Menikah di Usia Berbeda: 5 Pilihan Perempuan dan Fakta di Baliknya

Data BPS dan riset ilmiah menunjukkan bahwa usia bukan satu-satunya pertimbangan menikah.

Pernah nggak kamu pulang dari nikahan teman sambil mikir, “Kira-kira kapan giliranku, ya?” Apalagi kalau teman sebaya mulai menikah satu per satu, sementara kamu masih sibuk membangun karier, menyelesaikan kuliah, atau malah belum yakin ingin menikah dalam waktu dekat.

Di lingkungan yang sering menganggap pernikahan sebagai pencapaian hidup, menikah di usia berbeda bisa membawa pengalaman yang beragam. Ada yang merasa siap di usia 22, ada yang baru serius memikirkannya menjelang 30, ada juga yang memilih menunggu sampai 35 atau lebih.

Lantas, adakah usia ideal menikah? Apakah perempuan yang menikah lebih muda otomatis kurang siap dibanding yang menikah di usia 30-an? Data dan penelitian bisa membantu menjawabnya. Tapi ingat, usia saat menikah, usia yang dianggap ideal, dan kesiapan menjalani rumah tangga adalah tiga hal yang berbeda.

⚖️ Secara hukum: menurut UU Nomor 16 Tahun 2019, batas usia minimal menikah di Indonesia adalah 19 tahun, baik untuk perempuan maupun laki-laki.

Menikah di usia berbeda: 5 pilihan perempuan dan faktanya

22Saat mulai ingin membangun rumah tangga25Saat keuangan dan masa depan ikut dipikirkan29Saat pilihan hidup makin personal35Saat tekanan sosial terasa berbeda?Belum tahu kapan, dan itu juga pilihan

1. Menikah di usia 22 tahun, saat mulai ingin membangun rumah tangga

Perempuan muda dilamar kekasihnya
Momen dilamar kekasih | Hipwee

Menikah di awal 20-an bisa jadi pilihan bagi perempuan yang merasa sudah menemukan pasangan yang cocok. Ada yang sudah lama membicarakan masa depan dengan pasangan, ada juga yang mempertimbangkan dukungan keluarga dan kondisi finansial.

🔬 Kesiapan menikah bukan cuma soal usiaPenelitian Fitri Sari dan Euis Sunarti (2013) terhadap 110 mahasiswa mengidentifikasi sejumlah aspek kesiapan menikah: pengendalian emosi, empati, kemampuan sosial, komunikasi, kesiapan finansial, kesiapan peran, dan kesiapan seksual.Baca penelitiannya

Jadi, usia 22 nggak bisa langsung dijadikan ukuran siap atau belum. Yang lebih penting adalah bagaimana kamu dan pasangan mengelola perbedaan pendapat dan membagi tanggung jawab. Sebaliknya, perempuan yang belum ingin menikah di usia ini juga nggak otomatis takut berkomitmen.

Yang biasanya ikut dipikirkanKesiapan emosiDukungan keluargaKomunikasi dengan pasangan

ADVERTISEMENTS

2. Menikah di usia 25 tahun, saat keuangan dan masa depan ikut dipikirkan

Pasangan muda bergandengan tangan di hari pernikahan
Menikah di usia 20-an | Hipwee

Memasuki pertengahan 20-an, sebagian perempuan mulai memikirkan pernikahan secara lebih konkret. Karier, penghasilan, tempat tinggal, sampai biaya pernikahan mulai masuk ke obrolan dengan pasangan.

Tapi anggapan bahwa 25 tahun adalah waktu yang tepat untuk semua perempuan juga perlu dihindari. Kesempatan kerja, kemandirian finansial, dan peluang bertemu pasangan yang cocok berbeda-beda pada setiap orang.

🔬 Finansial dan empati ikut berperanDalam studi yang sama, Sari dan Sunarti menemukan kesiapan finansial dan kemampuan berempati berkaitan dengan usia menikah. Karena respondennya mahasiswa, hasilnya nggak bisa langsung mewakili seluruh perempuan Indonesia.

Artinya, menyiapkan pernikahan juga berarti membahas hal-hal yang kurang romantis tapi penting, seperti mengatur pengeluaran, menentukan prioritas, membagi pekerjaan rumah, dan mengambil keputusan saat kondisi keuangan berubah.

Yang biasanya ikut dipikirkanRencana keuanganBiaya pernikahanTempat tinggal

3. Menikah di usia 29 tahun, saat pilihan hidup makin personal

Pasangan mengucapkan janji pernikahan
Janji pernikahan | Hipwee

Menjelang 30, sebagian perempuan mungkin sudah punya gambaran lebih jelas soal hidup yang ingin dijalani. Ada yang sudah mantap menikah, ada yang masih mencari pasangan, ada juga yang memprioritaskan hal lain.

69,75%pemuda usia 16–30 tahun belum menikah29,1%sudah menikahSumber: Statistik Pemuda Indonesia 2024, BPS

Angka ini menunjukkan mayoritas anak muda Indonesia belum menikah. Tapi data status perkawinan nggak menjelaskan alasannya, apakah karena fokus karier, belum ketemu pasangan, kendala ekonomi, atau memang belum ingin menikah. Jadi, menikah menjelang 30 nggak bisa langsung dicap “terlalu pemilih” atau “telat”.

Yang biasanya ikut dipikirkanPrioritas pribadiKecocokan nilai hidupRencana jangka panjang

4. Menikah di usia 35 tahun, saat tekanan sosial terasa berbeda

Pasangan dewasa di hari pernikahan
Pernikahan di usia dewasa | Hipwee

Buat perempuan yang belum menikah di usia 30-an, pertanyaan “Kapan nyusul?” atau “Nggak takut keduluan?” bisa bikin keputusan pribadi terasa seperti hal yang harus dijelaskan ke semua orang.

Padahal, belum menikah di usia 35 nggak otomatis berarti menolak pernikahan. Bisa jadi ia belum menemukan pasangan yang pas, masih menimbang kesiapan, atau punya prioritas hidup yang berbeda.

📌 Data BPS di atas hanya mencakup usia 16–30 tahun, jadi nggak bisa dipakai untuk menggambarkan pengalaman perempuan berusia 35 tahun.

Penelitian soal kesiapan menikah menunjukkan bahwa aspek emosional, sosial, finansial, komunikasi, dan kesiapan peran semuanya ikut berperan. Tapi itu nggak membuktikan bahwa perempuan yang menikah di usia 35 pasti lebih siap daripada yang menikah di usia 22. Menunggu bukan otomatis pilihan terbaik, sama seperti menikah muda bukan otomatis keputusan yang keliru.

Yang biasanya ikut dipikirkanTekanan lingkunganKesiapan diriKecocokan pasangan

5. Belum tahu kapan menikah, dan itu juga sebuah pilihan

Foto pernikahan pasangan pengantin
Foto pernikahan | Hipwee

Nggak semua perempuan punya target usia menikah. Ada yang masih ingin menyelesaikan pendidikan, membangun karier, menata keuangan, atau memahami apa yang benar-benar ia inginkan. Belum punya jawaban pasti bukan berarti takut berkomitmen.

🔬 Dukungan sosial dan ekonomi ikut berpengaruhPenelitian di Journal of Child, Family, and Consumer Studies (2023) terhadap 60 dewasa muda belum menikah usia 21–30 tahun di Bogor Tengah menemukan bahwa usia, religiositas, dukungan sosial, pendapatan, dan jumlah anggota keluarga berhubungan dengan kesiapan menikah. Sampelnya kecil dan nggak dipilih acak, jadi hasilnya nggak bisa digeneralisasi.Baca penelitiannya

Temuan ini menegaskan bahwa usia saja nggak cukup untuk menjelaskan keputusan seseorang. Perempuan yang belum menentukan kapan akan menikah juga nggak perlu dipaksa punya target hanya karena orang-orang di sekitarnya sudah berkeluarga lebih dulu.

Yang biasanya ikut dipikirkanTujuan hidupKondisi ekonomiDukungan sosial

Nggak harus mengikuti timeline orang lain

Pasangan pengantin baru tersenyum bahagia
Pengantin baru | Hipwee

Menikah di usia berbeda, entah 22, 25, 29, 35, atau bahkan belum kepikiran sama sekali, bukan ukuran tunggal keberhasilan hidup seseorang. Setiap perempuan punya kondisi, pengalaman, dan prioritas yang berbeda.

Kalau kamu sedang memikirkan pernikahan, ambil waktu untuk memahami kebutuhan dirimu dan bicarakan harapan dengan pasangan. Keputusan ini layak dipertimbangkan matang-matang, bukan cuma demi memenuhi ekspektasi lingkungan.

Pernikahan bukan perlombaan untuk sampai di garis akhir paling dulu. Yang penting, kamu tahu alasan di balik keputusanmu dan pilihan itu sesuai dengan kesiapanmu.

Punya teman yang sering ditanya “kapan nikah?”Bagikan artikel ini ke mereka. Buat yang sudah menikah dan sedang menanti momongan, baca juga kutipan penguat hati saat menanti buah hati.

ADVERTISEMENTS

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Seorang vocal coach, content writer, dan author yang menjadikan suara dan tulisan sebagai medium ekspresi, pembelajaran, dan pemulihan. Memiliki ketertarikan besar pada eksplorasi hal-hal baru, proses kreatif, serta kepedulian terhadap kesehatan mental. Percaya bahwa suara, kata, dan empati dapat menciptakan ruang aman untuk bertumbuh, baik secara personal maupun profesional.

Editor

Bisa diajak diskusi panjang lebar tentang kehidupan asal ada segelas kopi di atas meja. Mengubah kafein menjadi inspirasi, lalu merangkainya menjadi cerita. Percaya bahwa ide-ide terbaik selalu datang dari hal-hal yang paling sederhana.