“Kok belum pakai hijab sih kamu?”

“Hijab kayak gitu cuma fokus nutup kepala aja. Aurat lain masih diperlihatkan. Akhirnya kayak lontong! Kapan mau pakai hijab syar’i?”

Advertisement

Dalam kehidupan perkawanan sehari-hari, pertanyaan macam ini kerap menghampiri cewek-cewek dalam berbagai situasi. Mulai disampaikan dengan nada kasual, sampai ditanyakan dengan intonasi yang menunjukkan rasa ingin tahu tingkat tinggi.

Terkadang jadi serba salah rasanya. Belum pakai hijab, ditanya kapan akan mulai mencoba menggunakan. Sudah pakai hijab, masih juga ditanya kapan akan jadi “sempurna.”

Jika memang hijab adalah perjalanan hati — haruskah ada komentar-komentar menyudutkan macam ini?

Selalu ada cerita di balik keputusan menutup kepala atau membiarkan rambut tergerai seperti biasa. Seperti banyak perjalanan hidup lainnya — ia tak bisa disamaratakan begitu saja

Selalu ada cerita di balik keputusan menutup kepala

Selalu ada cerita di balik keputusan menutup kepala via 2.bp.blogspot.com

Advertisement

Seorang kawan bercerita keputusannya berhijab muncul setelah putus dari hubungan pacaran yang sudah dijalani sekian lama. Patah hati akut membuatnya mencari pegangan kuat, Ia pun kembali mendekat. Kandasnya hubungan itu membuatnya yakin, bahwa tidak pacaran adalah cara terbaik demi menjaga hati. Mulai saat itu, ia ingin mengubah diri dengan mengenakan hijab – juga mulai menggunakan kaus kaki.

Di lain sisi, ada pula seorang rekan baik yang memutuskan melepas hijabnya yang mulai dikenakan sejak SMP. Bukan karena ia merasa jauh dari Tuhan, ujarnya. Justru keputusan ini diambil karena ia tak ingin didefinisikan oleh apa yang dikenakannya.

“Bukankah sudah pada hakikatnya, apapun yang tertempel di tubuhku, penghargaan dari lawan jenis tetap kudapatkan? Aku ingin dihargai sebagai manusia. Bukan karena mereka melihatku dari apa yang kukenakan di kepala.” 

Seandainya saja ada waktu dan kesempatan untuk mendengarkan cerita dari seluruh gadis di penjuru dunia — akan ada jutaan kisah yang terbongkar di baliknya. Mereka tidak berangkat dari semangat dan garis start yang sama. Jika begini, haruskah kita membuatnya sama rata?

Kewajiban saling mengingatkan dalam kebaikan memang nyata adanya. Namun bukankah lebih mesra jika pengingat ini tak perlu dikabarkan pada dunia dan justru diungkapkan saat berdua saja?

Bukankah lebih mesra jika pengingat ini diungkapkan saat sedang berdua saja?

Bukankah lebih mesra jika pengingat ini diungkapkan saat sedang berdua saja? via i.imgur.com

Punya rekan untuk saling mengingatkan dalam kebaikan memang jadi keindahan berjalan bersama dalam sebuah keyakinan. Dalam ikatan yang hangat ini kamu tak akan merasa sendirian. Akan ada kawan-kawan baik yang jadi penjaga, agar perilakumu tak keluar dari yang sudah tergariskan dalam sistem nilai yang diyakini bersama.

Sebagai sahabat yang menuju ke goal besar yang sama, rasa ingin “meluruskan” kerap gatal ingin dibicarakan. Terutama saat kita tahu bahwa ada hal yang lebih baik yang bisa diusahakan. Beberapa kawan bahkan bicara dengan analogi yang sangat manis,

“Aku gak mau ke surga sendirian. Kita harus jadi sahabat sampai surga.”

Tak ada yang salah dengan keinginan tulus ini. Meyakini sesuatu memang seharusnya membuat kita jadi makhluk yang bertumbuh, lebih dari sekadar mencukupi kebutuhan diri sendiri. Tapi bukankah ini bukan cuma soal baik-benar, surga-neraka — tapi juga soal hati?

Bisa saja kawan yang di- tag masal dengan foto ajakan “Ayo berhijab” memiliki alasannya sendiri kenapa langkah besar itu belum juga dilakoni. Mungkin saja buatnya saat ini penutup kepala bukanlah cara memperjuangkan apa yang diyakini. Ia yang sampai sekarang masih santai pakai jeans tanpa kaus kaki juga tentu punya alasannya sendiri.

“Tapi gimana dong kalau mereka belum tahu? Ada kewajiban ‘kan untuk mengingatkan?”

Saat sepakat bahwa hijab adalah perjalanan hati, maka premis menjaga hati juga pasti kita yakini. Mengingatkan dan memberi komentar di khalayak adalah dua hal yang berbeda. Apakah tidak lebih manis jika pengingat itu disampaikan berdua saja? Dalam balutan perhatian dan kehangatan antara sahabat yang tujuan akhirnya sama?

Reaksi macam, “What is the right way? Bring me to it!” justru makin membuat antipati. Memilih perjalanan hati yang mengarah ke keputusan berhijab tak seharusnya membuat kita jadi polisi

We should not be a moral police, no?

We should not be a moral police, no? via www.flickr.com

Saat melakukan wawancara untuk artikel soal keperawanan ini, saya menyadari satu hal: niat baik tak selalu bisa diterima baik. Alih-alih mendapat pencerahan, bisa jadi lawan bicara justru merasa diceramahi ahli yang surga yang juga belum tentu bisa masuk surga.

“Kayak udah pada masuk surga aja semuanya. Kembalilah ke jalan yang benar. What is the right way? Come on, take me to it!”

Adalah ungkapan salah satu narasumber yang merasa sering diceramahi selepas ia memutuskan terbuka soal seksualitasnya pada khalayak.

Sometimes their attitude is not in line with their religiousity, not in-line with what they believe in, not in-line with what they’ve been doing. And I thinkthat’s the thing you should work on first.

Jadi komentar lanjutan bagaimana gemasnya korban-korban komen ini pada si pemberi komentar yang nampak relijius, padahal melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai relijiusitasnya,

Artikel dari sebuah situs feminis yang sempat viral bulan lalu ini juga mengungkapkan bagaimana tidak nyamannya mereka yang dikomentari. Di mata mereka yang ringan mendapat masukan belum juga berhijab dan masih belum syar’i itu bisa jadi kita dianggap tak lebih dari polisi moral. Mencari kesalahan, hobi mengingatkan, padahal perilaku sehari-hari juga masih jauh dari kesempurnaan.

Jika sudah begini, apakah niat baik itu akan bisa tersampaikan? Atau justru rekan-rekan seperjuangan akan makin menjauh karena merasa tidak nyaman?

Kenapa tak membiarkan mereka menutaskan perjalanan hati yang sedang dijalani? Bukankah kita sudah mengerti: perjalanan ini adalah soal hati. Tak akan berubah keputusan hanya karena suara di kanan kiri

Kenapa tidak membiarkan mereka mendengarkan suara hati sendiri?

Kenapa tidak membiarkan mereka mendengarkan suara hati sendiri? via tumblr.com

Hanya karena hijab di atas kepala sebenarnya tak lantas membuat kita lebih baik dari gadis-gadis lain di luar sana. Baik mereka yang tidak berhijab, atau mereka yang sudah berhijab namun belum menemukan momen yang membuat mereka ikhlas menjulurkan penutup kepala sampai ke dada.

Kita, masih tetap manusia biasa.

Syar’i dan belum syar’i; benar pun tidak benar sebenarnya juga bukan ukuran manusia. Kita-kita saja yang kadang butuh diyakinkan bahwa saat ini sedang berjalan di atas track yang aman. Hingga mudah menyalahkan mereka yang terlihat melakoni praktik berbeda dari yang sudah dijalankan.

Memilih untuk berhijab jelas sebuah perjalanan hati. Memilih untuk tidak berhijab juga merupakan perjalanan hati yang patut dihargai. Meski banyak pendapat dari kanan-kiri, toh pada akhirnya keputusan akan datang dari suara paling dalam di dalam diri. Komentar-komentar tak penting pada satu titik tak akan valid lagi.

Jika sudah begini, apakah kita akan tetap ringan mengomentari mereka yang rambut dan jilbabnya masih belum sesempurna yang kita yakini? Ataukah ada cara lain yang lebih menyejukkan hati dibanding komentar-komentar yang sudah diungkapkan selama ini?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya