BUY ME A BOYFRIEND #5 – The Day When I Love You

Buy Me A Boyfriend Desy Miladiana

Setelah hari-hari yang penuh kebimbangan dan sibuk menghindar, akhirnya Amira tiba di satu keputusan tentang hubungan palsunya dengan Andromeda. Akankah Amira bertahan atau justru pilih melepaskan?
***

Amira benar-benar tidak paham dengan keinginan hatinya. Dulu, dia seperti orang gila mencari pacar demi konten semata. Sekarang, ketika dia memilikinya, perasaannya mulai tidak karuan hanya karena pacar palsunya menyukai orang lain.

Sejak obrolan di mobil waktu itu, Amira merasa iritasi setiap kali melihat Andro. Amira mendadak memasang jarak. Respons pesan singkatnya yang biasanya satu atau dua jam sekali, kini mulai semakin lama. Ajakan telepon beberapa menit sebelum tidur pun dia tolak. Satu-satunya yang Amira lakukan sekarang hanyalah tenggelam dalam pekerjaan. Mengumpulkan uang adalah mengalihkan pikiran terbaik. Sampai-sampai deadline di kantor sudah dia kerjakan semua. Beberapa pekerjaan lepas pun mulai dia terima, pukul 10 malam dan dia masih terjaga dengan laptop terbuka.

Tiba-tiba terdengar deringan ponsel. Refleks, Amira melirik sekilas. Saat menemukan nama Elara, untuk sesaat wanita itu ragu mengangkat atau tidak panggilan dari sahabatnya itu. Bagaimana jika Andro meminjam ponsel Elara untuk mencoba menghubunginya? Hingga Amira ingat, Elara sedang berada di luar kota sekarang, jauh dari Andro.

Amira bekerja hingga larut malam | ilustrasi: Hipwee via www.hipwee.com

“La,” jawab Amira pada akhirnya. Wanita itu beranjak dari kursi kerjanya, lalu keluar memasuki balkon kamar. “Masih di Bali?”

“Iya, besok kayaknya baru balik ke Jakarta.” Hening sesaat, sebelum akhirnya terdengar desahan panjang di ujung sana. “Amira, lo sama Andro baik-baik aja, ‘kan?”

Amira berdeham. Bingung menjawab, akhirnya memilih menutupi sejenak kekacauan hatinya terhadap Andro. “Baik, baik. Kenapa lo tiba-tiba tanya hubungan gue dengan Andro?”

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi