Marak Aplikasi E-Money, 4 Hal Ini Mesti Dipertimbangkan Sebelum Beralih Jadi Cashless Society

Aplikasi e-money cashless society

Menjadi cashless society memang kelihatannya keren. Ke mana-mana nggak bawa duit cash. Kalau mau bayar-bayar tinggal gesek atau scan barcode. Tap tap, done. Praktis dan mudah. Di samping itu mungkin juga terselip rasa bangga sebab bisa menjadi manusia modern yang melek teknologi, mirip sama orang-orang di luar negeri. Di sejumlah negara seperti Swedia memang sudah banyak toko yang tak lagi menerima uang cash. Ya, mereka sudah sepenuhnya jadi cashless society atau masyarakat tanpa uang tunai.

Memang sih, nggak ada yang melarang kita buat beralih jadi cashless society dan menghamba pada uang elektronik. Namun sebelum benar-benar ‘banting setir’, ada baiknya mempertimbangkan hal-hal di bawah ini dulu. Karena ternyata, nggak selamanya kemudahan itu diiringi dengan hal baik. Ada juga sederet kerugian yang mungkin nggak kita sadari selama ini.

1. Pembayaran menggunakan e-money rupanya secara tidak sadar dapat membawa kita pada perilaku konsumtif. Mentang-mentang bayarnya gampang, semua jadi dibeli

Jadi konsumtif via www.cnnindonesia.com

Advertisement

Tren e-money semakin merajalela dengan maraknya aplikasi yang mendukungnya, ditambah saat ini mulai banyak toko dan restoran yang menerima pembayaran via aplikasi tersebut. Tinggal diisi saldonya, kita pun bisa belanja, makan, sampai cari hiburan pakai uang elektronik tersebut. Apalagi sekarang perusahaan-perusahaan aplikasi e-money lagi berlomba-lomba memberi promo lewat cashback atau diskon menarik. Makin sulit lah membendung nafsu duniawi untuk nggak jajan ini-itu.

Secara nggak sadar, kita pun jadi lebih konsumtif, bahkan jauh lebih konsumtif jika dibandingkan saat masih pegang cash ke mana-mana. Lebih bahayanya lagi, kebanyakan kita justru nggak sadar sudah sangat boros. Ini karena uang kita nggak ada wujudnya. Punya atau nggak punya duit rasanya sama aja. Nanti di akhir bulan, ujung-ujungnya kaget bukan kepalang melihat saldo di aplikasi e-money tinggal seupil.

2. Kenapa kita jadi lebih boros saat memakai e-money? Soal ini sudah ada penelitiannya lo. Katanya kita cenderung memiliki ikatan emosional dengan uang fisik ketimbang dengan uang elektronik

Lebih terikat secara emosional dengan uang fisik via www.merdeka.com

Sebuah studi menunjukkan saat membayar dengan uang fisik, kita akan cenderung mengalami apa yang disebut “psychological pain“, rasa bersalah yang muncul saat kita mengeluarkan uang fisik dari dompet. Beda rasanya dengan belanja pakai e-money, karena wujud fisiknya nggak ada, psychological pain-nya jadi cenderung nggak berasa. Ikatan emosional kita dengan uang fisik lebih kuat ketimbang dengan uang elektronik. Inilah yang menurut studi itu jadi alasan orang jadi lebih boros saat menggunakan e-money. Masuk akal ya~

3. Transaksi cashless nggak cuma bikin dompet nggak sehat, tubuh pun juga bisa ikut-ikutan nggak sehat. Kok bisa?

Bikin tubuh nggak sehat juga via www.tribunnews.com

Advertisement

Ternyata ada studi psikologi konsumen dari University of Oxford yang membuktikan kalau transaksi cashless juga bisa bikin manusia cenderung menerapkan gaya hidup nggak sehat. Insitusi ini sebenarnya lebih menyorot ke pengguna kartu kredit sih, tapi sepertinya cukup relevan juga kalau kasusnya e-money, ‘kan duitnya sama-sama nggak berwujud.

Studi yang meneliti pengeluaran 1.000 rumah tangga selama 6 bulan itu menemukan kalau pengguna kartu kredit cenderung belanja bahan-bahan makanan yang kurang sehat dibanding mereka yang masih menggunakan cash. Alasannya karena mereka sering tergoda promo jajanan unyu seperti cokelat, potato chips, eskrim, atau biskuit. Padahal sebetulnya ya nggak butuh-butuh banget, alias cuma impulsif aja.

4. Hal lain yang mesti jadi pertimbangan adalah soal keamanan data konsumen. Setiap mendaftarkan diri di aplikasi digital wallet, kita pasti diminta mengisi sejumlah identitas pribadi. Gimana jika itu justru disalahgunakan?

Cyber crime mengintai via bisnis.tempo.co

Banyak orang beralih ke e-money lantaran takut uangnya dicuri. Walau tidak berwujud, bukan berarti e-money aman seratus persen dari tindak kriminal. Di zaman yang semakin canggih ini, oknum penjahat ternyata juga makin canggih-canggih. Tren cashless juga rentan dibobol lewat peretasan data pengguna. Sering juga ada tindak kejahatan pencurian saldo ATM dengan menggunakan alat yang dipasang di mesin ATM. Risikonya nggak kalah ngeri sama pemakaian uang tunai. Jadi dilema, ‘kan…

Menjadi cashless society memang bisa jadi salah satu tolak ukur kemajuan suatu negara. Tapi kalau kesenjangan sosial masih seluas samudera, tren ini hanya akan jadi ‘mimpi buruk’ bagi orang-orang yang tidak mengenyam pendidikan tinggi. Biar gimana pun, e-money erat kaitannya dengan teknologi. Tanpa pengetahuan tentang teknologi yang mumpuni, sepertinya akan sulit bagi orang mengenal seluk beluk uang elektronik. Apalagi orang-orang tua yang nggak tumbuh di tengah gempuran teknologi, mereka bakal gagap jika menemukan tempat yang ternyata cuma menerima pembayaran secara elektronik. Malah kasihan ‘kan…

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE