Mungkin ada kakak tingkat, adik tingkat, atau mungkin kamu pernah merasakan hal yang namanya mencontek bahkan hingga jadi turun temurun lintas generasi. Berikut penyebab mencontek menjadi tradisi di Indonesia :

1. Biasanya orang akan bertanya nilai terlibih dahulu ketimbang kejujuran saat ujian

Memegang Kertas Contekan via https://www.google.com

Ketika kamu bertemu kerabatmu, pasti ada saja yang bertanya “Berapa IPK-mu sekarang?” dan kamu pun akan menjawab sekian. Tapi pernah gak ada atau yang pernah bertanya “Dikampus waktu ujian nyontek engga?” atau “IPK segitu hasil dari mencontek bukan?” pastinya pertanyaan seperti itu yang jarang ditemukan, karena yang menjadi tolak ukur saat ini adalah nilai bukan kejujuran tetapi nilai.

2. Pesan dari Ayah “Nak, Pokoknya IPK-mu semester ini harus diatas 3,50 biar gampang cari kerja”

Memasukan jawaban hasil contekan via https://www.google.com

Banyak kok mahasiswa yang terobsesi sama nilai bagus sehingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya, termasuk mencontek. Bukan maksud menjelek jelekkan orang tua atau apa, tetapi dari pesan tersebut pun terlihat kalo kita diberi pesan untuk mendapat nilai bagus bukan untuk mendapat nilai dengan jujur. Bukan dengan pesan “Terserah IPK mu saat ini berapa, asalkan semuanya kamu lakukan dengan jujur.”

3. “Saya ingin ikut beasiswa, tetapi IPK saya hanya 1,9. Apakah itu bisa?”

Advertisement

Contekan lewat botol via https://www.google.com

Bisa saja, tapi kemungkinannya kecil. Atau bahkan tidak mungkin, meskipun kamu punya banyak kemampuan diluar akademik dan semua itu kamu dapatkan dengan jujur. Pemberi beasiswa biasanya memiliki tolak ukur awal yakni nilai, mereka tidak akan peduli kamu jujur atau tidaknya kamu yang mereka butuhkan adalah bukti dari secarik kertas, yakni transkrif nilai.

4. Jika ketahuan mencontek kita akan diberi sanksi entah kertas ujian yang diambil, nama yang dilist, atau diwajibkan untuk mengulang. Tapi kita jarang diajarkan efek yang akan ditimbulkan setelah mencontek

Pernah ada suatu kisah nyata beberapa tahun yang lalu, ketika ada test ujian Struktur Beton untuk mahasiswa Teknik Sipil. Akan tetapi calon mahasiswa tersebut mencotek saat ujian dan mendapatkan nilai bagus untuk mata kuliah struktur beton. Setelah lulus, ia wajib mengerjakan proyek pertama untuk membuat struktur jembatan karena nilai mata kuliah struktur betonnya baik. Karena membutuhkan uang dan pekerjaan ia pun mengerjakan proyek tersebut sebisanya.

Akan tetapi struktur jembatan yang ia buat runtuh karena ada kesalahan dalam penghitungan yang ia buat, karena kelalaian yang ia buat. Ia dipenjara dan izinnya sebagai insinyur dicabut. Ia menyesal kenapa saat mata kuliah Sturktur Beton ia mencontek, mungkin jika ia jujur ia tidak mungkin dipekerjakan pada bagian yang belum ia mengerti.