Sejarah Sumpah Pemuda sering cuma jadi hafalan di buku paket yang harus diingat buat ujian. Padahal, kalau dipikir lagi, ada ironi yang cukup bikin kita merenung.
Para pemuda 1928, di usia kepala dua, sibuk merumuskan masa depan satu bangsa. Sementara kita sekarang, di rentang usia 20-an sampai awal 30-an, malah sibuk overthinking soal karier, susah cari kerja, sampai pusing menghadapi biaya hidup yang makin tinggi dan kebijakan yang sering bikin elus dada.
Ironis, ya? Mereka menyatukan Nusantara, sedangkan kita sibuk bertahan hidup di negeri yang mereka perjuangkan. Tapi ternyata, kita dan mereka sebenarnya sama-sama anak muda yang lelah dengan keadaan.
Kita dan mereka cuma anak muda 20-an yang capek terpecah belah

Kalau menengok catatan sejarah, para penggerak Kongres Pemuda II sebenarnya anak muda biasa. Mereka bukan orang hebat yang bebas dari rasa cemas.
Keresahan mereka saat itu adalah kungkungan penjajah. Organisasi pergerakan masih terkotak-kotak dalam kelompok kedaerahan, seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, hingga Jong Celebes. Dari sekat-sekat itu, mereka sadar satu hal: cita-cita besar nggak akan tercapai kalau anak mudanya jalan sendiri-sendiri.
Dulu, mereka capek dipecah belah lewat politik adu domba kolonial. Kalau dilihat hari ini, polanya terasa berulang. Narasi yang memecah belah dan algoritma yang bikin anak muda gampang saling serang di media sosial seolah terus dipelihara.
Padahal, kalau dipikir dengan kepala dingin, musuh bersama kita jelas bukan sesama rakyat atau sesama anak muda, melainkan masalah-masalah sistemik yang bikin hidup makin berat.
Semangat gotong royong pemuda 1928 yang masih relevan hari ini

Menggelar pertemuan nasional tanpa grup WhatsApp, Zoom, apalagi sponsor korporat besar jelas bukan perkara gampang. Tapi itulah yang dihadapi para pemuda di Kongres Pemuda II, yang digelar secara swadaya oleh organisasi-organisasi pemuda.
Gerak-gerik mereka juga diawasi ketat. Polisi dan intel kolonial ikut hadir di ruang rapat, dan kata “kemerdekaan” nggak boleh diucapkan terang-terangan. Saat W.R. Supratman memperdengarkan lagu Indonesia Raya pertama kali, lagunya pun dimainkan lewat biola tanpa lirik supaya acara nggak dibubarkan.
Pola ini terasa familier, ya? Patungan mandiri, gerakan kolektif tanpa sokongan pihak besar, sampai rasa waswas karena ruang gerak dibatasi, mirip dengan yang masih dialami anak muda saat menyuarakan keadilan lewat aksi solidaritas.
Bedanya, kalau dulu para pemuda harus mengakali pengawasan polisi, kini media sosial jadi ruang bersuara yang kebebasannya pun nggak selalu leluasa.
ADVERTISEMENTS
Hasil nyata dari ruang-ruang rembuk yang diwariskan ke kita

Semua lelah, urunan dana, pengawasan ketat, hingga perdebatan alot di Kongres Pemuda II akhirnya berbuah satu ikrar: Sumpah Pemuda. Lewat ikrar itu, mereka sepakat menanggalkan ego suku dan daerah demi melebur menjadi satu identitas, yaitu Indonesia.
Satu tanah air, satu bangsa, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.Inti ikrar Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928
Hasil kongres bukan sekadar teks yang sering kita baca saat upacara, tapi warisan berharga berupa ruang bersama. Mereka membuktikan bahwa anak muda dari latar belakang berbeda bisa bersatu demi tujuan yang sama.
Lalu, bagaimana dengan kita hari ini? Warisan ruang bersama itu sedang diuji. Isu-isu yang memecah belah sering membuat kita sibuk saling sikut, sementara persoalan yang sebenarnya justru luput dari perhatian.
Mengingat para pendahulu dulu mati-matian menyatukan bangsa supaya kita bisa hidup merdeka, sudah saatnya kita berhenti termakan adu domba dan kembali merajut solidaritas untuk memperbaiki keadaan.
Pemuda 1928 dan kita, sama-sama punya perjuangan
Perjuangan anak muda hari ini memang beda. Kita nggak lagi menghadapi penjajahan, tapi masih harus berjuang di tengah tekanan ekonomi, biaya hidup yang mencekik, dan realita yang sering jauh dari harapan.
Dulu, pemuda 1928 bersatu demi masa depan bangsa. Hari ini, kita juga sedang memperjuangkan masa depan yang lebih baik di negeri yang sama. Kita boleh beda latar belakang dan pandangan, tapi tetap satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia.
ADVERTISEMENTS