Realita Biaya Hidup Makin Berat, Benarkah Semua karena Gaya Hidup?

Ramainya mal, restoran, dan konser bukan bukti bahwa semua orang punya kondisi finansial yang baik.

Udah kerja dari pagi sampai malam, tapi pas ngecek tabungan rasanya uang cuma numpang lewat. Belum lagi kalau dengar komentar yang bilang kita nggak bisa ngatur uang atau hobi foya-foya. Padahal, jangankan mikir nongkrong di tempat mahal, bayar belanjaan bulanan aja udah bikin pusing tujuh keliling.

Ini soal realita biaya hidup yang lagi dikeluhkan banyak orang. Tuduhan boros atau gaya hidup ketinggian sering nggak nyambung sama fakta di lapangan. Alih-alih gaya-gayaan, kenyataannya banyak dari kita lagi pusing menutup kebutuhan yang harganya makin hari makin naik.

Sering dianggap sama, ini beda biaya hidup dan gaya hidup

Perbedaan biaya hidup dan gaya hidup dalam mengatur pengeluaran
Kebutuhan dasar berbeda dari pengeluaran gaya hidup | Hipwee

Biar nggak salah paham, kenali dulu beda biaya hidup dan gaya hidup yang sering dicampuradukkan.

🏠 Biaya hidupWajib, rutin, sulit dihindariBeras dan bahan pokokSewa kos atau kontrakanListrik, air, transportasiKesehatan dan pendidikan🎉 Gaya hidupPilihan, bisa diaturNongkrong dan makan di luarNonton konserLangganan hiburanBelanja barang keinginan

Mau makan di warteg seharga lima belas ribu atau di restoran mahal, itu soal pilihan personal. Masalahnya, biaya hidup sekarang makin berat karena harga bahan pokok dan ongkos harian terus naik. Kalau harga beras atau kontrakan naik, pengeluaran bulanan otomatis bengkak meski kebiasaan belanjamu nggak berubah sama sekali.

Data LPS: tabungan banyak orang memang lagi tipis

Grafik menurun yang menggambarkan realita biaya hidup makin berat
Kondisi keuangan makin sulit di tengah naiknya biaya hidup | Hipwee

Kalau kamu ngerasa keuanganmu lagi menipis, itu bukan cuma perasaan. Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang dianalisis NEXT Indonesia Center , saldo rata-rata rekening di kelompok simpanan di bawah Rp100 juta per Juli 2026 cuma sekitar Rp1,67 juta.

Rp1,67 jutasaldo rata-rata rekening di bawah Rp100 juta, Juli 2026Sumber: data LPS, diolah NEXT Indonesia Center

Angka sekecil itu jelas jauh dari cukup untuk dana darurat. Di sisi lain, harga pangan pokok terus jadi sorotan, termasuk harga beras yang di sejumlah daerah dilaporkan melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET). Akibatnya, bukannya nabung buat masa depan, banyak orang terpaksa menguras tabungan atau bahkan cari utangan demi menutup kebutuhan sehari-hari.

ADVERTISEMENTS

Gambaran nyata angka Kebutuhan Hidup Layak (KHL)

Uang rupiah yang menggambarkan kebutuhan hidup layak
Besarnya kebutuhan hidup layak berbeda di tiap daerah | Hipwee

Perbedaan biaya hidup di tiap daerah juga terlihat dari angka Kebutuhan Hidup Layak (KHL). Mengutip CNBC Indonesia , KHL yang dihitung Kementerian Ketenagakerjaan bersama Dewan Ekonomi Nasional dan BPS untuk penetapan upah minimum 2026 berbeda cukup jauh antarprovinsi. Ini enam provinsi dengan KHL tertinggi:

KHL per bulanDKI JakartaRp5,89 jutaKalimantan TimurRp5,73 jutaKepulauan RiauRp5,71 jutaPapuaRp5,31 jutaBaliRp5,25 jutaPapua BaratRp5,24 juta

Artinya, kebutuhan biaya hidup nggak bisa disamaratakan. Kondisi finansial seseorang juga nggak bisa dinilai cuma dari nominal gaji atau kebiasaan belanjanya, tanpa melihat kebutuhan hidup yang harus dipenuhi di daerahnya.

Ramainya tempat hiburan bukan berarti semua orang punya banyak uang

Penonton memadati area konser
Menikmati hiburan nggak selalu mencerminkan kondisi keuangan | Hipwee

Masih ada anggapan bahwa ekonomi masyarakat baik-baik saja karena mal, restoran, atau konser tetap ramai. Padahal, keramaian itu nggak serta-merta menunjukkan semua orang punya banyak uang. Orang yang nonton konser atau sesekali makan di restoran bisa jadi sudah menyisihkan uang berbulan-bulan, dan pengeluaran itu belum tentu menggambarkan kondisi tabungannya.

Sementara itu, kebutuhan pokok seperti belanja bulanan, tempat tinggal, listrik, dan transportasi tetap harus dibayar rutin. Mengatur keuangan memang penting, tapi daya beli masyarakat juga nggak bisa dinilai cuma dari ramainya tempat hiburan.

Yang bisa dilakukan biar tetap bertahan

Nggak semua hal bisa kita kendalikan, tapi beberapa langkah kecil ini bisa bikin keuangan sedikit lebih bernapas:

📝Pisahkan biaya hidup dan gaya hidupCatat pengeluaran sebulan, lalu tandai mana yang wajib dan mana yang bisa dikurangi.🛟Mulai dana darurat sekecil apa punNominalnya nggak harus besar. Yang penting rutin dan disimpan terpisah dari rekening harian.🏦Pakai tabungan berjangkaSetoran otomatis tiap bulan bikin kamu lebih sulit tergoda mengambilnya.🌱Coba frugal living versi realistisBukan pelit, tapi memprioritaskan uang untuk hal yang benar-benar penting buatmu.

Berhenti saling menghakimi, bertahan hidup aja udah hebat

Menghadapi tantangan finansial di tengah situasi sekarang memang nggak gampang. Makanya, sudah saatnya kita berhenti saling menghakimi atau melontarkan tuduhan miring soal keuangan orang lain. Kita nggak pernah tahu perjuangan apa yang lagi mereka lewati.

Di tengah kerasnya realita biaya hidup sekarang, bisa tetap waras, kerja jujur, dan bertahan tiap bulan udah jadi pencapaian besar yang patut kamu apresiasi.

Mau mulai hidup lebih hemat?Kenalan dulu dengan konsep downgrade lifestyle yang lagi banyak dibahas.

ADVERTISEMENTS

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Part time - Content Writer, Copywriter, Editor Buku, dan Penulis. Full time - menghabiskan waktu dengan para kucing, nonton drama maupun film.

Editor

Bisa diajak diskusi panjang lebar tentang kehidupan asal ada segelas kopi di atas meja. Mengubah kafein menjadi inspirasi, lalu merangkainya menjadi cerita. Percaya bahwa ide-ide terbaik selalu datang dari hal-hal yang paling sederhana.