Sebagian besar orang tentunya pernah mendengar mengenai penyakit jamur, kudis/kurap/kadas, panu, dan sebagainya. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa ternyata di dunia ini terdapat beberapa macam penyakit kulit langka yang jarang dijumpai? Di bawah ini Anda dapat melihat 5 jenis penyakit kulit paling langka di dunia.

1. Argiria

Argiria merupakan suatu keadaan di mana kulit penderita mengalami perubahan warna, yaitu menjadi biru keabuan. Keadaan ini terjadi saat seseorang mengkonsumsi atau terpapar oleh perak dalam jumlah besar dalam waktu yang cukup lama.

Argiria yang disebabkan oleh banyaknya paparan terhadap perak biasanya dialami oleh para penambang perak atau pada buruh pabrik perak atau pada orang yang pekerjaannya adalah memproses film negatif (tempat cuci cetak foto).

Beberapa orang lainnya mengkonsumsi perak karena mendengar bahwa perak dapat membantu mengatasi beberapa gangguan kesehatan seperti radang sendi, diabetes, atau bahkan AIDS. Selain itu, penggunaan bahan penambal gigi dari perak diduga juga dapat menyebabkan terjadinya argiria. Hingga saat ini, belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan argiria.

2. Sindrom Steven Johnson & Nekrolisis Epidermal Toksis

Advertisement

Sindrom Steven Johnson via http://dokterpost.com

Sindrom Steven Johnson (Stevens-Johnson Syndrome/SJS) dan nekrolisis epidermal toksis (Toxic Epidermal Necrolysis/TEN) merupakan suatu gangguan kulit berat yang menyebabkan kulit dan bahkan lapisan organ dalam mengelupas. Keduanya pun memiliki gejala yang sama sehingga seringkali disamakan oleh para dokter (SJS/TEN).

Gejala awal dari SJS dan TEN adalah adanya berbagai gejala seperti flu yang kemudian diikuti oleh timbulnya bercak kemerahan dan lepuhan yang terasa nyeri pada kulit. Perbedaan antara SJS dan TEN adalah pada berapa banyak kulit yang terkena.

Bila hanya mengenai 10% kulit pada permukaan tubuh, maka keadaan ini disebut dengan SJS. Bila telah mengenai sekitar 10-30% kulit pada permukaan tubuh, maka keadaan ini disebut dengan SJS/TEN. Bila telah mengenai lebih dari 30% kulit pada permukaan tubuh, maka keadaan ini disebut dengan TEN.

Sebagian besar penderita mengalami gangguan ini karena suatu reaksi alergi terhadap obat-obatan tertentu. Beberapa jenis obat-obatan yang dapat menyebabkan terjadinya SJS/TEN adalah obat golongan NSAID, allopurinol, fenitoin, karbamazepin, barbiturate, anti kejang, dan antibiotika golongan sulfa. Akan tetapi, pada sekitar seperempat kasus SJS/TEN, dokter tidak dapat menemukan penyebab yang jelas.

SJS/TEN seringkali dapat disembuhkan, tergantung pada keparahan gejala. Karena keduanya dapat mengancam nyawa penderitanya maka perawatan di rumah sakit pun biasanya diperlukan. Pengobatan yang biasa dilakukan adalah dengan memberikan immunoglobulin, antibiotika (untuk mencegah terjadinya infeksi pada kulit), dan kortikosteroid (untuk mengatasi peradangan) melalui infus.

3. Dermatografia

Dermatographia via http://66.media.tumblr.com

Gangguan kulit yang satu ini memang sangat jarang, tetapi biasanya tidak membahayakan jiwa penderitanya. Pada dermatografia, penderitanya biasanya memiliki kulit yang sangat sensitif, di mana luka sekecil apapun dapat membuat kulit kemerahan dan bengkak. Penderita biasanya juga akan merasa gatal.

Ingin tahu sesensitif apa kulit penderita dermatografia? Anda dapat membaca apa yang Anda tulis dengan kuku jari Anda pada permukaan kulit penderita. Hanya dalam waktu beberapa menit, kulit akan langsung tampak memerah dan bengkak seperti saat Anda tergores oleh suatu benda tajam.

Hal lainnya yang juga dapat membuat kulit penderita dermatografia memerah dan bengkak adalah gesekan dengan pakaian, cuaca panas, cuaca dingin, sinar matahari, atau bahkan saat mereka marah. Hingga saat ini, para dokter masih belum mengetahui apa penyebab pasti dari dermatografia, tetapi banyak ahli menduga keadaan ini merupakan suatu jenis reaksi alergi.

Gejala biasanya akan menghilang dalam waktu 30 menit atau beberapa jam, akan tetapi karena dapat membuat penderitanya kesakitan, maka dokter biasanya menganjurkan penderita untuk mengkonsumsi obat anti alergi secara teratur. Selain itu, dianjurkan juga agar penderita mengkonsumsi cukup air putih dan menggunakan pelembab karena kulit kering dapat membuat gejala bertambah buruk atau justru memicu timbulnya gejala.

4. Iktiosis Harlequin

Iktiosis Harlequin via http://www.documentingreality.com

Iktiosis harlequin merupakan suatu gangguan kulit yang biasanya mengenai bayi baru lahir, di mana mereka terlahir dengan kulit yang tebal dan keras. Pada dokter menduga bahwa iktiosis harlequin disebabkan oleh suatu kelainan genetika, di mana terjadi mutasi pada gen ABCA12 yang berfungsi untuk mengatur perkembangan lapisan epidermis (lapisan kulit terluar) kulit.

Gangguan kulit yang sangat langka ini akan membuat para bayi baru lahir tersebut kesulitan mengendalikan pengeluaran cairan dari dalam tubuhnya, yang pada akhirnya akan membuat bayi mengalami dehidrasi berat.

Bayi yang menderita iktiosis harlequin biasanya akan mengalami kesulitan untuk bergerak, bernapas, melawan infeksi, dan mengatur suhu tubuhnya. Berbagai hal inilah yang biasanya akan membuat bayi baru lahir meninggal dalam waktu beberapa minggu setelah lahir.

Walaupun demikian, beberapa orang bayi dapat bertahan hidup, tetapi mereka tetap membutuhkan perawatan intensif di dalam inkubator untuk menjaga agar suhu tubuhnya tetap stabil serta membuat para petugas medis dapat mengawasi berapa banyak cairan dan nutrisi yang hilang, yang harus segera digantikan. Iktiosis harlequin merupakan suatu gangguan kulit yang tidak dapat disembuhkan.

Salah seorang penderita yang berhasil bertahan hidup hingga memasuki masa remaja mengatakan bahwa ia harus mengkonsumsi sekitar 7.500 kalori setiap harinya untuk menggantikan nutrisi yang hilang karena proses pengelupasan kulitnya yang berlangsung 10 kali lebih cepat dari normal dan harus mengoleskan pelembab pada kulitnya sekitar 7 kali sehari.

5. Xeroderma Pigmentosum

Bila dermatografia merupakan suatu gangguan kulit yang membuat penderitanya sangat sensitif terhadap sentuhan atau gesekan, maka xeroderma pigmentosum merupakan suatu gangguan kulit yang membuat penderitanya menjadi sangat sensitif terhadap sinar ultraviolet (UV).

Penderita xeroderma pigmentosum harus menghindari pancaran sinar matahari yang menembus masuk melalui jendela dan bahkan sinar fluoresens. Apa yang terjadi pada kulit penderita bila mereka terpapar oleh sinar UV? Sebenarnya sama dengan semua orang lainnya, tetapi jauh lebih parah karena kulit mereka amat sangat sensitif.

Gejala yang timbul saat penderita terpapar sinar matahari (walaupun sangat sedikit) adalah kulit terbakar, timbulnya lepuhan pada kulit, dan bercak kehitaman pada kulit. Selain itu, kulit penderita juga menjadi sangat tipis hingga pembuluh darah di bawah kulit pun terlihat.

Keadaan ini tentu saja akan membuat penderita menjadi sangat rentan terhadap kanker kulit. Anak-anak yang mengalami gangguan kulit ini biasanya akan mengalami kanker kulit dan meninggal saat mereka baru saja memasuki masa dewasa.

Xeroderma pigmentosum terjadi akibat adanya kelainan genetika, yang menyebabkan gangguan pada proses perbaikan DNA. Pada orang normal, kerusakan DNA yang terjadi akibat terbakar sinar matahari dapat segera diperbaiki, akan tetapi pada penderita xeroderma pigmentosum perbaikan ini tidak dapat berlangsung.

Walaupun telah tersedia berbagai jenis obat-obatan untuk mengatasi gejala, akan tetapi para ahli masih belum menemukan cara menyembuhkan kelainan ini.