7 Tipe Penumpang Bus yang Akan Kamu Temui saat Naik Bus AKAP. Ada yang Ngeselin, Ada Juga yang Lucu!

Tipe penumpang bus AKAP

Bus AKAP alias antar kota-antar provinsi adalah sebuah bus yang melayani rute jarak jauh, dari satu kota ke kota lainnya yang berbeda provinsi (iyalah, namanya udah cukup jelas). Bus ini menjadi semacam tempat percampuran budaya dan pertemuan banyak orang. Kamu bisa menemukan begitu banyak ragam orang yang naik dan menggunakan moda transportasi yang murah dan ekonomis ini.

Advertisement

Dari begitu banyak hal yang bisa diamati di dunia ini, pernah nggak SoHip mengamati tindak-tanduk penumpang di sebuah bus AKAP? Karena penggunanya bermacam-macam, pastinya banyak perilaku orang-orang yang sebenarnya bisa kamu amati. Mungkin daftar kecil ini nggak mencakup semuanya, tetapi buat kamu yang nggak biasa naik bus AKAP, inilah secuil cerita yang mungkin juga dirasakan oleh SoHip yang setia jadi pelanggan bus AKAP.

Penumpang Grogi/Celingak-celinguk, baru pertama naik bus jarak jauh, maklumin aja

Kelewatan belom ya? Turun di mana ya? Dua pertanyaan yang ada di kepala penumpang ini | Foto oleh Shlomaster via pixabay.com

Yah, namanya juga pengalaman pertama ya, rasa khawatir pasti ada dalam benak penumpang ini. Biasanya penumpang ini akan sering menanyakan “ini udah sampe daerah mana ya?” Kok nanya begitu? Percayalah, nyasar dan kelewatan tujuan turun itu adalah hal yang memalukan dan menakutkan untuk orang yang baru pertama naik bus, apalagi kalau sendirian.

Penumpang Pules, ini orang-orang yang biasanya nempel molor, alias nggak bisa terjaga di perjalanan, entah capek, entah udah biasa

Posisi standar tidur di bus, lipat tangan, nyender, pake headset jika perlu | Foto oleh Ju Feng via commons.wikimedia.org

Meskipun kelihatannya tidak mengganggu, tetapi nggak jarang ada beberapa penumpang yang tertidur tidak dalam mode senyap, alias ngorok, kalau sudah begini, sabar ya. Mereka ini adalah orang-orang yang biasanya sudah menjadi penumpang bus regular dan punya “alarm alami” yang akan membangunkan mereka ketika sudah dekat tujuan. Perhatiin deh coba, biasanya orangnya bangun, nggak lama kemudian akan turun

Advertisement

Penumpang Piknik, duduk di deket penumpang ini bikin bekal dan uang sangu kamu hemat, tapi ada risiko tersembunyi pada penumpang ini

Ini adalah penumpang foodie, mereka akan bawa banyak bekal untuk disantap di perjalanan. Kalau nggak bawa bekal, biasanya mereka akan memborong tukang asongan yang naik ke bus. Penumpang ini biasanya akan sangat bersahabat jika setelan kamu seperti anak kost yang ingin pulang karena kehabisan uang. Tapi jika penumpang ini bawa anak kecil, apalagi yang aktif, harap berhati-hati, ada 50% kemungkinan si anak “jackpot” karena lari-lari dan kekenyangan, hehehe

Penumpang Bau Minyak Angin, memang nggak semua orang suka baunya, tapi nggak semua orang kuat dingin, jadi berkompromilah

Selain menggunakan minyak angin, penumpang ini juga biasanya menggunakan pakian tebal di bus | Foto oleh Pexel via www.pexels.com

Ini adalah ujian terberat buat kamu yang nggak biasa, bau minyak angin yang menyengat dan tertiup AC-bus adalah salah satu cobaan yang harus kamu hadapi, belum lagi kalau ada beberapa orang yang memakai minyak angin yang berbeda, ah, kombinasi mantap! Biasanya penumpang ini adalah bapak-bapak/ibu-ibu dengan umur di atas 50 tahun, jadi cobalah mengerti keadaan fisik mereka yang udah nggak memungkinkan untuk terkena dinginnya AC bus terlalu lama. Belajar kompromi sekalian.

Penumpang yang Bakal Nyeritain Silsilah Keluarganya dari Buyut sampe Cicit, kuncinya menghadapinya cuma dua, sabar dan “iya, pak/bu” sambil tersenyum karir

Mendengarkan musik ketika masuk ke bus juga bisa kamu jadikan langkah preventif untuk menghindari penumpang ini | Foto oleh Ryan McGuire via pixabay.com

Advertisement

Dimulai dengan pertanyaan “mau ke mana mas/mbak? Kerja?” maka kamu akan masuk ke dalam sebuah percakapan yang tidak ada habisnya. Penumpang ini biasanya akan menceritakan secara detail keadaan keluarganya bahkan silsilahnya sebagai bahan obrolan untuk mengisi waktu perjalanan, tanpa peduli kamu tertarik atau nggak. Penumpang seperti ini biasanya adalah laki-laki setengah baya alias om-om, kalau ibu-ibu? Ganti saja topiknya dengan gossip artist dan keluhan tentang anak yang nggak nurut sama orang tua, hehehehe.

Penumpang Cerobong Asap, entah memang kuat atau mau terkena penyakit pernapasan, tapi kamu akan menemukan jenis ini di bagian belakang bus

Beberapa bus di Indonesia pada bagian belakangnya terdapat sebuah area untuk merokok, tetapi entah mengapa, ada saja orang yang betah dari naik sampai turun duduk di area ini. Padahal area ini minim AC, banyak asap, sempit, dan lumayan panas kalau siang hari. Mungkin orang-orang ini sangat mencintai rokok dan nggak takut terkena penyakit pernapasan kali ya, makanya mereka rela duduk berjam-jam di area merokok sebuah bus, yah itu pilihannya dia kan.

Penumpang yang Bete Karena Harus Berdiri, realita emang kejam, tetapi lebih kejam kalimat “sini mas, masih kosong”, padahal busnya penuh

Kalau kamu nggak mau berdiri, sebaiknya cepat turun lewat pintu belakang | Foto oleh Free-Photos via pixabay.com

Penumpang seperti ini bisa kamu temukan di bus AKAP yang trayeknya nggak terlalu jauh, Jakarta-Serang atau Jakarta-Garut misalnya. Memang pada akhirnya penumpang ini bisa duduk, kalau ada yang turun di tengah jalan, tapi kalau nggak? Siap-siap berdiri selama beberapa jam dengan kaki keram dan muka dongkol, apalagi kalau macet, ahahahaha. Mengingat bus di Indonesia masih mementingkan keuntungan daripada kapasitas bus, jadi jangan heran kalau tetap akan ada orang yang termakan kalimat “sini mas, masih kosong”. Nggak salah sih, kosong buat yang berdiri, bukan yang duduk.

Dengan segala macam ragam orang-orang yang naik bus, pastinya setiap orang akan punya pengalamannya sendiri dan persepsinya sendiri tentang penumpang bus lain. Jadi kamu pernah ketemu yang mana? Atau kamu punya pengamatan lain?

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Penikmat jatuh cinta, penyuka anime dan fans Liverpool asal Jombang yang terkadang menulis karena hobi.

CLOSE