Ada banyak alasan orang betah tinggal di kos-kosan. Buatku, selama kamarnya bersih, harga sewa yang masuk akal, dan tetangganya nggak kepo soal kehidupan pribadi apalagi berisik, udah jelas masuk kos-kosan ideal. Aku nggak butuh teman nongkrong setiap malam atau ajakan makan bareng setiap akhir pekan. Asalkan bisa tidur nyenyak, bekerja dengan tenang, rasanya hidup sudah damai. Mana kepikiran soal cerita horor kos-kosan.
Aku hanya merasa beruntung. Aku bahkan sempat berpikir, akhirnya menemukan tempat tinggal yang cocok untuk orang introvert sepertiku. Tapi, setelah genap sebulan aku ngekos, aku baru sadar kalau ternyata ada satu penghuni lain yang punya kebiasaan di luar dugaan. Dia suka mandi tengah malam, di jam-jam semua penghuni lain sedang terlelap.
Awalnya kupikir dia memang pulang kerja tengah malam. Tapi sepertinya bukan itu alasannya.
Awal mula cerita horor kos-kosan yang kutempati

Aku menemukan kos itu dari unggahan Facebook di grup pencarian tempat tinggal. Foto-fotonya menarik, fasilitasnya juga oke, kamarnya terlihat bersih. Ada kasur lengkap dengan bantal guling, lemari kayu jati, meja kecil, kursi, dan jendela yang menghadap halaman samping. Harganya sangat affordable, apalagi free Wi-Fi, listrik, dan air. Kos ini tergolong lebih murah daripada beberapa kos lain.
Waktu survei, Ibu kos menyambutku dengan ramah. Dia menunjukkan kulkas dan gudang bersama, tempat menjemur pakaian, serta kamar mandi bersama yang ada di ujung lorong tiap lantai. Semuanya terlihat terawat. Tidak ada unsur yang memperlihatkan bahwa kos ini horor.
“Penghuni kos sini kebanyakan sibuk kerja atau kuliah, jadi kalau pagi sampai siang dipastikan sepi, kecuali weekend,” katanya.
Wah, cocok nih buat WFH, batinku.
Benar saja, selama minggu pertama, aku hampir nggak pernah mengobrol panjang dengan penghuni lain. Ada seorang perempuan yang selalu berangkat pagi dengan earphone terpasang. Ada wanita dewasa lainnya yang sering pulang malam sambil mendekap laptop dengan tas punggung yang terlihat berat. Satu penghuni lain bahkan baru kuketahui namanya setelah kami berpapasan hampir setiap hari selama dua minggu.
Kami hidup berdampingan tanpa banyak basa-basi. Kalau berpapasan, paling-paling hanya tersenyum atau mengangguk kecil. Anehnya, aku justru nyaman. Ini kos yang kucari.
Nggak ada yang bertanya kenapa aku jarang keluar kamar. Nggak ada yang mengetuk pintu hanya untuk mengobrol. Nggak ada pula drama kehilangan makanan di kulkas bersama. Aku bahkan sempat menawarkan 500 gram kurma untuk dimakan bersama, tapi tidak ada yang mengambil, bahkan posisi kotak kurma nggak bergeser sesenti pun.
Ada yang mandi tengah malam

Hari-hari berlalu seperti biasa, sampai suatu malam, kesunyian kos mendadak dipecah oleh suara air keran yang mengalir dari kamar mandi. Disusul bunyi gayung beradu dengan bak mandi, berkali-kali, seolah ada seseorang yang sedang asyik membersihkan diri di dalamnya.
ADVERTISEMENTS
Suara orang mandi hampir jam dua pagi
🕑 01.47
Malam itu, aku baru selesai mengerjakan pekerjaan yang tertunda. Jam di layar laptop menunjukkan pukul 01.47. Mataku sudah berat, tetapi aku perlu mencuci muka.
Aku keluar kamar sambil membawa perlengkapan mandi. Lorong kos sepi, hanya diterangi lampu kuning yang cahayanya sedikit redup. Dari beberapa kamar, terdengar suara kipas angin dan dengkuran samar. Aku melihat pintu kamar mandi tertutup dan mendengar suara air dari keran mengucur, diikuti dengan suara guyuran air dari gayung.
Byur.
Lalu suara gayung yang menghantam permukaan bak.
Aku berhenti sebentar. Rupanya ada penghuni lain yang juga belum tidur.
Awalnya aku nggak memikirkan apa-apa. Di kos, jadwal orang mandi memang bisa berbeda-beda. Ada yang memilih mandi sebelum subuh, ada yang baru sempat membersihkan diri setelah pulang kerja.
Aku menunggu di dekat dinding sambil mengecek ponsel.
Satu menit berlalu. Dua menit. Lima belas menit. Suara air masih terdengar.
Yang membuatku sedikit heran, pintu kamar mandi tertutup rapat, tetapi nggak ada cahaya yang terlihat dari celah bawahnya. Aku mengira lampunya mati atau orang di dalam sengaja mematikannya.
Aku mengetuk pintu pelan.
“Masih lama, ya?” tanyaku.
Suara air langsung berhenti.
Aku menunggu jawaban. Nggak ada.
Kuketuk sekali lagi. Tetap sunyi.
Karena kupikir orang di dalam mungkin sedang memakai sabun atau nggak mendengar suaraku, aku memutuskan kembali ke kamar. Nanti saja aku mandi pagi.
Namun, baru beberapa langkah menjauh, aku mendengar suara gayung lagi.
Byur.
Kali ini, entah kenapa, bulu kudukku berdiri.
Aku mempercepat langkah menuju kamar, mengunci pintu, lalu mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya normal. Mungkin penghuni itu sedang malas menjawab. Mungkin aku terlalu lelah. Mungkin lampu kamar mandi memang sedang rusak.
Aku tidur sambil memikirkan hal-hal itu.
Keesokan paginya, aku kembali ke kamar mandi. Lantainya kering. Nggak ada ember yang berpindah tempat, nggak ada pakaian basah, dan nggak ada tanda seseorang baru saja mandi.
Aku hampir melupakan kejadian itu sampai bertemu penghuni yang selantai denganku di area kulkas.
“Semalam pulang malem langsung mandi ya, kak?” tanyaku santai.
Dia menatapku sebentar. “Aku? Iya kak, gerah, jadi ya jam sepuluh tetap mandi. Kenapa?”
“Nggak kak. Kupikir kemarin yang mandi sekitar jam 2 an kakak.”
Dia tertawa kecil. “Wah, kalau jam segitu, jelas sudah tidur, kak. Aku duluan ya.”
Aku mengangguk. Percakapan itu berhenti begitu saja. Nggak ada alasan bagiku untuk curiga kepada siapa pun.
Toh, mungkin memang ada penghuni yang mandi larut malam. Setidaknya, itulah yang masih ingin kupercaya.
Kebiasaan aneh yang mulai berulang
Setelah malam itu, suara air kembali terdengar beberapa kali.
Kadang tepat pukul dua belas malam, pukul satu, pukul dua, kadang hampir pukul tiga. Polanya hampir selalu sama: suara keran dibuka, air disiram menggunakan gayung, lalu bunyi pintu seperti sedang ditarik perlahan.
Aku mulai memperhatikan jam setiap kali terbangun. Bukan karena sengaja mengawasi, tetapi karena suara itu cukup jelas terdengar dari kamarku yang letaknya tidak terlalu jauh dari kamar mandi.
Yang membuatku bingung, suara tersebut selalu berhenti ketika aku membuka pintu kamar.
Pernah suatu malam, aku bahkan mendengar suara sandal diseret di lorong. Pelan sekali, seperti seseorang berjalan tanpa mengangkat kakinya dengan benar.
Aku mengintip melalui lubang kecil di dekat pintu, tetapi lorong tampak kosong.
Aku sempat berpikir mungkin ada penghuni yang sengaja mengerjaiku. Namun, rasanya kurang kerjaan untuk melakukan lelucon yang sama berulang kali pada orang yang bahkan jarang mengobrol dengan mereka.
Akhirnya, aku memutuskan bertanya kepada ibu kos.
“Bu, di sini ada penghuni yang sering mandi tengah malam, ya?”
Ibu kos yang sedang menyapu teras langsung berhenti.
“Mandi tengah malam?”
“Iya. Kadang jam satu atau dua dini hari. Suaranya sampai kedengaran dari kamar saya.”
Dia diam beberapa detik sebelum kembali menyapu.
“Kalau malam-malam begitu, kamu nggak usah keluar kamar kalau nggak perlu,” katanya.
Aku menunggu penjelasan lebih lanjut, tetapi dia malah mengalihkan pembicaraan. Katanya, aku harus memastikan pintu kamar terkunci sebelum tidur.
Jawaban itu justru membuatku semakin penasaran. Kenapa hanya soal mandi tengah malam saja dia terlihat begitu serius?
Aku sempat ingin bertanya lagi, tetapi mengurungkan niat. Aku nggak mau dianggap sebagai penghuni yang terlalu banyak bertanya, apalagi selama ini ibu kos memperlakukanku dengan baik.
Aku pun kembali ke rutinitas seperti biasa. Bangun, kerja di kamar, makan, kerja lagi, lalu tidur.
Namun, sejak percakapan itu, aku selalu memastikan pintu kamar terkunci sebelum mematikan lampu.
Malam Jumat yang paling kuingat
Kejadian yang paling kuingat terjadi pada malam Jumat.
Aku pulang lebih larut dari biasanya setelah bertemu klien. Hujan baru saja berhenti, menyisakan bau tanah basah yang masuk melalui jendela kamar. Aku belum makan malam dan berniat mengambil air minum di dapur sebelum tidur.
Ketika keluar kamar, aku mendengar suara pintu kamar mandi dibuka. Kali ini, aku melihatnya.
Seseorang berdiri membelakangiku di depan kamar mandi. Rambutnya panjang dan tampak basah. Pakaiannya lusuh, sementara kedua tangannya menggenggam sesuatu yang sekilas terlihat seperti handuk.
Aku mengira itu penghuni perempuan yang sering berpapasan denganku.
“Baru selesai mandi?” tanyaku.
Sosok itu tidak menjawab.
Dia hanya berdiri diam, menghadap dinding.
Aku menunggu beberapa detik, merasa sedikit canggung karena pertanyaanku diabaikan. Lalu aku berjalan melewatinya menuju kulkas.
Saat itulah aku menyadari sesuatu yang membuat langkahku terhenti. Lantai di sekitar sosok itu basah, tetapi tidak ada jejak air yang mengarah ke sana. Seolah-olah air tersebut muncul begitu saja di depan pintu kamar mandi.
Aku menoleh lagi. Sosok itu sudah tidak ada.
Pintu kamar mandi terbuka sedikit. Lampunya mati. Bak air kosong, lantainya kering, dan tidak ada siapa pun di dalam.
Aku berdiri cukup lama di depan pintu, berusaha memahami apa yang baru saja kulihat. Mungkin aku salah mengenali bayangan. Mungkin pencahayaan lorong membuatku keliru melihat sesuatu.
Aku mencoba mencari penjelasan yang masuk akal, tetapi nggak menemukan satu pun yang membuatku benar-benar tenang.
Malam itu, aku kembali ke kamar tanpa mengambil air minum di kulkas.
Aku bahkan tidur dengan lampu menyala.
Penghuni kos yang ternyata nggak pernah ada
Keesokan harinya, aku memutuskan bertanya kepada salah satu penghuni yang sudah cukup lama tinggal di sana. Kami jarang mengobrol, tetapi setidaknya aku tahu dia bukan tipe orang yang suka bergosip.
Aku menceritakan suara air yang selalu muncul tengah malam. Aku juga bercerita tentang sosok berambut basah yang kulihat di depan kamar mandi.
Awalnya dia hanya mendengarkan.
Namun, ketika aku menyebutkan bahwa sosok itu berdiri membelakangiku, ekspresinya berubah.
“Kamu lihat orangnya?” tanyanya.
Aku mengangguk.
Dia terdiam sebelum akhirnya bercerita bahwa penghuni lama di kamar dekat gudang pernah mengalami hal serupa. Menurut cerita yang didengarnya dari penyewa sebelumnya, suara orang mandi memang sudah terdengar sejak lama.
Anehnya, setiap penghuni yang mencoba memeriksa kamar mandi selalu menemukannya kosong.
Aku bertanya apakah pernah ada orang yang ketahuan mengerjai penghuni lain.
Dia menggeleng.
“Setahuku, nggak ada. Aku juga pernah dengar sendiri.”
“Terus, kata ibu kos apa?”
“Dia nggak pernah mau cerita.”
Memilih tetap tinggal, in this economy kos murah kapan lagi?

Tidak ada cerita tentang penghuni lama yang meninggal, tidak ada kisah kecelakaan, dan tidak ada penjelasan dramatis yang bisa menjawab semua pertanyaanku.
Justru karena itulah aku semakin sulit melupakan kejadian tersebut.
Tapi, aku berusaha untuk mengabaikannya, in this economy, masa iya pindah karena ada hantunya? Mau cari di mana lagi kos murah yang kamarnya bersih? Dan yang terpenting, penghuninya tidak suka mencampuri urusan orang lain.
Hanya saja, setiap kali terbangun tengah malam dan mendengar suara air, aku nggak bisa tidur lagi.
Sampai sekarang, aku tidak tahu siapa yang sebenarnya menggunakan kamar mandi itu setiap tengah malam. Aku juga tidak tahu apakah sosok yang kulihat benar-benar seseorang atau hanya bayangan yang salah kutafsirkan.
Yang paling membuatku penasaran, bukanlah apakah aku pernah melihat hantu. Melainkan kenapa suara air itu selalu muncul pada jam yang hampir sama, sementara tidak ada satu pun penghuni yang mengaku pernah mandi pada waktu tersebut.
Mungkin ada penjelasan sederhana yang belum kutemukan. Mungkin juga ada sesuatu yang tidak akan pernah bisa kujelaskan.
Aku hanya tahu satu hal: sejak tinggal di sana, aku tidak pernah lagi menganggap suara gayung di tengah malam sebagai hal yang sepenuhnya biasa.
Pengalaman itu mengubah caraku memandang tempat tinggal yang nyaman. Aku tetap percaya bahwa kos murah, bersih, dan tenang adalah rezeki tersendiri, terutama bagi orang yang ingin punya ruang untuk dirinya sendiri. Namun, ternyata ada pengalaman yang membuat kita mempertanyakan hal-hal sederhana yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.
Buatku, inilah bagian paling mengganggu dari cerita horor ngekos tersebut. Bukan sosok yang berdiri di ujung lorong, melainkan kenyataan bahwa aku tidak pernah tahu siapa yang sebenarnya berada di sana.
Buat yang pernah mengalami kejadian aneh saat tinggal di kos, pasti tahu rasanya berusaha mencari penjelasan sambil berharap semuanya hanya kebetulan. Dan kalau kamu belum pernah mengalaminya, semoga cerita anak kos ini cukup membuatmu berpikir dua kali sebelum keluar kamar untuk mengecek suara air pukul dua pagi.
Gimana menurutmu? Pernah dengar suara aneh dari kamar mandi kos, lihat sosok yang sulit dijelaskan, atau mengalami kejadian misterius lain? Bagikan cerita ini ke teman yang pernah ngekos. Siapa tahu, mereka juga punya cerita yang selama ini belum berani diceritakan.
ADVERTISEMENTS