Di tengah situasi gempa yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia, informasi soal gempa jadi gampang bercampur dengan kepercayaan yang sudah lama beredar. Itulah kenapa mitos dan fakta gempa bumi perlu diluruskan agar tidak lagi percaya mitos. Contohnya, ada yang bilang cuaca panas menjadi tanda gempa, hewan disebut bisa merasakan gempa sebelum manusia, sampai anggapan bahwa berdiri di ambang pintu adalah tempat paling aman ketika bumi berguncang.
Nah, dari sekian banyak informasi yang beredar, mana yang benar dan mana yang ternyata cuma mitos? Yuk baca pembahasan lengkapnya.
Mitos dan Fakta Gempa Bumi yang Perlu Kamu Ketahui
1. Mitos: Cuaca panas atau hujan deras bisa menjadi tanda gempa

Hujan deras petir-canva via canva.com
Fakta: Belum ada hubungan ilmiah yang menunjukkan bahwa cuaca tertentu menjadi penyebab atau tanda pasti akan terjadinya gempa.
Kedengarannya masuk akal karena perubahan cuaca memang bisa terasa sangat ekstrem. Namun, gempa bumi terjadi akibat pelepasan energi di dalam bumi, termasuk akibat pergerakan pada sesar. Proses tersebut berlangsung jauh di bawah permukaan sehingga tidak bisa disimpulkan hanya dari kondisi cuaca yang sedang dirasakan manusia.
USGS menyebut tidak ditemukan korelasi antara cuaca dan terjadinya gempa. Gempa bermula beberapa kilometer di bawah wilayah yang dipengaruhi kondisi cuaca di permukaan. Jadi, kalau hari ini terasa sangat panas, kamu nggak perlu menganggapnya sebagai alarm bahwa gempa besar akan segera terjadi.
2. Mitos: Hewan bisa merasakan gempa sebelum manusia

Burung mutasi bergerombol-canva via canva.com
Fakta: Perubahan perilaku hewan belum terbukti bisa digunakan untuk memprediksi gempa.
Cerita tentang hewan yang bertingkah aneh sebelum gempa memang terdengar meyakinkan. Anjing tiba-tiba gelisah, kucing bersembunyi, burung beterbangan, atau ular keluar dari tempat persembunyiannya kemudian dianggap sebagai tanda bahwa gempa akan segera terjadi.
Masalahnya, perilaku hewan bisa berubah karena banyak faktor. USGS mencatat memang ada laporan mengenai perilaku hewan yang tidak biasa sebelum gempa, tetapi belum ditemukan hubungan yang konsisten dan dapat diulang antara perilaku tertentu dengan gempa yang kemudian terjadi.
Beberapa hewan juga memiliki kemampuan sensorik yang lebih peka sehingga mungkin bisa merasakan getaran awal gempa sebelum manusia menyadarinya. Namun, hal tersebut berbeda dengan kemampuan mengetahui gempa akan terjadi beberapa jam atau beberapa hari sebelumnya. Jadi, kalau hewan peliharaanmu tiba-tiba gelisah, jangan langsung menganggapnya sebagai alat prediksi gempa.
3. Mitos: Gempa kecil pasti menjadi pertanda gempa besar

Kerusakan setelah gempa – canva via canva.com
Fakta: Gempa kecil tidak otomatis berarti gempa besar akan segera terjadi.
Setelah merasakan gempa kecil, wajar kalau seseorang langsung merasa waswas. Apalagi jika media sosial mulai dipenuhi unggahan yang mengatakan bahwa gempa tersebut adalah “pembuka” sebelum gempa yang lebih besar. Padahal, hubungan antara gempa kecil dan gempa besar nggak sesederhana itu.
Ilmuwan memang bisa mempelajari aktivitas sesar, sejarah gempa, dan probabilitas terjadinya gempa di suatu wilayah. Namun, hal tersebut berbeda dengan memastikan bahwa gempa kecil tertentu akan segera diikuti gempa besar. USGS menegaskan bahwa waktu terjadinya gempa tertentu belum bisa diprediksi secara pasti.
Tetap waspada tentu penting, tetapi kewaspadaan sebaiknya diwujudkan dengan kesiapsiagaan, bukan dengan menyimpulkan sesuatu yang belum terbukti.
4. Mitos: Gempa bumi bisa diprediksi secara tepat

seismograph-canva via canva.com
Fakta: Sampai sekarang, gempa tertentu belum bisa diprediksi secara tepat berdasarkan waktu, lokasi, dan kekuatannya.
Ini mungkin salah satu klaim yang paling sering muncul setelah gempa terjadi. Ada unggahan yang mengaku bisa mengetahui gempa sebelum terjadi, aplikasi yang disebut mampu membaca pola tertentu, atau seseorang yang mengklaim memiliki kemampuan merasakan gempa sebelumnya.
Dalam konteks ilmiah, prediksi gempa berarti mampu menentukan kapan gempa akan terjadi, di mana lokasinya, dan seberapa besar magnitudonya.
USGS menyatakan belum ada metode ilmiah yang mampu melakukan prediksi seperti itu. Ilmuwan dapat menghitung tingkat bahaya dan probabilitas gempa dalam jangka panjang, tetapi bukan menentukan tanggal dan jam gempa berikutnya.
Artinya, informasi seperti “besok akan terjadi gempa besar di kota X” nggak bisa dianggap sebagai prediksi ilmiah hanya karena terdengar meyakinkan.
5. Mitos: Berdiri di ambang pintu adalah tempat paling aman saat gempa

Berdiri di ambang pintu-canva
Fakta: Berdiri di ambang pintu bukan lagi tindakan utama yang direkomendasikan saat gempa.
Mitos ini cukup populer karena pada bangunan tertentu di masa lalu, ambang pintu memang bisa menjadi bagian struktur yang relatif kuat.
Namun, rekomendasi keselamatan saat ini lebih menekankan Drop, Cover, and Hold On. Artinya, segera merunduk, lindungi kepala dan leher, berlindung di bawah meja yang kokoh, lalu bertahan sambil berpegangan sampai guncangan berhenti. BMKG secara khusus mengajarkan tiga langkah tersebut sebagai cara melindungi diri saat gempa.
BMKG juga mengingatkan untuk menjauhi kaca dan benda lain yang berisiko jatuh menimpa. Jadi, daripada buru-buru berlari ke ambang pintu, lebih baik lindungi tubuh terlebih dahulu selama guncangan berlangsung.
6. Mitos: Berlindung di bawah meja justru lebih berbahaya

Berlindung di bawah meja-canva via canva.com
Fakta: Berlindung di bawah meja yang kokoh merupakan salah satu langkah yang direkomendasikan saat berada di dalam ruangan.
Ada anggapan bahwa meja justru bisa membuat seseorang terjebak jika bangunan mengalami kerusakan. Karena itu, sebagian orang memilih langsung berlari keluar ketika merasakan guncangan.
Padahal, berlari ketika gempa masih berlangsung juga memiliki risiko. Benda seperti kaca, lampu, plafon, rak, atau perabotan bisa jatuh dan menyebabkan cedera.
Karena itu, BMKG menganjurkan Drop, Cover, and Hold On. Segera merunduk, berlindung di bawah meja yang kokoh, kemudian berpegangan sampai guncangan berhenti.
Prinsipnya sederhana: lindungi kepala dan tubuh terlebih dahulu, baru lakukan evakuasi dengan tenang ketika guncangan sudah mereda dan situasi memungkinkan.
7. Mitos: “Triangle of life” selalu lebih aman daripada berlindung di bawah meja

Triangle of life-pinterest
Fakta: Konsep “triangle of life” bukan pengganti universal untuk prosedur keselamatan gempa.
Konsep tersebut pada dasarnya menyarankan seseorang mencari ruang kosong di sekitar benda besar yang dianggap bisa membentuk celah ketika bangunan runtuh.
Masalahnya, kondisi bangunan dan jenis kerusakan akibat gempa sangat beragam. Karena itu, tidak ada satu posisi “triangle of life” yang bisa dianggap sebagai tempat paling aman untuk semua situasi.
Jadi, jangan sampai informasi yang terlihat meyakinkan di media sosial justru membuat kamu mengabaikan panduan mitigasi yang sudah dibuat berdasarkan keselamatan gempa.
8. Mitos: Kalau suatu wilayah lama nggak gempa, gempa besar pasti segera datang.
Fakta: Lamanya suatu wilayah tidak mengalami gempa nggak bisa dijadikan kalender pasti untuk menentukan kapan gempa besar akan terjadi.
Memang ada istilah seperti seismic gap dalam pembahasan kegempaan. BMKG menjelaskan bahwa seismic gap dapat merujuk pada kondisi ketika suatu daerah yang secara historis seharusnya mengalami gempa justru tidak mengalami aktivitas gempa kecil berulang, sehingga ada kemungkinan energi terakumulasi dan berpotensi memicu gempa besar di masa depan.
Namun, ini bukan berarti seseorang bisa mengatakan, “Sudah sekian tahun nggak gempa, berarti bulan depan pasti gempa besar.”
Penelitian dan pemantauan aktivitas tektonik digunakan untuk memahami potensi bahaya dalam jangka panjang, bukan untuk menentukan tanggal pasti terjadinya gempa.
Mitos Berisiko Salah Mengambil Keputusan
Ketika gempa benar-benar terjadi, suatu informasi bisa menentukan tindakan seseorang. Hewan yang tiba-tiba gelisah bukan berarti gempa pasti akan datang. Cuaca panas juga bukan “gempa weather”. Gempa kecil tidak otomatis menjadi pembuka gempa besar, sementara gempa itu sendiri belum bisa diprediksi secara tepat kapan, di mana, dan seberapa kuat akan terjadi.
Begitu juga dengan cara menyelamatkan diri. Nggak semua tips yang viral di media sosial merupakan panduan keselamatan yang bisa diterapkan dalam setiap situasi.
Daripada sibuk menebak kapan gempa berikutnya terjadi, jauh lebih berguna kalau kita tahu apa yang harus dilakukan ketika guncangan benar-benar datang.
Sudah tahu kan sekarang fakta di balik mitos-mitos gempa bumi ini? Jangan berhenti di kamu ya. Share artikel tentang mitos dan fakta gempa bumi ini ke keluarga, teman, dan grup WhatsApp supaya makin banyak orang tahu cara membedakan informasi yang benar dan tahu langkah yang harus dilakukan saat gempa terjadi. Jangan lupa baca juga mitos dan fakta tentang gravitasi bumi yang mungkin perlu kamu tahu juga.

