Telur termasuk makanan yang gampang dicari dan praktis diolah. Banyak orang mengonsumsinya hampir setiap hari, entah sebagai menu sarapan, lauk, atau campuran berbagai masakan. Tapi kebiasaan ini juga sering dikaitkan dengan kekhawatiran soal kolesterol dan penyakit jantung.
Lantas, makan telur setiap hari apakah bahaya bagi kesehatan? Jawabannya nggak sesederhana “ya” atau “tidak”. Dampaknya perlu dilihat dari jumlah konsumsi, pola makan secara keseluruhan, cara mengolahnya, dan kondisi kesehatan masing-masing orang.
Makan telur setiap hari apakah bahaya? Ini mitos dan faktanya
Berikut beberapa mitos soal makan telur setiap hari, beserta fakta berdasarkan bukti ilmiah terbaru.
Mitos 1: Makan telur setiap hari pasti meningkatkan risiko penyakit jantung

Sebuah umbrella review yang terbit pada 2025 menganalisis 14 meta-analisis tentang konsumsi telur dan berbagai dampak kesehatan. Hasilnya, kualitas bukti secara keseluruhan masih rendah dan sangat bervariasi, dan nggak ada bukti yang cukup untuk menyarankan orang menghindari telur sebagai bagian dari pola makan sehat.
Studi besar sebelumnya, yaitu studi PURE yang melibatkan lebih dari 170 ribu orang di 50 negara dan terbit pada 2020, juga menemukan bahwa konsumsi sekitar satu telur per hari nggak berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.
Artinya, telur bukan satu-satunya penyebab penyakit jantung. Pola makan, aktivitas fisik, berat badan, tekanan darah, kadar kolesterol, dan kebiasaan lain juga berperan.
ADVERTISEMENTS
Mitos 2: Kolesterol dalam telur sama dengan kolesterol darah

Kuning telur memang mengandung kolesterol. Tapi kadar LDL atau kolesterol “jahat” dalam darah nggak cuma dipengaruhi satu jenis makanan.
American Heart Association (AHA) dalam panduan diet untuk kesehatan kardiovaskular 2026 lebih menekankan pola makan secara keseluruhan, termasuk mengganti lemak jenuh dengan lemak tak jenuh dan memperbanyak makanan minim proses. Jadi, menilai risiko hanya dari jumlah telur yang dimakan bisa memberi gambaran yang nggak utuh.
Mitos 3: Semakin banyak telur yang dimakan, semakin sehat

Telur adalah sumber protein dan mengandung beragam zat gizi. Tapi kebutuhan nutrisi tetap perlu dipenuhi lewat pola makan yang beragam, termasuk sayur, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan sumber lemak tak jenuh.
Karena itu, menjadikan telur satu-satunya sumber protein setiap hari bukan pilihan ideal. Kombinasikan dengan ikan, unggas, kacang-kacangan, tahu, tempe, dan sumber protein lain sesuai kebutuhan.
Mitos 4: Cara memasak telur nggak memengaruhi kesehatan

Telur rebus atau telur yang dimasak dengan sedikit minyak jelas berbeda dengan telur yang digoreng dengan banyak minyak, lalu disajikan bareng makanan tinggi lemak jenuh atau garam. Panduan AHA 2026 juga menekankan pembatasan lemak jenuh, natrium, gula tambahan, dan makanan ultra-proses.
Mitos 5: Semua orang aman makan telur setiap hari

Orang sehat dengan pola makan seimbang umumnya bisa memasukkan telur ke menu rutin. Tapi kalau kamu punya kondisi tertentu, seperti gangguan kadar kolesterol, diabetes, atau faktor risiko penyakit jantung lain, sebaiknya diskusikan pola makanmu dengan dokter atau ahli gizi.
Panduan AHA 2026 tentang pengelolaan dislipidemia juga menekankan pentingnya menilai kadar LDL, HDL, trigliserida, faktor risiko lain, dan gaya hidup secara menyeluruh, bukan cuma satu jenis makanan.
Jadi, makan telur setiap hari apakah bahaya?
Yang lebih penting adalah pola makan secara keseluruhan. Telur bisa jadi salah satu sumber protein, tapi sebaiknya dimakan bersama makanan bergizi lain. Cara memasaknya juga perlu diperhatikan supaya hidanganmu nggak sekaligus tinggi lemak jenuh, garam, atau kalori.
Buat kamu yang punya kadar kolesterol tinggi atau kondisi kesehatan tertentu, porsi makan telur sebaiknya disesuaikan dengan kondisimu dan anjuran tenaga kesehatan.
ADVERTISEMENTS