Beberapa orang yang pernah bersama, jika cukup dewasa, akan tetap menjadi teman setelah berakhirnya hubungan mereka. Mereka tetap bertukar pesan setiap hari raya, mengucapkan selamat saat salah satunya menjalani hari bahagia, tak pernah terpikir untuk mendoakan mantan pasangannya petaka. Tapi kurasa bukan hanya sikap dewasa saja yang dibutuhkan jika dua orang yang pernah bersama tetap ingin berteman. Ada syarat lainnya yang harus dipenuhi: mereka berpisah tanpa ada yang merasa terkhianati. Dan dalam kasus kita, sayangnya, perpisahan yang adil tak terjadi.

Saat kau berkata kau tak lagi punya rasa, aku memang hanya diam saja. Menampakkan keterkejutan toh akan percuma: takkan membuat kita tetap bersama. Tapi kau tak tahu apa saja yang kupikirkan di dalam akal. Mana kau tahu, apa yang harus kutekan demi mendapat predikat “tegar”. Rasa sakit yang paling besar adalah yang tak tampak di permukaan.

Advertisement

Lalu sekarang kau kembali, seolah tak pernah sengaja melukai. Hei, kau pikir kau Tuhan yang berhak membolak-balik hati?

Siapa kau memintaku membuka pintu? Berdirilah di luar pagar — takkan kupaksa masuk dia yang pernah tak betah ada di dalam

Kau pernah tak betah ada di dalam, bukan?

Kau pernah tak betah ada di dalam, bukan? via www.lamorbidamacchina.com

Bukannya pendendam. Hanya malas mengulang apa yang sebelumnya jelas tak berujung kebaikan. Biarpun tak suka mengungkit-ungkitnya, aku tak pernah lupa bagaimana hari-hari pertama kau memilih pergi. Bicara padamu lagi sama saja dengan memutarnya kembali — maaf, ini bukan sesuatu yang kusukai.

Butuh waktu lama sebelum aku akhirnya bisa memberanikan diri pergi ke tempat-tempat yang untuk kita dulu pernah berarti. Musik yang dulu selalu kau putar, untuk beberapa waktu selalu kuhindari. Aku melakukan “pembersihan” perlahan-lahan. Kadang hati kecil dan pikiran harus kulunakkan terlebih dulu karena ingin melawan. Untuk sampai di titik ini, butuh waktu yang tak sebentar.

Advertisement

Bukankah salah satu tanda bahwa seseorang sudah legawa, adalah rela membuka pintu lagi untuk orang yang pernah jadi bagian dirinya?

Kata siapa? Rumusnya tak sesederhana itu. Maaf, aku tak berhutang apapun padamu. Tak ada kewajiban buatku untuk membuka pintu. Silakan berdiri di luar pagar, tak ada gunanya kau kuundang ke dalam. Bukankah kau pernah merasa terkunci di sana dan mendesak ingin keluar?

Alasanmu untuk pergi pun tak main-main. Padaku kau sudah tak yakin — dirimu lebih memilih yang lain

Kau sendiri yang dulu memilih pergi. Aku tak pernah mengusirmu — justru sempat senang kau ada di sisi. Bukan aku di antara kita yang tiba-tiba bilang ia “tak yakin.” Bukan aku yang menutup pembicaraan malam itu dengan “Jujur, aku lebih baik pilih yang lain.” Oh, bukan aku juga yang mengatakan permisi dan berjalan keluar dengan dingin.

Perlu beribu waktu dan tenaga untuk menemukan diriku yang lama. Kini kau ingin kembali dan memperbaiki semua. Maaf, maksudnya apa?

Apakah kau merasa bersalah karena meninggalkanku mendadak dan begitu saja? Atau apakah dia yang lebih kau pilih dulu tak bersikap seperti yang kau kira? Apakah ternyata aku punya sesuatu yang tak dimiliki gadis-gadis lainnya di luar sana? Atau apa kau terbangun tiba-tiba suatu malam, lalu sadar bahwa ada dari dirimu yang kini hilang?

Aku tak tahu. Dan kurasa kini, aku tak begitu peduli.

Mungkin kau lupa, tapi hati bukan bus jurusan pulang-pergi. Kalau sudah meninggalkan, tak usah repot-repot kembali.

Mungkin kau perlu belajar dariku. Kadang kau harus bilang persetan pada masa lalu. Tak perlu menyesal kenapa dulu kau ngotot ingin meninggalkan. Lagipula, kenapa baru menyesalinya sekarang?

Aku tak tahu apa kau mengetahui hal ini, karena aku tak yakin kau punya hati. Tapi hey, hanya sekadar mengingatkan lagi: hati bukan bus jurusan pulang-pergi.

Hati terbuat bukan untuk dibolak-balikkan karena impulsi. Ia akan mengembang sempurna saat dirawat sebaik-baiknya, diberi hormat oleh pemiliknya atau kepada siapa sang pemilik menitipkannya. Setelah beberapa lama kita bersama, aku tak yakin kau punya jasa penitipan terbaik di dunia. Terima kasih, tapi lebih baik yang jadi milikku kusimpan untuk diri sendiri saja — atau setidaknya, untuk orang yang akan lebih menghargainya. Mungkin saat ini memang belum kuketahui siapa. Suatu saat nanti — ada saatnya.

Kau seharusnya tak usah repot-repot kembali. Silakan pakai sepatumu lagi, aku tak membutuhkanmu di sini.

Hidupku sudah lebih baik dibandingkan saat kau masih ada di dalamnya. Berbahagialah: kepergianmu dulu tidak sia-sia.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya