Udah kerja dari pagi sampai malam, tapi pas ngecek tabungan rasanya uang cuma numpang lewat. Belum lagi kalau dengar komentar yang bilang kita nggak bisa ngatur uang atau hobi foya-foya. Padahal, jangankan mikir nongkrong di tempat mahal, bayar belanjaan bulanan aja udah bikin pusing tujuh keliling.
Ini soal realita biaya hidup yang lagi dikeluhkan banyak orang. Tuduhan boros atau gaya hidup ketinggian sering nggak nyambung sama fakta di lapangan. Alih-alih gaya-gayaan, kenyataannya banyak dari kita lagi pusing menutup kebutuhan yang harganya makin hari makin naik.
Sering dianggap sama, ini beda biaya hidup dan gaya hidup

Biar nggak salah paham, kenali dulu beda biaya hidup dan gaya hidup yang sering dicampuradukkan.
Mau makan di warteg seharga lima belas ribu atau di restoran mahal, itu soal pilihan personal. Masalahnya, biaya hidup sekarang makin berat karena harga bahan pokok dan ongkos harian terus naik. Kalau harga beras atau kontrakan naik, pengeluaran bulanan otomatis bengkak meski kebiasaan belanjamu nggak berubah sama sekali.
Data LPS: tabungan banyak orang memang lagi tipis

Kalau kamu ngerasa keuanganmu lagi menipis, itu bukan cuma perasaan. Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang dianalisis NEXT Indonesia Center, saldo rata-rata rekening di kelompok simpanan di bawah Rp100 juta per Juli 2026 cuma sekitar Rp1,67 juta.
Angka sekecil itu jelas jauh dari cukup untuk dana darurat. Di sisi lain, harga pangan pokok terus jadi sorotan, termasuk harga beras yang di sejumlah daerah dilaporkan melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET). Akibatnya, bukannya nabung buat masa depan, banyak orang terpaksa menguras tabungan atau bahkan cari utangan demi menutup kebutuhan sehari-hari.
ADVERTISEMENTS
Gambaran nyata angka Kebutuhan Hidup Layak (KHL)

Perbedaan biaya hidup di tiap daerah juga terlihat dari angka Kebutuhan Hidup Layak (KHL). Mengutip CNBC Indonesia, KHL yang dihitung Kementerian Ketenagakerjaan bersama Dewan Ekonomi Nasional dan BPS untuk penetapan upah minimum 2026 berbeda cukup jauh antarprovinsi. Ini enam provinsi dengan KHL tertinggi:
Artinya, kebutuhan biaya hidup nggak bisa disamaratakan. Kondisi finansial seseorang juga nggak bisa dinilai cuma dari nominal gaji atau kebiasaan belanjanya, tanpa melihat kebutuhan hidup yang harus dipenuhi di daerahnya.
Ramainya tempat hiburan bukan berarti semua orang punya banyak uang

Masih ada anggapan bahwa ekonomi masyarakat baik-baik saja karena mal, restoran, atau konser tetap ramai. Padahal, keramaian itu nggak serta-merta menunjukkan semua orang punya banyak uang. Orang yang nonton konser atau sesekali makan di restoran bisa jadi sudah menyisihkan uang berbulan-bulan, dan pengeluaran itu belum tentu menggambarkan kondisi tabungannya.
Sementara itu, kebutuhan pokok seperti belanja bulanan, tempat tinggal, listrik, dan transportasi tetap harus dibayar rutin. Mengatur keuangan memang penting, tapi daya beli masyarakat juga nggak bisa dinilai cuma dari ramainya tempat hiburan.
Yang bisa dilakukan biar tetap bertahan
Nggak semua hal bisa kita kendalikan, tapi beberapa langkah kecil ini bisa bikin keuangan sedikit lebih bernapas:
Berhenti saling menghakimi, bertahan hidup aja udah hebat
Menghadapi tantangan finansial di tengah situasi sekarang memang nggak gampang. Makanya, sudah saatnya kita berhenti saling menghakimi atau melontarkan tuduhan miring soal keuangan orang lain. Kita nggak pernah tahu perjuangan apa yang lagi mereka lewati.
Di tengah kerasnya realita biaya hidup sekarang, bisa tetap waras, kerja jujur, dan bertahan tiap bulan udah jadi pencapaian besar yang patut kamu apresiasi.
ADVERTISEMENTS