kelompok peneliti gabungan dari Amerika Serikat dan Inggris juga telah menemukan adanya bakteri pengurai plastik. Sebenarnya bakteri yang dinamakan Ideonella sakaiensis itu sebelumnya sudah ditemukan secara alami di Jepang, di tempat pengolahan limbah plastik. Lalu peneliti lain berusaha mengembangkannya. Jadi dalam bakteri itu ditemukan adanya enzim PETase yang oleh peneliti dibuat tiruannya. Enzim mutan itu dinilai bisa memecah plastik jenis Polietilena tereftalat lebih baik dari PETase yang asli.

Limbah plastik memang jadi masalah krusial bagi bumi ini. Jika tidak dilakukan upaya pencegahan serius, sampah-sampah plastik di dunia bisa mencemari lingkungan yang notabene adalah tempat tinggal kita. Bayangkan aja kalau kita makan hasil laut yang ternyata pernah tercemar limbah plastik. Tentu akan berdampak pada kesehatan juga ‘kan? Ya semoga aja para ilmuwan yang serius menggarap segala solusi masalah ini bisa segera membawa perubahan lebih baik lagi ya~

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya