Dunia kesehatan Tanah Air tengah digegerkan dengan merebaknya kembali wabah difteri. Penyakit yang menyebabkan penderitanya mengalami sakit tenggorokan ini, telah menyebar hingga ke 20 provinsi di Indonesia, tanpa terkendali. Seperti yang dilaporkan Viva, Kementrian Kesehatan mencatat bahwa dalam kurun waktu Januari hingga November 2017, ada 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi dengan 593 kasus dan 32 di antaranya yang meninggal dunia akibat serangan difteri. Menyusul kondisi darurat ini, Kemenkes akhirnya menetapkan status wabah difteri ini sebagai kejadian luar biasa (KLB).

Adapun 11 provinsi yang telah melaporkan terjadinya KLB difteri ini antara lain Sumatera Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur. Menurut laporan dari Kemenkes, Provinsi Jawa Timur dengan wilayah Nganjuk, Malang dan Pasuruan adalah wilayah tertinggi yang terjangkit difteri. Seberapa daruratnya sih wabah difteri yang sedang banyak diperbincangkan ini? Berikut Hipwee News & Feature berikan ulasannya.

Difteri adalah infeksi menular di mana bagian tenggorokan dan hidunglah yang menjadi sasaran utamanya

Difteri menyerang tenggorokan dan saluran hidung via brianaltonenmph.com

Advertisement

Dilansir dari Hello Sehat, difteri merupakan penyakit menular akibat bakteri Corynebacterium Diptheriae yang mudah sekali menular melalui batuk atau bersin. Hal ini dikarenakan bakteri tersebut paling banyak bersarang di tenggorokan dan hidung. Difteri bisa menyerang bayi, anak-anak, dan paling banyak balita, usia sekolah serta remaja.

Gejala yang ditimbulkan berupa demam yang nggak begitu tinggi, munculnya pseudomembran atau selaput di tenggorokan berwarna putih keabu-abuan yang mudah berdarah jika dilepaskan, sakit waktu menelan, kadang-kadang disertai pembesaran kelenjar getah bening leher dan pembengkakan jaringan lunak leher yang disebut bullneck. Adakalanya juga disertai sesak napas dan suara mengorok. Di samping itu, bakteri tersebut juga bisa mengeluarkan racun atau toksin yang bisa melumpuhkan otot jantung, dan saraf. Kondisi inilah yang kemudian menjadi penyebab kematian.

Setelah hampir satu dekade tak pernah muncul, kini wabah difteri kembali mengintai. Adanya gerakan antiimunisasi menjadi salah satu penyebabnya, miris!

Penyakit lama yang muncul kembali via mediakom.sehatnegeriku.com

Kasus difteri di Indonesia sebetulnya adalah wabah lama dan umumnya menyerang anak-anak. Difteri telah berhasil diperangi Indonesia pada 1990 saat program imunisasi digalakkan. Namun, penyakit ini kembali hadir di Jawa Timur pada 2009. Sejak saat itu, prevalensi difteri hampir selalu naik setiap tahun. Meski berbahaya, difteri dapat diatasi dengan vaksin DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus) yang diberikan untuk mencegah penularannya. Namun sayangnya, sejak munculnya gerakan immunity gap atau penolakan terhadap vaksin menyebabkan kesenjangan atau kekosongan kekebalan di kalangan penduduk. Akibatnya nggak semua anak tervaksin.

Advertisement

Faktanya, 66 persen kasusnya timbul pada mereka yang nggak melakukan vaksin, 31 persennya ada pada mereka yang nggak melakukan imunisasi lengkap, sedang 3 persennya ada pada mereka yang sudah jalani imunisasi lengkap. Kemungkinan terjangkitnya mereka yang sudah diimunisasi dimungkinkan karena kuman dari lingkungan yang makin sering terpapar, sementara daya tahan tubuh sedang lemah.

Difteri tahun ini sudah berstatus kejadian luar biasa (KLB) karena adanya beberapa perbedaan dengan wabah difteri di tahun-tahun sebelumnya

Kejadian Luar Biasa via marossehat.blogspot.co.id

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Mohamad Subuh, melalui Kompas, menyatakan bahwa difteri yang terjadi pada tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Perbedaan ini bisa dilihat dari usia penderita difteri yang nggak terbatas pada usia anak saja. Kasus difteri yang terjadi di tahun 2017 ini menjangkiti umur termuda yakni 3,5 tahun dan yang tertua adalah 45 tahun.

Selain dilihat dari segi umur, kemunculan difteri juga nggak terbatas pada musim-musim tertentu. Terbukti 593 kasus difteri telah dilaporkan sepanjang Januari hingga November 2017, di mana terjadi pergantian musim pada rentang bulan tersebut. Hal-hal di luar kasus yang biasa terjadi inilah menjadi faktor pemicu wabah difteri tahun ini dinyatakan sebagai kejadian luar biasa (KLB).

Sebagai upaya penanggulangan, pemerintah melalui Kemenkes akan melakukan imunisasi ulang atau ORI (Outbreak Response Immunization) secara serentak di 3 propinsi pada 11 Desember 2017 mendatang

Akan dilakukan imunisasi ulang via www.pikiran-rakyat.com

Dengan munculnya KLB disentri ini, pemerintah mengambil tindakan ORI melalui suntik vaksin difteri sebanyak tiga kali. Imunisasi ini akan dimulai pada 11 Desember 2017 di 12 kabupaten/kota di DKI Jakarta (Jabodetabek), Banten, dan Jabar. Ketiga provinsi ini dipilih sebagai tempat pertama ORI karena jumlah prevalensi yang tinggi dan jumlah kepadatan masyarakat. Bukan hanya usia balita, sasarannya diperluas mulai dari usia 1 tahun sampai di bawah 19 tahun.

Imunisasi ulang ini akan dilakukan dengan rumus 016, yang artinya penyuntikan terbagi menjadi tiga tahap. Penyuntikan pertama di bulan ini, dilanjutkan 1 bulan mendatang dan 6 bulan selanjutnya. Maka, perlu proses selama 8 bulan untuk evaluasi kasus difteri di tempat dilakukannya penanganan ORI.

Selain melalui imunisasi, pemerintah mengimbau kepada para penderita infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) untuk selalu menggunakan masker. Rajin menjaga kebersihan diri dengan rajin mencuci tangan untuk menurunkan risiko penyebaran. Kesuksesan mengatasi KLB difteri ini nggak hanya tergantung pada pemerintah semata, tapi juga kesadaran dan kemauan masyarakat untuk diimunisasi. Perlu dicamkan bahwa imunisasi menjadi hak setiap anak, bahkan telah tercatat dalam undang-undang. Jadi, mari sukseskan imunisasi khusus difteri yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi demi kesehatan dan keselamatan kita bersama.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya