10 Potret Kehidupan Hikikomori di Jepang, Orang-orang yang Menarik Diri dari Lingkungan

Kehidupan Hikikomori di Jepang

Orang-orang Jepang selama ini dikenal sebagai pekerja keras yang rela pergi pagi pulang malam setiap harinya. Bekerja bagi mereka seolah seperti candu. Saking kerasnya bekerja, hari libur atau cuti yang harusnya jadi hak mereka, jarang banget diambil dan dimanfaatkan dengan baik. Sampai-sampai banyak perusahaan yang malah mati-matian memaksa karyawannya mengambil cuti buat refreshing. Malah ada yang menerapkan denda bagi pegawai yang kebanyakan lembur lo!

Advertisement

Tapi sebenarnya, nggak semua warga Jepang itu pekerja keras. Justru sebaliknya, banyak juga penduduk di sana yang mengisolasi diri dari lingkungan. Kerjaannya ya cuma tiduran, baca buku, atau nonton TV di kamar. Mereka nggak pernah keluar rumah kecuali untuk membeli makan atau belanja kebutuhan sehari-hari, benar-benar anti sosial deh! Mungkin kelihatannya enak banget ya kerjaannya santai-santai doang, tapi kebanyakan orang-orang ini malah dulunya ambisius lo! Kok bisa hidupnya jadi berubah drastis gitu ya?

1. Di Jepang, sekelompok orang yang memilih mengurung diri dari kehidupan sosial ini dinamakan hikikomori. Mereka ‘sembunyi’ dari lingkungan setidaknya selama setahun. Banyak juga yang lebih

Mereka mengurung diri di rumah dan menggantungkan hidupnya pada orangtua via fmg.kinja.com

2. Hikikomori mulai populer di Jepang tahun 1990-an. Waktu itu banyak orangtua yang mengeluh kalau anaknya jadi mogok sekolah dan mengurung diri selama berbulan-bulan. Kebanyakan penderitanya remaja laki-laki 15 tahun

Tahun 1990-an hikikomori didominasi remaja laki-laki 15 tahun yang berasal dari keluarga menengah ke atas via www.spiegel.de

Advertisement

3. Banyak orang yang mengalami tekanan sosial sebelum jadi hikikomori. Ada yang gagal ujian, dituntut masuk institusi ternama, dan lain-lain. Karena perasaan tertekan itulah mereka akhirnya memutuskan menyendiri

Berawal dari tekanan soaial. Biasanya keluarga via www.mic.com

4. Semakin ke sini, hikikomori makin jadi masalah sosial yang serius. Tahun 2016 pemerintah Jepang merilis hasil survei yang menyatakan ada 541 ribu orang hikikomori usia 15-39 tahun. Sekitar 35 persennya sudah jadi ansos selama 7 tahun lebih!

Perkiraannya angka hikikomori jauh lebih besar ketimbang yang ada di data via id.pinterest.com

5. Tahun 2030, Jepang diramalkan bakal mengalami ledakan hikikomori dengan penderitanya berumur 60 tahun lebih

Diperkirakan akan ada ledakan hikikomori via www.bbc.com

Advertisement

6. Kalau tren ini dialami mereka yang lanjut usia, masalahnya bakal dobel-dobel, karena selain mereka jadi nggak produktif lagi, orang-orang ini juga akan kehilangan kerabat dekat yang sudah pada merantau. Jadinya nggak ada yang menyokong hidup mereka

Kalau masih usia remaja, mungkin ada ortu yang bakal menanggung biaya hidupnya via www.idntimes.com

7. Jika dibiarkan, lama-lama Jepang akan kehilangan penduduk yang usianya produktif. Bayangkan kalau negara tersibuk itu jadi nggak punya pemasukan karena tenaga kerjanya minim…

Pemerintah Jepang benar-benar harus mulai bertindak via www.bbc.co.uk

8. Untungnya, di Jepang ada sebuah organisasi nonprofit yang peduli sama masalah ini, namanya New Start. Mereka memang fokus mengentas hikikomori dari kehidupan terisolasi mereka

Orangtua yang punya anak hikikomori akan menghubungi New Start dan meminta mereka untuk “membujuk” anaknya supaya mau kembali ke kehidupan sosialnya via www.nippon.com

9. New Start akan mulai menghubungi para hikikomori melalui surat. Prosesnya memang nggak instan, seringkali butuh waktu berbulan-bulan sampai akhirnya mereka mau membuka diri, membalas telepon, dan membiarkan agen New Start masuk “ruang privasi”nya

Butuh waktu nggak sebentar via www.bbc.com

10. Tujuan akhirnya mengajak para hikikomori tinggal di asrama New Start dan mengikuti berbagai program pelatihan kerja. Biar mereka siap terjun kembali ke lingkungan sosial

Pokoknya dibina sampai akhirnya jadi produktif lagi via museemagazine.com

Ternyata benar kalau ada yang bilang “Selalu ada dua sisi yang saling bertentangan”. Jepang yang selama ini kita kenal sebagai salah satu negara sibuk, ternyata juga punya sisi lain yang justru berkebalikan. Coba deh perhatikan, di restoran dan bar yang selalu penuh, kalau diperhatikan kebanyakan mereka justru makan sendiri-sendiri. Di jalanan yang ramai orang, kereta bawah tanah yang padat, selalu bisa ditemukan karyawan yang kelelahan.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE