Sejak adanya sosial media, pihak-pihak yang gencar mengkampanyekan menikah muda banyak sekali. Persentasenya jauh lebih banyak ketimbang kampanye dari pihak-pihak yang mau memberi edukasi soal pra-nikah. Karena sekalipun menikah itu anjuran, namun pembekalan bagi mereka yang sudah berada dalam usia siap menikah juga tak kalah penting.

"Hih, padahal si tetangga baru kita itu, usianya baru 25 tahun tapi anaknya udah TK. Masa kamu yang sudah berusia 29 masih sendiri aja? Kapan nikah?”

Kalau mereka ngatain gitu cuma sekali, mungkin kita bisa jawab dengan santai. Tapi, kalau sudah terlampau sering, mending kalian ungkapkan ini kepada mereka:

 

1. Segala sesuatu yang dimulai dengan paksaan, tak akan pernah nyaman, trmasuk pernikahan

Jangan dipaksa via https://accounts.google.com

Kamu pernah merasakan masuk jurusan di sekolah atau ketika kuliah karena dipaksa? Buat yang nggak pernah, mending diem aja.Tapi buat kalian yang pernah, pasti kamu ngerasain: betapa menyedihkannya hidup di antara orang-orang yang menjalani hidup dengan passion, sementara kamu sendiri menjalaninya dengan paksaan.

Kamu akan sering melihat teman-teman sekelasmu mengobrol menggunakan bahasa teknis, membicarakan problem mereka menghadapi pelajaran sambil ketawa-ketawa, sementara kamu sendiri cuma melongo. Nyesek? Iya, banget.

“Awalnya mungkin sakit, tapi lama-lama pasti enak. Terbiasa!”

Advertisement

Mungkin tidak bisa dipungkiri ada juga yang berhasil. Tapi bayangkan mereka yang semula menikah gara-gara paksaan, lalu setelah dijalani bertahun-tahun rupanya tak cocok-cocok juga. Ingin cerai, tapi pasti jadi buah bibir lagi. Sama kayak halnya pas sudah tua tapi belum nikah-nikah. Kalau dipaksain, hati akan tersiksa. Kalau sudah begitu, siapa yang mau tanggung jawab?

2. Mula-mula, kamu dulu yang penting. Baru ke yang lain, dikompromikan. Kan, kamu, yang kelak menjalani.

Karena pada akhirnya nanti, apa pun saran dan paksaan dari orang-orang, kamulah aktor atau aktris yang akan menjalani biduk rumah tangga bersama pasanganmu. Tentu, harapannya bisa seumur hidup. Kalau urusannya sudah seumur hidup gitu, pastikan kamu cukup menyaring masukkan dari orang-orang ke kamu. Kalau itu baik, bisa kamu pakai. Kalau menurutmu tak sesuai, kamu bisa tetap bertahan dengan orang atau argumen yang sudah kamu yakini.

Jadi mula-mula, mantapkan diri dulu. Kalau sudah kalian bisa minta pertimbangan ke orangtua. Kalau mereka setuju, ya jalan terus. Tapi kalau mereka tak setuju, dan ternyata argumen mereka pun kuat, coba cari jalan tengah. Siapa tahu ada solusi. Kalau ketemu, syukur. Kalau nggak, ya ada baiknya kamu jangan ngelawan orangtua juga.

Lepas dia dengan ikhlas, namun tak serta-merta menerima saran yang orangtuamu tawarkan. Selalu seleksi lebih dulu. Pokoknya harus sampai bertemu orang yang cocok denganmu dan keluargamu.

3. Menikah itu bukan seperti balap lari: kalau duluan berarti dia yang menang, tapi soal ketepatan!

Kalau kamu sudah terus berupaya, dan tak pernah berhenti berdoa, namun jodoh belum kunjung tiba, ya tak perlu kecewa. Tugas manusia hanya berdoa dan berusaha, hasil itu selalu milik Tuhan. Kalau kamu sudah berdoa dan berusaha, tapi belum dapat juga, kemudian orang-orang sibuk meledekmu, maka katakan saja pada mereka, “Menikah itu bukan seperti balap lari, yang kalau duluan berarti dia yang menang, tapi soal ketepatan.”

Tuhan memang sudah berjanji akan mencukupkan rezeki bagi hamba-Nya yang menikah. Tapi jangan lupa juga, kalau sebelum menikah kamu juga berkewajiban untuk memiliki bekal diri dan keuangan yang baik. Karena menikah urusannya bukan melulu soal selangkangan, namun juga matangnya kepribadian dan keuangan!

4. Tuhan memang berjanji mencukupkan rezeki bagi hamba-Nya, tapi kamu tetap harus mem-follow up janji itu dengan upayamu, bukan?

Menikah dengan modal yakin, tanpa memiliki landasan yang kuat itu bagaikan orang yang sedang mengadu nasib di perantauan. Dari tanah kelahiran, percaya sekali kalau kelak di kota bakal sukses, namun setelah sampai di kota, rupanya baru sadar kalau yakin saja tak cukup. Kalian juga butuh landasan yang kuat sejak sebelum berangkat.

Persiapkan keuanganmu sebaik-baiknya. Menikah tua tapi tanpa beban ekonomi nikmat 'kan?

5. Memilih menikah atau menunda dulu, semua ada konsekuensinya

Ini adalah bagian akhir dari artikel ini, yang harus bersama-sama kita renungkan. Apa pun yang kalian pilih, semua memiliki konsekuensi logis. Kalau hari ini kalian sudah yakin ingin menikah, pastikan siap dan mantap secara lahir serta batin. Kalau memilih untuk menunda dulu, maka sebaiknya silakan memantaskan diri. Menyiapkan keuangan dan membaikkan pribadi. “Apakah harus sampai mapan saat memantaskan?” Jawabannya: tidak! Yang penting cukup.

Kemudian soal pribadi. Intinya buat para lelaki, kamu bisa bertanggung jawab lahir serta batin, bisa memimpin keluarga, dan tanggung jawab lainnya. Kalau kamu wanita, selain pribadi, atau kalau mau tambah keuangan juga lebih baik, kamu juga perlu untuk membekali diri dengan hal-hal yang calon ibu harus bisa, seperti: memasak, mencuci, dan pekerjaan-pekerjaan wanita lainnya.

Jadi gimana? Kalian masih mau nikah kalau alasannya cuma diolok-olok tentang usia?