Panduan Menulis – Penggunaan dan Penulisan Huruf Kapital. Jangan Cuma Dipakai buat ‘Ngegas’, ya!

Penulisan huruf kapital

“KENAPA SIH, KAMU NGGAK PERNAH MAU DENGERIN AKU?”
“Lagian, kenapa kamu selalu cerita ke Yanto duluan?”

Advertisement

Saat membaca percakapan di atas, apa yang ada dalam benakmu? Kalau kamu merasa ada yang nggak beres dengan percakapan yang identik dengan sepasang kekasih itu, kamu nggak sepenuhnya keliru, sebab penggunaan kapital pada kalimat pertama merujuk pada bentuk ungkapan marah yang dilontarkan lewat pesan singkat atau chat WA.

Tapi sejatinya, penggunaan huruf kapital menurut kaidah bahasa Indonesia bukan pada bentuk marahnya seseorang pada pasangannya. Kalau itu sih lebih pada produk komunikasi masyarakat kita zaman sekarang. Hehehe~

Nah, untuk lebih lanjutnya, berikut akan saya jabarkan penggunaan dan penulisan huruf kapital sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Simak, yuk!

Advertisement

1. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama awal kalimat. Sudah jelas, ya? Contoh:

Kapan kamu mau ketemu orang tuaku?
Galih sedang mencari pekerjaan baru.

2. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama unsur nama orang dan julukan. Contoh:

Dewa Tempur
Ozi Klitih
Park Ji Sung
Susilo Bambang Y.

3. Awal kalimat dalam petikan atau kalimat langsung juga menggunakan huruf kapital. Contoh:

Advertisement

Adik bertanya, “Hari ini kita makan apa, Bu?”
Tetua desa itu berpesan, “Jangan sampai kita lengah dengan serangan mereka!”
“Mereka gugur dalam pertempuran, Mar,” kata Bagong.

4. Setiap kata nama agama, kitab suci, Tuhan, dan sebutan untuk kata ganti Tuhan, juga menggunakan huruf kapital. Contoh:

Al-Qur’an
Alkitab
Islam
Kristen
Hindu
Allah
Tuhan
hamba-Nya

[CATATAN]

  • Belum lama ini, Kemenag RI meminta Badan Bahasa untuk mengubah ejaan nama serapan dari bahasa Arab untuk enam kata, antara lain:

Alquran –> Al-Qur’an
Baitulmakdis –> Baitulmaqdis
Kakbah –> Ka’bah
Lailatulkadar –> Lailatulqadar
Masjidilaksa –> Masjidilaqsa
Rohulkudus –> Ruhulkudus

Permintaan spesial. via www.hipwee.com

5. Huruf kapital juga dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat. Contoh:

Perdana Menteri Australia
Profesor Galih
Wakil Presiden Ma’ruf Amin
Proklamator Republik Indonesia (Soekarno-Hatta)

6. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa. Contoh:

bahasa Indonesia
suku Jawa
bahasa Sunda

[CATATAN]

  • Ketentuan ini nggak berlaku ketika nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa mengalami proses afiksasi atau kata dasar yang mendapat imbuhan. Contoh:

pengindonesiaan kata asing
keinggris-inggrisan

7. Huruf pertama pada nama tahun, bulan, hari besar atau hari raya juga menggunakan kapital. Contoh:

tahun Hijriah
bulan April
hari Minggu
hari Lebaran
hari Natal
hari Sumpah Pemuda

8. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama unsur nama peristiwa sejarah. Contoh:

Perang Dunia II
Perang Bharatayudha
Konferensi Meja Bundar

[CATATAN]

  • Ketentuan ini nggak berlaku kalau unsur nama peristiwa sejarah ini nggak dipakai sebagai nama. Contoh:

Pertengkaran Galih dan Ratna bisa memicu perang dunia.

9. Nama geografi juga menggunakan huruf kapital. Contoh:

Yogyakarta
Dataran Tinggi Dieng
Selat Sunda
Gunung Merapi
Laut Merah
Danau Toba
Jalan Kalimantan
Gang Potlot

[CATATAN]

Nama geografi nggak perlu memakai huruf kapital, jika:

  • Huruf pertama nama geografi yang bukan nama diri. Contoh:

berenang di danau
menyeberangi laut

  • Huruf pertama nama diri geografi yang dipakai sebagai nama jenis. Contoh:

petai cina
talas bogos
jeruk bali

  • Nama yang disertai nama geografi dan merupakan nama jenis dapat dikontraskan atau disejajarkan dengan nama jenis lain dalam kelompoknya. Contoh nama jenis:

Panggah menjual berbagai masakan berbahan pokok nasi, seperti nasi padang, nasi kuning, nasi goreng, dan nasi uduk.
Saya selalu menyimpan kunci inggris, kunci ring, kunci pas, kunci T, dan kunci L di bagasi motor.

  • Contoh yang bukan nama jenis:

Ajeng baru saja membeli batik Cirebon, batik Solo, batik Jogja, dan batik Pekalongan.

  • Khusus nama jenis ini memang agak rumit, maka untuk mudah memahaminya, simak uraian berikut:

Tanpa kapital: berasal dari alam, bisa disejajarkan dengan jenis lain, & menunjukkan daerah asal.
Kapital: buatan manusia, nggak bisa disejajarkan dengan jenis lain, dan nggak menunjukkan daerah asal.

10. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama dalam nama negara, lembaga, badan, organisasi, atau dokumen (termasuk semua bentuk kata ulang sempurna), kecuali kata tugas (di, ke, dari, dan, yang, dan untuk). Contoh:

Republik Indonesia
Perserikatan Bangsa-Bangsa
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Peraturan Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 tentang Pedoman Tata Naskah Dinas

11. Huruf kapital juga digunakan sebagai huruf pertama di dalam judul buku, karangan, artikel, makalah, dan nama majalah & surat kabar (termasuk semua bentuk kata ulang sempurna), kecuali kata tugas di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang nggak terletak di awal . Contoh:

Buku karya N.H. Dini yang paling aku suka adalah Pada Sebuah Kapal.
Galih pernah bekerja sebagai reporter di majalah Perubahan Zaman.

12. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan. Contoh:

S.S. (sarjana sastra)
M.A. (master of arts)
K.H. (kiai haji)
Pdt. (pendeta)
R.A (raden ayu)
Dr. (doktor)
Ny. (nyonya)

13. Huruf kapital juga digunakan di awal huruf pada kata sapaan (dalam nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, profesi, nama jabatan, dan kepanggatan) atau kata penunjuk hubungan kekerabatan. Contoh:

“Kapan Ibu pulang?” tanya Galih pada ibunya.
“Kamu tahu nggak, Gaes?”
“Dasar, Maling Jemuran!” ejek Ozi pada Galih.
“Dik, kamu harus nurut sama Kakak, ya!”
“Apakah Anda sudah daftar wisuda?”
“Bagaimana keadaan Galih, Dok?”
“Siap, Yang Mulia!”

[CATATAN]

  • Istilah kekerabatan ini bukan merupakan penyapaan atau pengacuan. Contoh:

Jangan sampai kita mengecewakan bapak dan ibu kita, ya!
Galih adalah anak semata wayang alias nggak punya kakak dan adik.

Dirangkum dari berbagai sumber.

_______________

Tentang penulis:

Penulis merupakan seorang bekas guru lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Jakarta yang kerap dijuluki polisi bahasa oleh masyarakat setempat.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Senois.

CLOSE