Kamu tentu sudah akrab dengan kata “cinta”, bukan? Tak hanya dalam kehidupan sehari-hari, “cinta” selalu jadi topik menarik dalam lagu, novel, hingga film. Tapi, apakah kamu memang benar-benar cukup mengerti soal cinta?

Bisa jadi banyak hal kaitannya dengan cinta yang sebenarnya tak kamu pahami, atau belum benar-benar kamu mengerti. Mengaku pernah merasakan cinta, sudahkah kamu memahami fakta-fakta cinta dalam artikel ini?

Apa kamu percaya cinta pada pandangan pertama? Padahal, bisa jadi ia tak pernah benar-benar ada.

cinta pada pandangan pertama

cinta pada pandangan pertama via www.thewallpapers.org

Advertisement

Konsep “cinta pada pandangan pertama” sekilas terdengar terlalu absurd. Bagaimanapun, rasa tertarik yang muncul pada pertemuan pertama sudah pasti berdasar pada kesukaan fisik semata. Dia yang membuatmu jatuh cinta mungkin tampak sangat cantik atau punya gaya berpakaian yang terlihat sangat keren. Tapi, sekadar rasa tertarik tentu tak bisa disejajarkan dengan perasaan jatuh cinta, bukan?

Jatuh cinta hampir pasti melewati proses yang panjang. Melibatkan dua orang yang sudah lama berhubungan dekat dengan jalinan emosi yang kuat. Banyak momen yang dilewatkan bersama hingga pada akhirnya bisa meyakinkan diri sendiri bahwa ada perasaan yang begitu hebat bertajuk jatuh cinta.

Saat kamu mengaku bisa jatuh cinta pada orang yang baru pertama kali kamu temui, yakinkah sepenuhnya kamu bahwa itu memang benar-benar cinta? Bukan hanya ketertarikan fisik semata?

Jangan mencintai dengan buta. Sekadar jatuh cinta dan sungguh-sungguh mencintai jelas berbeda.

jatuh cinta vs mencintai

jatuh cinta atau sungguh-sungguh mencintai via unwrappedphotos.com

Advertisement

Apakah kamu pernah sekadar jatuh cinta atau sudah sungguh-sungguh mencintai? Meskipun sekilas terkesan sama, dua hal ini justru punya makna yang jauh berbeda. Jatuh cinta adalah perasaan yang bisa sekejap membolak-balikkan duniamu. Membuatmu seperti mabuk dan melihat dia yang menjadikanmu jatuh cinta layaknya manusia sempurna. Segala sesuatu terasa benar-benar indah dan kamu tak pernah sedetik pun melupakan perasaanmu.

Namun, mencintai dengan sungguh-sungguh justru berbeda. Kamu tidak sedang terburu-buru, pun sibuk memikirkan dia setiap saat. Kamu punya perasaan yang bisa bertahan lama; rasa yang cenderung langgeng dan permanen. Kamu menjalani hidupmu dengan wajar. Kamu pun tak selalu berharap bisa bersamanya, tapi cukup peduli untuk memikirkan atau menyebut namanya di sela-sela doamu.

Setiap cinta yang datang pasti punya aroma dan rasa yang tak sama. Tak ada cinta yang bisa disebut serupa.

every love is different

cinta datang dalam rupa yang berbeda via www.apnatimepass.com

Sepanjang perjalanan cintamu, mungkin tak hanya satu atau dua cinta yang kamu rasakan. Mungkin, ada sekian nama-nama yang pernah mengisi hati dan membuatmu jatuh cinta. Namun, adakah sekian nama-nama itu punya kesan yang sama dalam hatimu? Tentu tidak. Setiap cinta yang mampir dalam hidupmu pasti punya cita rasa yang berbeda.

Cinta pertamamu adalah dia yang dulu paling nakal di sekolah. Sementara, cinta kedua adalah cowok kutu buku yang paling pintar di kelasmu. Caramu mengenal mereka, memulai proses pendekatan, menemukan hal-hal yang kamu sukai dan tidak kamu sukai; banyak hal yang membuat satu persatu kisah cintamu berbeda. Mereka yang sukses membuatmu jatuh cinta pun punya keunikannya masing-masing.

Cinta yang datang akan menawarkan hal-hal baru. Ia hadir untuk memberi warna dalam hidupmu.

menawarkan hal baru

cinta menawarkan hal-hal baru via www.hdwpapers.com

Hampir sama dengan poin sebelumnya, setiap cinta akan menawarkan hal yang baru – yang berbeda daripada sebelumnya. Lepas dari cinta pertamamu, kamu pun singgah pada cinta yang kedua. Kamu perlahan mulai mengenal pasangan yang saat ini mendampingimu. Mengerti selera musiknya, film-film kesukaannya, hingga makanan atau minuman yang jadi kegemarannya.

Berdampingan dengannya membuatmu tak ragu memasuki dunia baru; kenalan baru, teman-teman baru, dan keluarga baru misalnya. Banyak hal yang akhirnya menjadikanmu mau belajar atau setidaknya mau mengerti. Demi dia yang saat ini jadi bagian hidupmu, kamu tak enggan mencoba sesuatu yang sebelumnya belum pernah kamu tahu.

Bukan ilmu Matematika atau Fisika, cinta tak akan pernah selesai dengan rumus dan hitungan angka.

cinta

cinta tak mengenal rumus via www.flickr.com

Cinta bukanlah ilmu pasti, layaknya Matematika atau Fisika. Demi bisa mencintai dan dicintai kamu tak butuh rumus. Bagaimana kamu bisa menghadapi pasangan yang pemarah, kekanak-kanakan, atau posesif? Kamu akan tahu saat sudah benar-benar menjalani hubunganmu. Bahwa menjalin komitmen itu sama halnya seperti belajar; mengenal karakter pasangan sekaligus dirimu sendiri.

Bahkan, meskipun sudah baik-baik menjalani hubungan, tak ada jaminan bahwa segala sesuatunya akan lancar. Sudah demikian sabar menghadapi pasangan yang pemarah, bukan berarti hubunganmu akan langgeng. Cinta ibarat jalanan asing yang panjang dan gelap. Bersedia melewatinya berarti siap menata hati untuk menerima kejutan-kejutan yang sudah menantimu.

Perkara perasaan tak akan pernah memberimu kepastian. Kadang, cinta memang harus berakhir dengan kata “putus” dan penerimaan.

gagal

gagal soal cinta itu sah-sah saja via blog.oup.com

Layaknya kehidupan, cinta juga dihadapkan pada kemungkinan, ketidakpastian, dan perubahan. Bukan tidak mungkin jika sepasang kekasih yang dulu saling mencintai bisa berubah saling membenci atau bahkan enggan sekadar bertegur sapa. Saat hal ini terjadi, kamu dan pasanganmu pun sama-sama tak layak disalahkan.

Kadang, ada pasangan yang memang disatukan untuk kemudian dipisahkan. Sekeras apapun berusaha dan mencoba, pun akhirnya harus berpisah. Ya, cinta mungkin tak melulu soal akhir, tujuan, atau sebuah rumah yang bisa ditinggali bersama. Cinta bisa jadi sebuah perjalanan yang tak perlu disesali, tak boleh dianggap sia-sia, tapi sekadar dikenang dan dibanggakan. Bahwa kamu dan pasanganmu pernah demikian hebat berjuang demi cinta kalian, meskipun akhirnya harus menyerah kalah pada keadaan.

Kadar perasaan juga tak bisa disamakan. Ada kalanya kamu harus rela jadi pihak yang mencintai lebih dalam.

mencintai lebih dalam

mencintai pasangan lebih dalam via wallpapers.brothersoft.com

Hubungan cinta yang ideal selayaknya melibatkan dua orang dengan porsi cinta yang sama besarnya. Namun, tak jarang seseorang punya cinta yang besar, sedangkan pasangannya mencintai dengan biasa saja. Adakah salah satu harus merasa bersalah? Jawabannya tidak. Cinta, hati, perasaan, atau apapun itu tak layak dipersalahkan. Mereka akan terjadi begitu saja secara alami, tak perlu dibuat-buat.

Meskipun sedih melihat dia yang tak pernah berusaha segigih kamu untuk mempertahankan cinta kalian, kamu layak berbangga hati. Setidaknya, kamu sudah belajar mencintai dengan tulus – tanpa berharap balasan yang setimpal. Kelak, akan ada saat dimana pasanganmu pun menyadari bahwa dia tak pernah menemukan orang lain yang bisa mencintainya sehebat kamu.

Meski tak pernah lunas menawarkan bahagia, toh manusia selalu ingin kembali merasakan cinta.

bahagia

cinta tak selalu berakhir bahagia via wallpaperlist.com

Salah jika cinta dianggap selalu identik dengan kebahagiaan. Nyatanya, cinta seringkali menawarkan kekecewaan, penyesalan, rasa sedih, hingga depresi. Cinta yang bertepuk sebelah tangan atau cinta yang ditakdirkan untuk gagal bisa jadi pernah kamu rasakan. Tapi, cukupkah pengalaman ini membuatmu enggan mencintai atau dicintai lagi?

Cinta bisa jadi ibarat candu yang selalu membuatmu ingin mencoba. Bahkan, saat kamu bisa meraba akhir tragis perjalanan cintamu pun, kamu masih saja ikhlas melakoninya. Ya, cinta memang tak lunas menawarkan bahagia, tapi tak lantas pantas untuk dilewatkan begitu saja.

Nah, gimana? Apakah salah satu dari beberapa fakta cinta di atas pernah terjadi dalam hidupmu? Sudahkah pengalaman itu menjadikanmu lebih dewasa dan mawas diri? Apapan ceritamu, semoga kehidupan cinta yang berbahagia selalu menyertaimu, ya! 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya