Kronologi Tewasnya Dosen Teknik UGM, Gantung Diri Pakai Tali Tampar di Teras Rumahnya Sendiri

Dosen UGM bunuh diri

Di dunia ini, banyak sekali peristiwa terjadi di luar dugaan atau prediksi kita, mulai dari yang membahagiakan, sampai yang menyedihkan, termasuk kematian seseorang. Ada yang sehari-hari terlihat sehat dan baik-baik aja, tahu-tahu besok beredar kabar kalau orang tersebut meninggal. Bahkan ada juga yang 5 menit lalu masih ngobrol santai, tiba-tiba di jalan pulang kecelakaan hingga meninggal.

Advertisement

Selain memang meninggal karena tertimpa musibah, ada juga orang kehilangan nyawa karena keinginannya sendiri. Di Yogyakarta, baru saja ada kejadian mengejutkan dimana seorang dosen kampus ternama dilaporkan bunuh diri dengan cara gantung diri. Wah, gimana sih kronologinya, dan apa motifnya sampai memilih buat menghabisi nyawa sendiri?

Dosen inisial BS, ditemukan dengan kondisi tak bernyawa di kediamannya sendiri. Ia tewas setelah gantung diri pakai tali tampar di teras rumah

BS

BS ditemukan gantung diri di teras rumahnya via kumparan.com

Kabar duka datang dari lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Seorang dosen Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Elektro dan Teknologi Informasi inisial BS, usia 55 tahun, bunuh diri dengan cara gantung diri menggunakan tali tampar. Peristiwa pada Kamis, 15 Agustus 2019 siang ini terjadi di rumah korban sendiri di Kampung Nyutran RT 0055 RW 17, Wirogunan, Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta, seperti dikutip CNN.

Advertisement

Tewasnya BS pertama kali diketahui oleh adiknya sendiri yang bernama Yanti sepulang dari pasar membeli sayur. Ia lalu berteriak setelah melihat kakaknya sudah tak bernyawa

Ditemukan adik korban via www.sinarharapan.co

Kematian BS terungkap setelah Yanti, adik BS sendiri, menemukan kakaknya sudah tak bernyawa dengan kondisi tergantung di teras rumahnya. Yanti yang saat itu baru pulang berbelanja ke pasar, spontan berteriak histeris. Teriakan itu didengar oleh Supardi, seorang saksi mata lain yang saat kejadian sedang membetulkan radio. Setelah mendengar ada teriakan, ia langsung menuju sumber suara. Ternyata, BS sudah tewas gantung diri.

Karena tak berani mendekat, Supardi hanya membantu menutup tempat kejadian perkara dengan kain sprei agar tidak terlihat banyak orang. Nggak lama setelahnya, Polsek Mergangsan bersama tim medis datang dan kemudian jenazah pun dibawa.

Sampai saat ini polisi masih terus mendalami motif korban melakukan bunuh diri. Tapi dugaan kuat mengarah ke depresi

Masih terus diselidiki via kumparan.com

Belum jelas alasan korban memutuskan menggantung dirinya sendiri. Polisi pun belum bisa mengungkapkan secara gamblang. Tapi Kapolsek Mergangsan, Kompol Tri Wiratmo, dikutip Detik, menyatakan kalau ada kemungkinan motifnya mengarah ke depresi karena penyakit yang diidapnya tak kunjung sembuh. Pihak keluarga sendiri masih belum mau mengungkap apa penyakit yang diderita korban. Yang jelas sejak Maret 2019 kemarin, korban sudah rutin kontrol ke rumah sakit.

Advertisement

Kejadian ini sangat disayangkan banyak pihak, pasalnya BS dikenal sebagai pribadi yang baik. Saat kumpul-kumpul sering turut menyumbangkan ide

Korban dikenal orang baik via www.jpnn.com

Meski nggak tahu soal latar belakang korban melakukan bunuh diri, Supardi mengakui kalau di kampungnya, korban dikenal sebagai pribadi yang baik. Saat arisan warga, BS sering memberikan ide-ide. Subuh sebelum kejadian pun Supardi masih bertemu BS di masjid. Benar-benar nggak ada yang mengira BS pergi secepat dan setragis itu.

Di kampus, Supardi juga termasuk dosen berprestasi. Ia sudah mengantongi gelar Doktor dari UGM dan telah menelurkan puluhan jurnal ilmiah. Tapi ya… kembali lagi, umur manusia memang tidak ada yang tahu…

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE