Yogyakarta memang gudangnya buku dan kesenian. Secara rutin diadakan berbagai acara seni yang menarik untuk berbagai kalangan. Salah satunya Festival Musik dan Buku “MocoSik” yang dihelat pada 23-25 Agustus 2019 silam. Bertempat di Jogja Expo Center, MocoSik yang ketiga ini bertema “Buku, Musik, Kamu”.

MocoSik yang berlangsung selama tiga hari juga menggelar berbagai diskusi sastra. Pada hari terakhir yaitu 25 Agustus 2019, salah satu tema diskusinya adalah “Berliterasi di Era Digital”. Ada tiga pembicara yang berbagi ilmu yaitu Windy Ariestanty, Kalis Mardiasih, dan Mas Aik. Sedangkan moderatornya adalah Iqbal Aji Daryono. Mereka semua adalah penulis-penulis penting di era digital.

Advertisement

Berikut ini poin-poin penting diskusi mereka di MocoSik.

1. Windy Ariestanty menyarankan para penulis untuk berkawan dengan zaman. Pelajari dan beradaptasilah dengan tren di masyarakat

Windy Ariestanty via www.instagram.com

Belasan tahun aktif di penerbit Gagas Media, Windy Ariestanty memulai kariernya secara offline. Dia pernah menjadi editor beberapa buku Raditya Dika yang laris-manis. Windy juga pernah menulis bukunya sendiri yang berjudul Life Traveler. Dia mengolah pemikiran dan pengalamannya saat traveling ke berbagai negara di dunia.

Sayangnya, perlahan-lahan buku mulai ditinggalkan karena zaman berubah. Tentu masih banyak yang membaca buku, tetapi banyak pula yang beralih ke hiburan yang lebih simpel seperti media sosial, video Youtube, dan Podcast. Bagaimana cara menghadapi masalah itu? Windy menyarankankan agar kita berkawan dengan zaman. Itu berarti, sebaiknya sesuaikan karya kita dengan tren yang sedang berlaku di masyarakat. Windy pun telah aktif di media sosial. Dia berkisah secara online untuk menarik lebih banyak penggemar.

2. Kalis Mardiasih menyarankan untuk memanfaatkan media online dengan maksimal, supaya bisa merangkul sebanyak mungkin orang

Kalis Mardiasih via www.instagram.com

Advertisement

Sebagai penulis sekaligus aktivis perempuan, Kalis Mardiasih sering membahas hal-hal yang sensitif. Dia memanfaatkan media sosial untuk merangkul sebanyak mungkin orang. Kalis juga berpesan, kalau kita mengkritik seorang tokoh penting, lebih baik namanya nggak disebut supaya para pembaca nggak salah fokus. Utamakan membahas isu atau masalah yang terjadi.

3. Baik online maupun offline, Mas Aik menyarankan para penulis untuk fokus pada teks

Mas Aik via www.instagram.com

Sebagai penulis cerita Nanti Kita Sambat tentang Hari Ini, Mas Aik mempunyai hampir 150 ribu pengikut di Instagram. Bagaimana cara supaya jadi sepopuler itu? Dia menyarankan para penulis untuk tetap fokus pada teks. Di era digital ini, ada berbagai media yang bisa dieksplorasi seperti gambar, foto, video, dan lainnya. Namun sebagai penulis, utamakanlah untuk meningkatkan kualitas tulisan.

Itulah tips-tips untuk jadi penulis handal di era digital. Setiap zaman memang punya tantangannya sendiri. Yang penting pintar-pintarlah untuk menyesuaikan diri~

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya