Makan Telur Setiap Hari Apakah Bahaya? Ini Mitos dan Faktanya!

Makan telur setiap hari bisa bahayakan kesehatan, emang benar?

Telur termasuk makanan yang gampang dicari dan praktis diolah. Banyak orang mengonsumsinya hampir setiap hari, entah sebagai menu sarapan, lauk, atau campuran berbagai masakan. Tapi kebiasaan ini juga sering dikaitkan dengan kekhawatiran soal kolesterol dan penyakit jantung.

Lantas, makan telur setiap hari apakah bahaya bagi kesehatan? Jawabannya nggak sesederhana “ya” atau “tidak”. Dampaknya perlu dilihat dari jumlah konsumsi, pola makan secara keseluruhan, cara mengolahnya, dan kondisi kesehatan masing-masing orang.

🥚 Kandungan 1 butir telur ayam besar (±50 gram)72kkal6,3 gprotein4,8 glemak186 mgkolesterolSumber: USDA FoodData Central. Angka bisa sedikit berbeda tergantung ukuran telur.

Makan telur setiap hari apakah bahaya? Ini mitos dan faktanya

Berikut beberapa mitos soal makan telur setiap hari, beserta fakta berdasarkan bukti ilmiah terbaru.

Mitos 1: Makan telur setiap hari pasti meningkatkan risiko penyakit jantung

Telur rebus di piring sebagai ilustrasi makan telur setiap hari
Ilustrasi | Canva
✅ FaktaBukti terbaru nggak menunjukkan bahwa konsumsi telur dalam jumlah wajar otomatis meningkatkan risiko penyakit jantung.

Sebuah umbrella review yang terbit pada 2025 menganalisis 14 meta-analisis tentang konsumsi telur dan berbagai dampak kesehatan. Hasilnya, kualitas bukti secara keseluruhan masih rendah dan sangat bervariasi, dan nggak ada bukti yang cukup untuk menyarankan orang menghindari telur sebagai bagian dari pola makan sehat.

Studi besar sebelumnya, yaitu studi PURE yang melibatkan lebih dari 170 ribu orang di 50 negara dan terbit pada 2020, juga menemukan bahwa konsumsi sekitar satu telur per hari nggak berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.

Artinya, telur bukan satu-satunya penyebab penyakit jantung. Pola makan, aktivitas fisik, berat badan, tekanan darah, kadar kolesterol, dan kebiasaan lain juga berperan.

ADVERTISEMENTS

Mitos 2: Kolesterol dalam telur sama dengan kolesterol darah

Kuning telur yang mengandung kolesterol makanan
Ilustrasi | Canva
✅ FaktaKolesterol dari makanan dan kadar kolesterol dalam darah adalah dua hal yang berbeda.

Kuning telur memang mengandung kolesterol. Tapi kadar LDL atau kolesterol “jahat” dalam darah nggak cuma dipengaruhi satu jenis makanan.

American Heart Association (AHA) dalam panduan diet untuk kesehatan kardiovaskular 2026 lebih menekankan pola makan secara keseluruhan, termasuk mengganti lemak jenuh dengan lemak tak jenuh dan memperbanyak makanan minim proses. Jadi, menilai risiko hanya dari jumlah telur yang dimakan bisa memberi gambaran yang nggak utuh.

Mitos 3: Semakin banyak telur yang dimakan, semakin sehat

Beberapa butir telur di atas meja dapur
Ilustrasi | Canva
✅ FaktaTelur memang bergizi, tapi lebih banyak nggak selalu lebih baik.

Telur adalah sumber protein dan mengandung beragam zat gizi. Tapi kebutuhan nutrisi tetap perlu dipenuhi lewat pola makan yang beragam, termasuk sayur, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan sumber lemak tak jenuh.

Karena itu, menjadikan telur satu-satunya sumber protein setiap hari bukan pilihan ideal. Kombinasikan dengan ikan, unggas, kacang-kacangan, tahu, tempe, dan sumber protein lain sesuai kebutuhan.

Mitos 4: Cara memasak telur nggak memengaruhi kesehatan

Telur rebus dan telur goreng dengan cara masak berbeda
Ilustrasi | Canva
✅ FaktaCara telur dimasak dan disajikan memengaruhi kualitas makananmu secara keseluruhan.

Telur rebus atau telur yang dimasak dengan sedikit minyak jelas berbeda dengan telur yang digoreng dengan banyak minyak, lalu disajikan bareng makanan tinggi lemak jenuh atau garam. Panduan AHA 2026 juga menekankan pembatasan lemak jenuh, natrium, gula tambahan, dan makanan ultra-proses.

👍 Lebih baikTelur rebus atau pochèOrak-arik dengan sedikit minyakDitemani sayur dan nasi merah⚠️ BatasiTelur goreng dengan banyak minyakDicampur sosis, bacon, atau keju berlebihDitambah saus asin dan mi instan

Mitos 5: Semua orang aman makan telur setiap hari

Orang berkonsultasi soal pola makan dengan dokter
Ilustrasi | Canva
✅ FaktaKebutuhan dan kondisi setiap orang berbeda.

Orang sehat dengan pola makan seimbang umumnya bisa memasukkan telur ke menu rutin. Tapi kalau kamu punya kondisi tertentu, seperti gangguan kadar kolesterol, diabetes, atau faktor risiko penyakit jantung lain, sebaiknya diskusikan pola makanmu dengan dokter atau ahli gizi.

Panduan AHA 2026 tentang pengelolaan dislipidemia juga menekankan pentingnya menilai kadar LDL, HDL, trigliserida, faktor risiko lain, dan gaya hidup secara menyeluruh, bukan cuma satu jenis makanan.

💡 Belum tahu kadar kolesterolmu? Cek kolesterol secara berkala, misalnya lewat medical check up tahunan, supaya kamu tahu porsi telur yang aman buat kondisimu.

Jadi, makan telur setiap hari apakah bahaya?

Jawaban singkatnyaNggak otomatis berbahaya bagi orang sehat, selama jadi bagian dari pola makan seimbang dan dimasak dengan cara yang sehat.

Yang lebih penting adalah pola makan secara keseluruhan. Telur bisa jadi salah satu sumber protein, tapi sebaiknya dimakan bersama makanan bergizi lain. Cara memasaknya juga perlu diperhatikan supaya hidanganmu nggak sekaligus tinggi lemak jenuh, garam, atau kalori.

Buat kamu yang punya kadar kolesterol tinggi atau kondisi kesehatan tertentu, porsi makan telur sebaiknya disesuaikan dengan kondisimu dan anjuran tenaga kesehatan.

Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan pengganti konsultasi dengan dokter atau ahli gizi.

ADVERTISEMENTS

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Senior content writer - Wordsmith with 10 years experience. I do write everything; lifestyle, technology, finance, economic, entertainment, business, viral things, etc. Business inquiries: 0895422334529

Editor

Bisa diajak diskusi panjang lebar tentang kehidupan asal ada segelas kopi di atas meja. Mengubah kafein menjadi inspirasi, lalu merangkainya menjadi cerita. Percaya bahwa ide-ide terbaik selalu datang dari hal-hal yang paling sederhana.