#WisataFilipina-Destinasi yang Harus Banget Kamu Kunjung Kalau Lagi Liburan di Manila

Menjelajahi Manila

Manila merupakan pusat politik, ekonomi, sosial, budaya dan rekreasi Filipina.

Menjadi tuan rumah bagi dunia bukanlah hal yang baru bagi Manila. Sejak tahun 1565, Manila berperan penting dalam perdagangan lewat laut antara Filipina dan Spanyol, memudahkan hubungan perdagangan antara negara-negara Amerika, Eropa, Arab, Tiongkok dan India. Sekarang ini, Manila merupakan tempat tujuan acara bisnis papan atas di Asia berkat fasilitas kelas dunianya, populasi bisnis yang berorientasi global, dan tim profesional pendukung yang sangat ramah.

Philippine International Convention Center (PICC) merupakan yang pertama dari jenisnya di Asia, dan merupakan salah satu arena acara yang paling luwes di wilayah Asia-Pasifik. Pusat konvensi ini memiliki aula plenari bertingkat, 14 ruang pertemuan, restoran fine-dining dan pusat media. Di dalam kompleks ini terdapat PICC yang berukuran 4.000 meter persegi, yang merupakan fasilitas multi-fungsi yang ideal untuk pameran dan acara-acara khusus. Ada paling sedikit delapan tempat konvensi utama lainnya di metropolis ini, termasuk SMX Convention Center, World Trade Center dan Megatrade Hall. Tempat-tempat ini dilengkapi dengan berbagai hotel mewah yang berlokasi strategis di dalam distrik-distrik bisnis.

Ditempati hampir 12 juta orang, Manila memiliki sejarah, gaya dan daya tarik. Kota ini memiliki berbagai pilihan tujuan untuk pengunjung berkelompok dan menawarkan kuliner kosmopolitan serta hiburan yang tiada tandingan. Kota ini tidak pernah tidur, dan ada pilihan hiburan malam yang menarik bagi setiap orang.

Advertisement

1. Benteng Santiago

photo by pixabay

photo by pixabay via http://pixabay.com

Fort Santiago merupakan salah satu situs bersejarah paling penting di Manila. Benteng ini didirikan sebagai simbol kekuatan Spanyol di Timur jauh. Konstruksi pembangunannya dimulai pada tahun 1590 dan selesai dibangun pada tahun 1593. Pembangunannya diinisiasi oleh Gubernur Spanyol Miguel López de Legazpi.

Pada mulanya, benteng ini merupakan benteng kayu dari pemimpin Islam Rajah Sulayman yang menguasai wilayah tersebut. Namun ia dikalahkan dan bentengnya dikuasai oleh Pendudukan Spanyol. Benteng ini kemudian diserang dan dibakar oleh Lin Feng (Limahong) bajak laut asal Tiongkok. 

Advertisement

 

Agar dapat bertahan lebih kuat lagi saat menangkis serangan lawan, Pemerintah Pendudukan Spanyol kemudian membangun kembali benteng dengan menggunakan bebatuan vulkanik setempat. Setelah itu Fort Santiago menjadi benteng utama dan memegang peran penting bagi perdagangan rempah-rempah ke Amerika dan Eropa selama 333 tahun.

Advertisement

Fort Santiago memiliki garis keliling 2.030 kaki atau sekitar 620 meter dan berbentuk hampir segitiga. Dinding-dindingnya setinggi 6,7 meter dengan tebal 2,4 meter. Fasad bagian depan lebih tinggi dengan ukuran 12 meter. Bagian utara berupa benteng yang disebut Baluarte De Santa Barbara, bagian selatan benteng adalah Baluarte De San Fransisco Javier yang berbatasan dengan club golf Intramuros Golf Clubhouse. Bagian barat mengarah ke selatan terdapat benteng yang disebut Baluarte De San Miguel sedangkan sisi timur laut adalah Benteng Medio Baluarte de San Fransisco.

Dulunya, di dalam benteng terdapat pos-pos dan menara penjaga, barak pasukan garnisun, penjara bawah tanah, markas sipir, gudang, kapel, waduk, dan beberapa tempat dengan fungsi tertentu. Kini kawasan Fort Santiago terdiri dari taman hijau dengan air mancur yang disebut Plaza Moriones, toko souvenir dan oleh-oleh, Plaza de Armas berupa taman bagian dalam dimana terdapat monumen Patung Jose Rizal, reruntuhan barak militer Spanyol, ruang bawah tanah, Rizaliana Furniture Hall, Jose Rizal Museum, kawasan pejalan kaki tepi sungai Pasig dan Teater Rajah Sulayman.

Fort Santiago pernah mengalami kehancuran selama Perang Dunia II dan pada tahun 1953 dipugar di bawah pengawasan Komite Pengembangan Taman Nasional. Sejak tahun 1992 hingga sekarang, berada di bawah naungan Intramuros Administration yang mengelola rekonstruksi, pemeliharaan dan pengelolaan.

Benteng ini terkenal karena menjadi markas besar pasukan kekuatan asing dalam sejarah Filipina, termasuk Spanyol (1571 hingga 1898), Inggris (1762 hingga 1764), Amerika (1898 hingga 1946), dan Jepang (1942 hingga 1945). Fort Santiago saat ini merupakan Monumen Nasional dan menjadi Kekayaan Budaya Nasional sejak tahun 2014.

Seperti yang sudah ditulis di paragraf di atas, di dalam benteng terdapat penjara bawah tanah yang digunakan oleh para Pemimpin Pendudukan Spanyol menahan musuh-musuhnya. Kini penjara bawah tanah ini menjadi bagian dari taman bersejarah yang juga mencakup Plaza Moriones dan beberapa reruntuhan. Taman ini menyimpan warisan yang terawat cukup baik dari Zaman Kolonial Spanyol termasuk memorabilia José Rizal di Rizal Shrine.

2. Kota Tua Intramuros

photo by pixabay

photo by pixabay via http://pixabay.com

Ateneo Municipal de Manila berada di Intramuros, suatu kawasan kota tua di Manila, Filipina. Sayang, gedung itu tinggal bekasnya, hancur dalam Perang Dunia II. Sekolah kemudian pindah ke Quezon dan berkembang menjadi Universitas Ateneo hingga sekarang.

Di Intramuros memang berdetak sejarah Filipina. Di sinilah pribumi penghuni kota Maynilad ditaklukkan pasukan Spanyol, 1571. Namun, di sini pula cikal bakal tumbuhnya masyarakat yang berpendidikan barat dan sadar tentang nasionalisme.

Sepanjang perjalanannya Intramuros telah diguncang berbagai bencana: kebakaran, gempa, dan perang. Katedral Manila, misalnya, sudah sepuluh kali dibangun ulang. Seluruh kawasan bahkan pernah hancur dalam Perang Dunia II, kecuali tembok yang mengelilinginya dan Gereja San Agustin, tetapi Intramuros selalu kembali tegak berdiri.

Intramuros berarti kota yang dikelilingi tembok. Kawasan seluas 64 hektar itu berada di tepi muara Sungai Pasig, menghadap Laut China Selatan. Dibangun sejak 1589 atas perintah Raja Spanyol Philip II—dengan tembok batu yang baru selesai 250 tahun kemudian—kawasan itu sebenarnya adalah benteng pertahanan lengkap dengan kubu prajurit dan parit-paritnya.

Dengan tembok setebal 2,4 meter dan tinggi 6,7 meter, Intramuros memang pas sebagai tempat berlindung pemerintahan Spanyol dari pemberontakan pribumi dan serangan bajak laut. Sekarang pun orang bisa berjalan sepanjang 4 kilometer di atas tembok dengan pemandangan lapangan golf, Museum Nasional, gedung balaikota, atau Teluk Manila.

Intramuros pada zamannya adalah pusat segalanya: pemerintahan, militer, perdagangan, juga keagamaan. Selain istana gubernur dan barak-barak tentara, kawasan ini memiliki 10 gereja berikut sekolahnya. Meski hanya orang Spanyol dan campuran Spanyol yang boleh tinggal, pribumi dan China boleh masuk untuk berdagang, beribadah, atau bersekolah.

Penghuni yang silih berganti dari kulit putih, kulit kuning saat pendudukan Jepang, hingga kulit coklat sekarang, menjadi penerus detak kehidupan Intramuros. Siang itu anak-anak berlarian di tanah basah sehabis hujan. Selain rumah susun, enam sekolah menengah dan perguruan tinggi masih beroperasi lengkap dengan asramanya.

Walau begitu, aura masa lalu tak hilang. Di depan Katedral Manila, di lapangan tempat dulu mengadu banteng, masih berdiri patung Raja Charles IV. Di titik itu, 439 tahun lalu, pasukan Spanyol pimpinan Miguel Lopez de Legazpi memproklamirkan daerah jajahan baru.

3. Meseum Nasional Filipina

photo by pixabay

photo by pixabay via http://pixabay.com

The National Museum of Filipina ( Filipina : Pambansang Museo ng Pilipinas ) adalah sebuah organisasi pemerintah payung yang mengawasi sejumlah museum nasional di Filipina termasuk koleksi seni etnografi, antropologi, arkeologi dan visual. Sejak 1998, Museum Nasional telah menjadi badan pengatur dan penegakan Pemerintah Filipina dalam memulihkan dan menjaga kekayaan budaya, situs, dan reservasi penting di seluruh Filipina.

Dilansir dari depoxito, Museum Nasional mengoperasikan Museum Nasional Seni Rupa , Museum Nasional Antropologi , Museum Nasional Sejarah Alam , dan Planetarium Nasional , semua terletak di Kompleks Museum Nasional di Manila . Lembaga ini juga mengoperasikan museum cabang di seluruh negeri.

Museum Nasional Seni Rupa

Museum Nasional Seni Rupa, yang sebelumnya disebut Galeri Seni Nasional, bertempat di Gedung Legislatif lama. Bangunan ini awalnya dimaksudkan sebagai perpustakaan umum seperti yang diusulkan dalam Rencana 1905 untuk Daniel Burnham di Manila. Dirancang oleh Ralph Harrington Doane, arsitek konsultan Amerika dari Biro Pekerjaan Umum, dan asistennya Antonio Toledo. Konstruksi bangunan dimulai pada 1918 dan selesai pada 1921.

Fasad bangunan memiliki fitur klasik menggunakan kolom bergaya Korintus, ornamen dan bentuk patung yang terinspirasi Renaissance. [5] Setelah berdirinya pemerintah Persemakmuran, diputuskan bahwa bangunan tersebut juga akan menjadi rumah bagi Legislatif dan revisi dilakukan oleh Juan Arellano, yang mengawasi arsitek Biro Pekerjaan Umum.

Pada 16 Juli 1926, gedung itu secara resmi diresmikan. Selama Perang Dunia II, bangunan itu rusak berat, meskipun dibangun agar tahan gempa. [5] Setelah perang, itu dibangun kembali meskipun kurang hiasan dan kurang detail. Selama era Darurat Militer, Gedung Legislatif ditutup. Saat ini, gedung tersebut memiliki Galeri Seni Nasional, ilmu alam, dan divisi pendukung negara lainnya.

Museum Nasional Antropologi

Museum Nasional Antropologi, yang sebelumnya dikenal sebagai Museum Rakyat Filipina, adalah museum komponen Museum Nasional Filipina yang menampung Divisi Arkeologi, Divisi Etnologi, Pameran, Divisi Jasa Editorial dan Media Produksi (EEMPSD), Maritim dan Divisi Warisan Budaya Bawah Air (MUCHD), dan Divisi Layanan Museum (MSD).

Terletak di Lingkaran Agrifina, Taman Rizal , Manila di seberang gedung Museum Nasional utama yang merupakan Museum Nasional Seni Rupa. Bangunan itu adalah bekas markas besar Departemen Keuangan.

Museum Nasional Sejarah Alam

Baru-baru ini diumumkan bahwa bangunan ketiga kompleks museum ini – yang saat ini ditempati oleh Departemen Pariwisata , akan dikembangkan menjadi Museum Nasional Sejarah Alam, setelah Departemen tersebut pindah dan pindah ke lokasi permanennya di Makati.

Museum Nasional Sejarah Alam akan memiliki struktur menara DNA heksagonal di pusatnya yang akan menjadi dasar untuk kubah atap ventilasi seluruh bangunan. Pohon hidup juga akan ditanam di bagian dalam bangunan. Diharapkan selesai pada kuartal terakhir 2015 [6] tetapi pembukaan museum dipindahkan sekitar tahun 2017. Pada Oktober 2017, Museum Nasional Sejarah Alam secara resmi dibuka untuk umum dengan struktur Pohon Kehidupan yang ikonik.

Planetarium Nasional

Planetarium ini direncanakan pada tahun 1970-an oleh mantan Direktur Museum Nasional Godofredo Alcasid Sr dengan bantuan Bapak Maximo P. Sacro, Jr dari biro Cuaca Filipina dan salah satu pendiri Masyarakat Astronomi Filipina.

Bangunan dimulai pada konstruksi pada tahun 1974 dan selesai 9 bulan setelahnya. Ini secara resmi dilantik pada 8 Oktober 1975. Keputusan Presiden No. 804-A, dikeluarkan pada 30 September 1975, menegaskan status Planetarium. Planetarium terletak di antara Taman Jepang dan Taman Cina di Taman Rizal.

Museum Regional

Museum Nasional juga telah mendirikan banyak museum regional di luar Metro Manila. Museum regional ini ditemukan di Angono ( provinsi Rizal ), Padre Burgos di Vigan ( Ilocos Sur ), Kabayan ( Benguet ), Kiangan ( Ifugao ), Magsingal ( Ilocos Sur ), Puerto Princesa ( Palawan ), Butuan di wilayah Caraga, Tabaco ( Albay ), Benteng Pilar di Kota Zamboanga , Boac ( Marinduque ), dan Jolo ( Sulu ).

Pada tahun 2018, cabang regional di Basco di kota Batanes dan Iloilo di Iloiloprovinsi didirikan. Cabang regional di Cebu sedang dikembangkan, sementara cabang di Bolinao ( Pangasinan ) ditutup secara permanen.

Cabang di kota Banton di Romblon, kota Romblon di Romblon, kota Monreal di Pulau Ticao, Maitum di Sarangani barat, Jolo di Sulu, kota Marawi di Lanao del Sur, Guian di Samar Timur, kota Davao di wilayah Davao, Mati di Davao Oriental, Kota Cabanatuan di Nueva Ecija, Tabuk di Kalinga, Aparri di provinsi Cagayan, Malaybalay di Bukidnon, kota Cotabato di Maguindanao, Hongaria di Ifugao, kota Rizal di Palawan, Bulalacao di Mindoro, dan kota Siquijor di Siquijor juga diawasi oleh Museum Nasional. Pembangunan kembali museum regional di Bolinao juga sedang diawasi.

4. Remedios Circle

photo by pixabay

photo by pixabay via http://pixabay.com

Lingkaran Remedios adalah salah satu latar untuk The Bourne Legacy , yang mengambil gambar di Manila. Dalam adegan tersebut, seorang wanita Filipina, Marta, dikejar oleh dua polisi dari Distrik Kepolisian Manila hingga mencapai jalan buntu: gang sempit di daerah kumuh terdekat. Gang ini, yang secara internal dikenal sebagai “jurang”, sebenarnya dibangun khusus untuk film tersebut, yang dibangun di atas tanah kosong di seberang lingkaran. 

Lingkaran Remedios awalnya adalah Makam Malate, dibangun dengan cara yang mirip dengan apa yang sekarang disebut Taman Paco. Ini adalah salah satu dari dua bundaran lalu lintas yang dibangun di Manila selama masa kolonial Spanyol, yang lainnya adalah Air Mancur Carriedo di Rotonda de Sampaloc (sekarang Persimpangan Nagtahan ), meskipun awalnya tidak dibangun untuk berfungsi sebagai bundaran lalu lintas.

Dalam sebagian besar sejarahnya, Malate dan distrik tetangga Ermita sebagian besar merupakan distrik pemukiman yang menjadi rumah bagi elit Filipina, dan area di sekitar lingkaran juga mirip dengan pemukiman, yang dikelilingi oleh rumah beratap nipah dan perkebunan pisang, dan air mancur melingkar — yang telah hilang — berdiri di tengah lingkaran.

Lingkaran dan area sekitarnya dihancurkan oleh bom udara yang dijatuhkan dalam Pertempuran Manila selama Perang Dunia II . Segera setelah perang, Pemakaman Malate diserahkan kepada Pemerintah Filipina yang baru merdeka oleh Gereja di Filipina, dibongkar, dan mayatnya dikuburkan kembali di Pemakaman Manila Selatan. 

Meskipun Malate dan Ermita kemudian dibangun kembali, kedua distrik tersebut mengalami kerusakan kota yang signifikan karena bekas penduduk mulai pindah ke pinggiran kota ,dan daerah tersebut menjadi pusat prostitusi, gelandangan, dan kejahatan kecil.

Pada tahun 1980, pemilik restoran Larry Cruz membuka Café Adriatico di sudut Remedios Circle dan Adriatico Street, menarik pengusaha lain yang telah dikreditkan tidak hanya untuk menghidupkan kembali lingkaran, tetapi juga untuk mengubahnya menjadi pusat kehidupan malam Manila selama sebagian besar tahun 1980-an dan 1990-an: sebuah peristiwa yang oleh penulis Alfred “Krip” Yuson disebut sebagai hari huruf merah dalam kalender budaya Filipina. 

Tidak seperti kota-kota lain di Asia Tenggara seperti Singapura, di mana pemerintah berinvestasi besar-besaran dalam mengembangkan kawasan tertentu untuk kehidupan malam, sedikit investasi pemerintah dituangkan untuk mengubah Lingkaran Remedios, alih-alih tumbuh secara organik sendiri. 

Investasi pemerintah sebagian besar difokuskan pada perbaikan infrastruktur, dengan lingkaran terakhir direnovasi pada tahun 2006,  dan jalur sepeda yang menghubungkannya dengan pembukaan Paraiso ng Batang Maynila pada tahun 2012. Pada tanggal 30 Agustus 2009, Monumen Marcelo H. del Pilar dipindahkan ke sini oleh Asosiasi Jurnalis Filipina. 

5. Marikina Shoe Museum

Photo by Pixabay

Photo by Pixabay via http://pixabay.com

Marikina adalah distrik di jantung kota Manila, Filipina yang juga dikenal sebagai kota sepatu. Hal itu disebabkan karena industri kerajinan alas kaki yang menjadi sumber mata pencaharian utama warganya.

Dilaporkan Atlas Obscura, di daerah ini terdapat Marikina Shoe Museum, yang khusus menyimpan koleksi alas kaki dari merek-merek terkenal yang dimiliki oleh mantan ibu negara Filipina, Imelda Marcos. Museum ini menjadi salah satu objek wisata populer yang wajib dikunjungi oleh wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Manila.

Marcos telah menyumbangkan 1.000 pasang sepatu mewah yang dimilikinya untuk koleksi museum. Istri mendiang presiden Ferdinand Marcos ini memang terkenal sebagai first lady yang punya selera fashion tinggi dan kegemaran berbelanja barang-barang mewah

Sayangnya bencana alam yang sempat melanda daerah itu membuat sebagian koleksi rusak. Sekarang ini tinggal 749 pasang alas kaki saja yang masih dipajang di museum.

Selain koleksi sepatu Marcos yang bernilai ratusan juta Rupiah, museum ini juga memajang sepatu raksasa yang dinobatkan Guinness World of Records sebagai sepatu terbesar di dunia

6. Teluk Corregidor

Photo by pixabay

Photo by pixabay via http://pixabay.com

Pertahanan melawan Jepang pada awal Perang Dunia II. Selama Pertempuran Filipina Jenderal Douglas MacArthur menggunakan pulau ini sampai 11 Maret 1942 sebagai lokasi markas besar Sekutu karena posisi strategis dan lanskap berbatu. Pada 6 Mei 1942 tentara Amerika dan Filipina dipaksa untuk menyerah terhadap Jepang setelah Pertempuran Corregidor.

Hari ini Corregidor adalah monumen bersejarah dan salah satu daya tarik wisata yang sibuk. Banyak agen perjalanan wisata menawarkan paket wisata ke instalasi militer dari perang dunia kedua yang masih ada di Corregidor.

Ini nih referensi liburan juga edukasi untuk kalian yang ingin berlibur ke filipina.Selain mengunjungi tempatnya, harus tau sejarah nya juga ya guys.

Informasi mengenai Filipina ini aku dapatkan di www.wisatafilipina.com. Informasinya sangat beragam, mulai dari tempat wisata, hotel, kuliner, diving, ESL, pilgrimage, sampai muslim-friendly, semuanya ada di sini. Selain isinya lengkap dan terpercaya, website milik PDOT Indonesia ini juga dilengkapi panduan wisata serta berbagai fitur keren dan seru yang membuatku semakin tertarik untuk menjelajah Filipina. Ditambah lagi, ada berbagai kuis berhadiah menarik yang bisa aku ikuti. Tentunya ini sangat mengobati kerinduanku untuk bisa liburan ke Filipina. It’s More Fun in the Philippines!

More fun in the Philippines!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE