Riset di Indonesia Membuktikan: Anak dari Keluarga Miskin Cenderung Akan Tetap Miskin Ketika Dewasa

Anak keluarga miskin tetap miskin

Sebuah penelitian kontroversial datang dari lembaga riset SMERU Institute. Penelitian yang dilakukan di Indonesia itu menyebutkan kalau anak yang lahir dan tumbuh di keluarga miskin cenderung akan tetap miskin ketika sudah dewasa. Menariknya, ketika riset itu dirilis ke publik, justru banyak yang menyangsikan. Karena kalau kita perhatikan memang nggak sedikit anak dari keluarga miskin yang sukses kuliah di luar negeri, atau bekerja di perusahaan bergengsi.

Advertisement

Tapi fakta-fakta yang dihadirkan dalam penelitian ini seolah mampu menjawab perdebatan warganet beberapa waktu lalu soal privilege. Berawal dari kabar kalau Maudy Ayunda diterima di 2 universitas ternama di Amerika Serikat, dan disambung dengan kabar Putri Tanjung yang didapuk jadi staf khusus kepresidenan, publik lantas memaklumi pencapaiannya karena mereka memang berasal dari keluarga kaya raya dan berada. Di sisi lain ada yang percaya kalau keduanya tetap memiliki kemampuan mumpuni sehingga wajar jika walau masih muda tapi mereka sudah bisa bikin orang se-Indonesia iri dengan achievement-nya.

Lalu gimana riset dari SMERU ini membuktikan kalau privilege itu memang nyata adanya? Jadi lembaga ini membandingkan jumlah pendapatan 1.522 anak saat masih umur 8-17 tahun dengan ketika sudah usia 22-31 tahun

Hasil dari penelitian yang sudah dipublikasikan di makalah internasional Asian Development Bank (ADB) ini menujukkan kalau pendapatan anak-anak dari keluarga miskin setelah dewasa, lebih rendah 87% jika dibandingkan dengan mereka yang sejak kecil dibesarkan di keluarga kaya. Perbedaan kesejahteraan orangtua mereka menjadi alasan kondisi ekonomi anak-anak ini nggak berada di garis awal yang sejajar. Ibaratnya kalau lomba lari, garis start mereka beda, misalnya yang kaya 500 meter di depan yang miskin. Tentu kemungkinan besar pemenangnya adalah si kaya.

Advertisement

Penelitian itu makin memperjelas fakta bahwa keluar dari jerat kemiskinan nyatanya memang nggak semudah yang dibayangkan dan nggak semulus yang terlihat di film atau sinetron layar kaca

Mereka punya akses lebih terbatas via www.mimbar-rakyat.com

Sekarang mari kita bandingkan, di saat anak-anak orang kaya punya akses dan kesempatan yang lebih luas misalnya terhadap pendidikan dan layanan kesehatan, anak-anak keluarga miskin justru harus puas dengan akses yang terbatas. Padahal kedua hal itu sebenarnya diperlukan untuk memperbaiki kondisi ekonomi.

Orangtua yang sukses juga memiliki aset dan sumber daya lebih sehingga lebih berpeluang membuat anaknya sejahtera dan sukses di masa depan. Contohnya mungkin dengan menyediakan infrastruktur yang mendukung anaknya untuk eksplorasi lebih jauh, misal gawai, tablet, komputer, atau alat transportasi. Mereka juga lebih berpeluang memperoleh pendidikan non formal yang bisa mendukung perkembangan mental, emosional, hingga spiritual, bahkan sejak dini.

Belum lagi perbedaan pola asuh yang bisa turut menentukan nasib kesuksesan seseorang. Dalam masyarakat miskin pola asuhnya cenderung otoriter dan reaktif

Advertisement

Perbedaan pola asuh via www.beritasatu.com

Menurut penelitian yang sama, anak-anak dari keluarga miskin mengaku kalau orangtua mereka cenderung mudah marah dan gampang memberi hukuman saat anaknya melakukan kesalahan. Alih-alih mengajak berbicara dari hati ke hati, orangtuanya lebih memilih langsung meluapkan emosi, atau yang parah ya memukul atau melakukan kekerasan. Pola pengasuhan yang berbeda ini ada kaitannya juga dengan tingkat pendidikan dan kondisi ekonomi. Kita aja kalau nggak punya duit rasanya udah pengin marah aja kan.

Ya, kira-kira begitu lah. Jadi, masuk akal kalau akhirnya anak-anak mereka juga semakin sulit menggapai kesuksesan, beda sama yang tumbuh di keluarga berada. Gimana? Masih mau menyangkal kalau privilege itu bohong belaka?

Bukannya mau mengajak buat terima nasib gitu aja, pepatah “usaha nggak mengkhianati hasil” ini tetap akan berlaku buat mereka yang gigih. Walau mungkin perjuangannya lebih berat dari mereka yang dari lahir sudah kaya raya bergelimang harta, tapi setidaknya minimal kita bisa memutus rantai kemiskinan demi generasi anak cucu kita di masa depan~

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE