Kami bukan pasangan luar biasa seperti pasangan romantis di film yang diputar di sinema, telenovela apalagi drama Korea. Kami hanyalah pasangan biasa saja, dengan keseharian yang sangat biasa, bangun pagi seperti orang kebanyakan, sarapan di meja yang sama setiap hari meski tanpa pembicaraan apa-apa, berangkat bekerja seperti orang-orang lainnya.

Beginilah kami, pasangan yang biasa-biasa saja, jauh.. Sangat jauh dari istimewa.

1. Keseharian kami, selalu biasa saja. Tidak seperti kalian yang penuh kisah romantis setiap harinya.

keseharian kami jauh dari kata istimewa via http://google.com

Bangun pagi dengan wajah yang berantakan karena entah mimpi apa semalam, sempat sedikit bete karena rebutan kamar mandi akibat kebelet pipis. Sarapan pagi dengan nasi goreng telur dengan nasi sisa semalam.

Pagi kami, sering kali dilewatkan dengan saling diam. Bukan karena marahan, hanya tak tahu harus membicarakan apa.

"Mas, hari ini pulang cepat atau lembur?" "Sepertinya pulang seperti biasa saja. Kenapa?" "Oh, tak apa. Aku mungkin akan pulang sore juga, mungkin Mas pulang sambil beli makan dan aku nitip juga." "Oh, iya. Tak masalah."

Advertisement

Dan selanjutnya, aku hanya akan melanjutkan baca koran sambil sarapan dan dia sarapan sambil menyeruput teh hangat yang masih berasap banyak.

Hari kami, betul-betul biasa. Tapi rasanya, kami tak pernah iri pada pasangan-pasangan lain yang saling mengumbar kata cinta dan seolah dunia hanya milik berdua. Karena hari terbaik bagi kami adalah ketika kami masih tetap bersama dengan baik-baik saja setiap harinya.

2. Perjalanan “wah” milik kalian, tak pernah membuat kami iri. Karena bagi kami, tempat terindah adalah di sini

meski kami tak kemana-mana, kami selalu berbahagia via http://google.com

Istriku memasak sarapan, dan aku membaca koran atau menonton televisi, sekali waktu membetulkan kerusakan kecil di rumah kami. Memperhatikan istriku berebut sayur di tukang sayur keliling yang berhenti tepat di depan rumah. Sambil duduk dan menunggu kopi pagiku sedikit turun suhunya, serta membaca kabar yang disampaikan para pencari berita seluruh negeri di koran pagi.

Sesiangan kemudian, aku mungkin sedang membuat sesuatu untuk rumah kami. Entah itu rak buku, atau tempat menyimpan bumbu dapur untuk menggantikan yang lama karena sudah pecah tutupnya. Lalu malamnya, kami menikmati makan dan tak jarang diisi diam namun penuh syukur, atau percakapan-percakapan kecil dan menyenangkan dari kami berdua. Akhir minggu kami, selalu habis dengan kegiatan seperti itu.

Tak melulu perjalanan mahal dan romantis, makan malam di restoran mahal dan menonton bioskop, mengunjungi pantai-pantai terkenal yang bisa kita lihat bersama di televisi, atau pergi ke luar negeri untuk menghiasi pasport kami dengan cap-cap berbagai negara asing. Bagi kami, tempat terbaik adalah di sini, rumah kami.

Karena bagi kami, tempat terbaik adalah rumah, dan rumah menurut kami, adalah tempat di mana orang-orang tersayang berada.

3. Pertengkaran kami tak selesai dengan bunga atau kata cinta, tapi hampir selalu selesai dengan bicara

meski bertengkar, dengan bicara kami memperbaiki semuanya via http://google.com

Tak jarang ketika aku sedang menonton televisi, istriku ingin menonton acara kesukaannya. Akhirnya kami beberapa kali berdebat kecil karena semua enggan mengalah. Beberapa kali juga, kami bertengkar mengenai pengeluaran rumah tangga dan pendapatan, karena aku membeli hobiku, dan dia membeli kesukaannya tanpa sepengetahuan pasangan masing-masing.

Pertengkaran kami, tak selesai dengan bunga seperti di film remaja, pun tak menjadi baik hanya dengan ucapan ucapan cinta. Sering kali kita bertengkar hingga mendiamkan satu sama lain. Tapi akhirnya, entah aku atau dia, akan selalu ada yang memulai percakapan dan mendiskusikan masalah kami berdua.

Karena kami percaya, hubungan adalah hal yang harus dibangun dengan kesepakatan-kesepakatan, kompromi-kompromi dan pembicaraan yang tak sedikit jumlahnya.

4. Bukan makan malam di restoran bintang lima atau bunga, tapi perayaan kisah kami cukup dengan syukur dan doa.

kami selalu berdoa, agar kami selalu baik-baik saja via http://google.com

"Happy Anniversary, sayang!" "Terima kasih, sayang. Kamu romantis banget!"

Mungkin demikian kata-kata yang diucapkan pasangan-pasangan pernikahan jaman sekarang, sambil duduk di meja restoran mahal berbentuk lingkaran serta lilin di tengah-tengah mejanya. Tak lupa mawar merah segar dalam sebuah vas kaca bening berisi air setengah kosong.

Kami menikmati perayaan pernikahan kami dengan meluangkan waktu untuk bicara satu sama lain, saling mengeluh perihal kami dan bertukar saran, mensyukuri segala hal yang kita lewati bersama, lalu diakhiri dengan doa agar diberi kesempatan saling mendoakan setiap harinya.

5. Bukan ingin selalu bersama sampai tua, harapan kami dulu hanya agar semua selalu baik-baik saja.

saat muda, harapan kami sederhana via http://google.com

Ketika pertama kali menikah, kami berdua sama takutnya, sama khawatirnya tentang masa depan yang ada di depan kami. Kami bertemu sebagai seorang individu bebas yang memiliki ego yang sama tingginya. Lalu akhirnya kami memutuskan untuk menikah, bukan berarti kami memang siap untuk segala yang akan kami songsong di depan mata.

Tak seperti kebanyakan pasangan bahagia yang berharap untuk selalu bersama sampai tua, harapan kami hanya sederhana, agar kami selalu baik-baik saja. Selalu bisa menghadapi hal sulit bersama-sama, dan menikmati hari dengan baik-baik saja.

Kepada pasangan muda di luar sana, jatuh cinta dan menikah bukan tentang ke mana, di mana, apa, dan bagaimana. Tapi menikah tentang menikmati hidupmu dengan sederhana tapi selalu bersyukur, dan yang terpenting, bersama siapa, kita.