Dunia jagat maya baru saja dibuat ramai dengan sebuah iklan kampanye dari salah satu kubu calon presiden. Iklan ini mengangkat isu tentang lowongan kerja di Indonesia yang mungkin dianggap kurang atau tidak memadai oleh kubu tersebut. Di dalamnya diceritakan ada seorang lulusan arsitek magna cumlaude yang kesulitan mencari kerja. Sudah interview sana-sini tetap nggak diterima-terima. Lalu pada bagian akhir, ditampilkan cuplikan capres-cawapres yang ingin mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, dan berdiri di atas kaki sendiri di bidang ekonomi. Intinya mereka ingin memperluas lapangan kerja jika terpilih nanti.

Memang bagus sih kalau bisa menciptakan lapangan kerja dan mengentas pengangguran di Indonesia. Tapi ternyata, iklan itu malah menimbulkan kemarahan sejumlah pihak lo. Mereka mempermasalahkan penyebutan profesi seperti driver online, penjaga pintu masuk, valet parking, sampai fotografer yang seolah dianggap remeh dan malah jadi beban keluarga.

Advertisement

Dari balasan-balasan atas tweet di atas, banyak juga yang membahas kalau sekarang ini sudah masuk era revolusi industri 4.0, dimana pekerja kantoran alias pekerja ‘9 to 5’ sebenarnya sudah mulai dianggap ketinggalan zaman. Sebaliknya, pekerjaan yang bisa dikerjakan di rumah, cafe, atau tempat liburan sekalipun lagi banyak banget peminatnya. Wah, kenapa ya? Simak yuk alasannya bareng Hipwee News & Feature~

Sekarang ini kita sudah masuk ke era industri 4.0, saat dimana manusia mulai banyak bekerja dengan menggunakan teknologi. Teknologi menyebabkan banyak pekerjaan jadi jauh lebih fleksibel

Era industri 4.0 via spectrum.ieee.org

Industri 4.0 adalah era dimana manusia mulai mengoptimalkan teknologi dalam keseharian. Industri 4.0 ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot, artificial intelligent, perkembangan genetik, dan neuroteknologi.

Advertisement

Revolusi industri ke-4 ini muncul setelah internet mulai banyak digunakan orang. Sekarang siapa sih yang nggak kenal internet? Bahkan di pedesaan pun sudah banyak orang yang terhubung ke internet. Dari situ jadi banyak perusahaan bermunculan, memanfaatkan teknologi mutakhir untuk menyediakan barang maupun jasa. Contoh terdekat ya semacam Go-Jek, Grab, atau Uber itu. Atau perusahaan pembuat web, digital marketer, dan lain-lain, yang sebenarnya dikerjakan di rumah sambil santai di ruang tengah pun bisa.

Adanya teknologi ini malah kalau dipikir-pikir justru memperluas lapangan kerja lo, di internet ‘kan banyak tuh situs-situs penghubungan antara perusahaan dan pencari kerja. Situs penyedia lowongan freelance juga menjamur. Tinggal kitanya mau usaha eksplorasi atau nggak.

Sekarang hampir semua orang juga sudah pakai gadget atau gawai. Kalau mereka bisa terkoneksi hanya lewat teknologi dalam genggaman, kenapa nggak?

Mulai banyak orang meeting online via smallbiztrends.com

Kalau zaman dulu, orang mau ketemuan buat meeting ya harus di kantor. Sekarang, sejak teknologi video call hadir, rapat pun bisa dilakukan meski jarak antar orang terpisahkan benua. Lagipula, hampir semua orang juga sudah pakai gadget kan. Selama tujuan pertemuan itu tercapai dengan berkomunikasi lewat layar laptop atau HP, kenapa harus repot-repot tatap muka dan menghabiskan jutaan buat beli tiket PP?

Selama bisa selesai dengan baik dan tepat waktu, pekerjaan sah-sah saja dilakukan dari rumah, kafe, atau coworking space yang sekarang banyak menjamur. Nggak harus 9 to 5 di kantor~

Kerja bisa dimana aja via www.yesrox.com

Kalau orangtua kalian masih maksa buat kerja kantoran, coba deh jelasin pelan-pelan. Kalau perlu ya sebutin aja satu-satu profesi menjanjikan apa yang nggak menuntutmu buat berangkat pagi-pagi ke kantor menembus kemacetan. Fotografer atau editor foto dan video misalnya, melihat saat ini banyak orang berambisi menggelar sebuah acara yang Instagrammable, kayaknya profesi itu patut dipertimbangkan. Atau mungkin yang berhubungan langsung sama teknis kayak web developer, ilustrator digital, SEO specialist, dan lain-lain. Semua profesi itu bisa dikerjakan sambil selonjoran di cafe favorit…

Era industri generasi keempat ini terbukti sudah banyak “memangsa” yang lambat. Fokusnya bukan lagi yang “besar” mengalahkan yang “kecil”, tapi sudah ke yang “cepat” mengalahkan yang “lambat”

Eranya serba cepat via www.creativebloq.com

Era teknologi itu eranya serba cepat lo. Ketika kamu masih berkutat kerja kantoran, berangkat pagi-pagi, pulang malam, sudah gitu masih harus berdesakan di kereta, bisa jadi di luar sana ada orang seumuranmu yang lebih dulu melesat ke depan. Mungkin salah satu faktornya karena dia nggak perlu menjalani rutinitas seperti yang kamu jalani setiap hari. Saat kamu berkutat dengan kemacetan, bisa jadi dia sudah berhasil mengerjakan 1 proyek klien, atau belajar di YouTube gimana mengembangkan website yang interaktif, dan lainnya. Ini contoh kecil aja sih~

Eh, tapi perubahan ritme atau cara orang bekerja ini nggak bisa disamaratakan juga lo. Ada juga perusahaan yang pernah menerapkan remote working –kayak perusahaan teknologi IBM— tapi malah nggak jalan dan akhirnya balik lagi ke cara lama. Terus remote working ini juga menuntut orang membangun komitmen sendiri, kalau mentalnya dari awal malas-malasan dan nggak bisa bagi waktu dengan baik, ya percuma…

Tapi yang jelas, kita nggak bisa menutup mata kalau di era industri 4.0, nggak semua pekerjaan harus dilakukan dengan pergi ke kantor selama 5 hari dalam seminggu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya