Pemuda 1928 dan Kita Sekarang Sama-Sama Memperjuangkan Masa Depan

Pemuda 1928 memperjuangkan kemerdekaan, sementara kita hari ini berjuang untuk masa depan yang lebih baik.

Sejarah Sumpah Pemuda sering cuma jadi hafalan di buku paket yang harus diingat buat ujian. Padahal, kalau dipikir lagi, ada ironi yang cukup bikin kita merenung.

Para pemuda 1928, di usia kepala dua, sibuk merumuskan masa depan satu bangsa. Sementara kita sekarang, di rentang usia 20-an sampai awal 30-an, malah sibuk overthinking soal karier, susah cari kerja, sampai pusing menghadapi biaya hidup yang makin tinggi dan kebijakan yang sering bikin elus dada.

Ironis, ya? Mereka menyatukan Nusantara, sedangkan kita sibuk bertahan hidup di negeri yang mereka perjuangkan. Tapi ternyata, kita dan mereka sebenarnya sama-sama anak muda yang lelah dengan keadaan.

Kita dan mereka cuma anak muda 20-an yang capek terpecah belah

Para tokoh pemuda dalam peristiwa Sumpah Pemuda 1928
Para tokoh Sumpah Pemuda 1928 | ANTARA FOTO

Kalau menengok catatan sejarah, para penggerak Kongres Pemuda II sebenarnya anak muda biasa. Mereka bukan orang hebat yang bebas dari rasa cemas.

Usia mereka saat Kongres Pemuda II, Oktober 192823Soegondo DjojopuspitoKetua Kongres Pemuda II25Muhammad YaminPerumus teks ikrar21Amir SjarifuddinWakil Jong Bataks BondSeumuran dengan kita yang hari ini juga sedang membangun masa depan.

Keresahan mereka saat itu adalah kungkungan penjajah. Organisasi pergerakan masih terkotak-kotak dalam kelompok kedaerahan, seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, hingga Jong Celebes. Dari sekat-sekat itu, mereka sadar satu hal: cita-cita besar nggak akan tercapai kalau anak mudanya jalan sendiri-sendiri.

Dulu, mereka capek dipecah belah lewat politik adu domba kolonial. Kalau dilihat hari ini, polanya terasa berulang. Narasi yang memecah belah dan algoritma yang bikin anak muda gampang saling serang di media sosial seolah terus dipelihara.

Padahal, kalau dipikir dengan kepala dingin, musuh bersama kita jelas bukan sesama rakyat atau sesama anak muda, melainkan masalah-masalah sistemik yang bikin hidup makin berat.

Semangat gotong royong pemuda 1928 yang masih relevan hari ini

Foto hitam putih para tokoh Kongres Pemuda II
Foto hitam putih tokoh Kongres Pemuda II | Gesuri.id

Menggelar pertemuan nasional tanpa grup WhatsApp, Zoom, apalagi sponsor korporat besar jelas bukan perkara gampang. Tapi itulah yang dihadapi para pemuda di Kongres Pemuda II, yang digelar secara swadaya oleh organisasi-organisasi pemuda.

Gerak-gerik mereka juga diawasi ketat. Polisi dan intel kolonial ikut hadir di ruang rapat, dan kata “kemerdekaan” nggak boleh diucapkan terang-terangan. Saat W.R. Supratman memperdengarkan lagu Indonesia Raya pertama kali, lagunya pun dimainkan lewat biola tanpa lirik supaya acara nggak dibubarkan.

📍 Tiga rapat di tiga gedung1Katholieke Jongenlingen Bond2Oost-Java Bioscoop3Indonesische Clubgebouw, Jalan Kramat 106

Pola ini terasa familier, ya? Patungan mandiri, gerakan kolektif tanpa sokongan pihak besar, sampai rasa waswas karena ruang gerak dibatasi, mirip dengan yang masih dialami anak muda saat menyuarakan keadilan lewat aksi solidaritas.

Bedanya, kalau dulu para pemuda harus mengakali pengawasan polisi, kini media sosial jadi ruang bersuara yang kebebasannya pun nggak selalu leluasa.

ADVERTISEMENTS

Hasil nyata dari ruang-ruang rembuk yang diwariskan ke kita

Diorama Kongres Pemuda II di Museum Sumpah Pemuda
Diorama Kongres Pemuda II di Museum Sumpah Pemuda | Muspada Kemenbud

Semua lelah, urunan dana, pengawasan ketat, hingga perdebatan alot di Kongres Pemuda II akhirnya berbuah satu ikrar: Sumpah Pemuda. Lewat ikrar itu, mereka sepakat menanggalkan ego suku dan daerah demi melebur menjadi satu identitas, yaitu Indonesia.

Satu tanah air, satu bangsa, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.Inti ikrar Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928

Hasil kongres bukan sekadar teks yang sering kita baca saat upacara, tapi warisan berharga berupa ruang bersama. Mereka membuktikan bahwa anak muda dari latar belakang berbeda bisa bersatu demi tujuan yang sama.

Lalu, bagaimana dengan kita hari ini? Warisan ruang bersama itu sedang diuji. Isu-isu yang memecah belah sering membuat kita sibuk saling sikut, sementara persoalan yang sebenarnya justru luput dari perhatian.

Mengingat para pendahulu dulu mati-matian menyatukan bangsa supaya kita bisa hidup merdeka, sudah saatnya kita berhenti termakan adu domba dan kembali merajut solidaritas untuk memperbaiki keadaan.

Pemuda 1928 dan kita, sama-sama punya perjuangan

1928Melawan penjajahanTerpecah kelompok kedaerahanDiawasi polisi kolonialHari iniTekanan ekonomi dan biaya hidupTerpecah polarisasi media sosialRuang bersuara yang terbatas

Perjuangan anak muda hari ini memang beda. Kita nggak lagi menghadapi penjajahan, tapi masih harus berjuang di tengah tekanan ekonomi, biaya hidup yang mencekik, dan realita yang sering jauh dari harapan.

Dulu, pemuda 1928 bersatu demi masa depan bangsa. Hari ini, kita juga sedang memperjuangkan masa depan yang lebih baik di negeri yang sama. Kita boleh beda latar belakang dan pandangan, tapi tetap satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia.

Mulai dari hal sederhanaWarisan pemuda 1928 bisa dijaga lewat tindakan kecil. Simak cara menerapkan Sumpah Pemuda di zaman sekarang.

ADVERTISEMENTS

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Part time - Content Writer, Copywriter, Editor Buku, dan Penulis. Full time - menghabiskan waktu dengan para kucing, nonton drama maupun film.

Editor

Bisa diajak diskusi panjang lebar tentang kehidupan asal ada segelas kopi di atas meja. Mengubah kafein menjadi inspirasi, lalu merangkainya menjadi cerita. Percaya bahwa ide-ide terbaik selalu datang dari hal-hal yang paling sederhana.