Kata “liburan” atau “traveling” bisa jadi terasa asing di telingamu. Sebagai seorang karyawan, kamu sudah terbiasa menjalani rutinitas harian. Kerja 5 hari dalam seminggu, berangkat saat pagi buta demi menghindari macet, berjibaku dengan tugas-tugas kantor, dan baru kembali ke rumah ketika menjelang malam. Selain kadang masih harus menyelesaikan sisa pekerjaan, kamu memilih menghabiskan waktu di akhir pekan untuk istirahat daripada pergi jalan-jalan.

Tapi, tunggu! Apa kamu mau terus-menerus menjalani rutinitas yang seperti itu? Tidak inginkah sejenak berpaling dari layar komputer dan berkas-berkas yang ada di mejamu? Bukankah matamu juga berhak melihat indahnya sunset di pantai atau menikmati hijaunya alam pegunungan?

1. Pekerjaan dan uang yang kamu punya bukan segala-galanya. Pergi berlibur dan menikmati waktu di luar kantor adalah cara sederhana demi hidup yang bahagia

traveling = hidup bahagia via ebikdei.blogspot.com

“Pas kuliah = punya waktu luang tapi nggak punya uang buat liburan

Pas udah kerja = punya uang tapi nggak bisa kemana-mana”

Saat masih sekolah atau kuliah, kamu seperti punya lebih banyak waktu untuk bersenang-senang. Sementara, pertambahan usia menuntunmu sampai di titik kedewasaan. Kamu menyadari bahwa orang dewasa punya kewajiban untuk bekerja demi bisa hidup mandiri dan mencukupi kebutuhannya.

Advertisement

Namun, satu hal yang perlu diingat, uang jelas bukan penentu segalanya. Kamu tidak melulu bahagia sekalipun punya banyak uang dari hasil kerjamu. Pekerjaan bukanlah sesuatu yang harus didewa-dewakan karena banyak hal lain yang tidak kalah pentingnya. Yang pasti, sebanyak apapun uang yang kamu punya, ia tidak akan pernah bisa membeli waktu.

Yup, waktu terus berjalan dan tidak bisa dihentikan. Waktu pula yang akan mengantarkanmu pada jenjang kehidupan yang selanjutnya. Kamu yang sekarang masih single, kelak akan menikah dan punya keluarga. Semakin banyak tanggung jawab, maka semakin minim pula waktu yang kamu punya. Diantara puluhan pantai yang bisa disambangi dan puncak-puncak tertinggi yang layak dijajaki, bukankah enggan memanfaatkan jatah cuti atau waktu liburmu berarti merugi?

2. Kebiasaan duduk berjam-jam memperbesar kemungkinan mati muda, traveling dan melakoni aktivitas fisik justru membuat kebugaran tubuhmu tetap terjaga

fisikmu akan lebih bugar via sarangpenyamun.wordpress.com

Menurut penelitian Global Commission on Aging and Transamerica Center for Retirement Studies, perempuan yang rutin pergi traveling setidaknya 2 kali dalam setahun punya resiko lebih kecil mengalami serangan jantung dibanding mereka yang tidak traveling. Bahkan, 89% responden mengalami penurunan tingkat stres sekitar 1 atau 2 hari sepulang traveling.

Sementara, kebanyakan pegawai kantoran seringkali harus duduk berjam-jam di depan layar komputer. Sesekali beranjak dari tempat duduk ketika makan siang atau sekadar bikin kopi. Padahal, duduk terlalu lama bisa sangat berbahaya bagi kesehatan, misalnya meningkatkan resiko diabetes dan kanker.

Tracking di Air Terjun Madakaripura di Probolinggo, menjajal jalur pendakian Merapi, menyusuri eksotisme hutan bakau di Bali; berbagai kegiatan saat traveling yang sekaligus bisa membantu menjaga kebugaran fisikmu. American College of Sports Medicine menyebutkan bahwa setiap orang butuh bergerak 150 menit per minggu, atau minimal 30 menit per harinya. Jalan kaki lebih dari 30 menit setiap hari juga bisa menurunan kadar lemak dalam tubuh. Nah, jika traveling bisa memberi manfaat kesehatan yang sedemikian hebat, apa kamu masih butuh alasan untuk segera mengepak ranselmu?

3. Sejenak “kabur” dari rutinitas sehari-hari memungkinkanmu semakin mengenal karakter diri. Kamu belajar menemukan kekurangan, kelebihan, dan cara memperbaiki diri

pulang jadi pribadi yang lebih baik via empattraveltoindonesia.wordpress.com

Menghabiskan waktu dalam perjalanan tenyata membawa manfaat tersendiri. Pergi traveling memungkinkan kamu bertemu dengan banyak orang asing sehingga kemampuan dalam berinteraksi sosial akan semakin terasah. Ketika kamu merasa canggung atau bahkan malas bertanya pada penduduk lokal tersesat, bisa jadi skill interaksi sosialmu masih lemah. Hal ini tentu jadi catatan tersendiri, kamu bisa berusaha memperbaiki diri sepulang dari perjalananmu.

Meski sudah dipersiapkan dengan sedemikian rupa, liburanmu kadang tidak berjalan sesuai rencana. Gagal melihat sunrise di Bromo gara-gara cuaca mendung, pelayanan agen travel yang mengecewakan, tempat tujuan wisata yang tidak sesuai ekspektasi; banyak hal yang akan menguras emosi atau menguji kesabaranmu. Di titik ini, kamu akan belajar jadi pribadi yang lebih “menerima”. Kamu belajar dewasa menghadapi segala hal yang tidak sesuai dengan kehendakmu.

Pengalaman semacam ini jadi pembelajaran yang akan kamu bawa ke dunia kerja. Ketika sikap rekan kerja atau atasan tidak sesuai harapan, kamu bisa mengendalikan emosi dan tetap melanjutkan tugasmu.

4. Ada dunia yang lebih luas dan indah di luar sana. Tak rela rasanya jika hanya berdiam di dalam ruang kerja atau kamarmu saja

traveling membuatmu makin “kaya” via memyself303.wordpress.com

Saat terkunkung dengan rutinitas, banyak hal yang mungkin kamu lewatkan di luar sana. Bagaimana pun, dunia tidak seluas kantor atau kamarmu saja. Tidak pula sepanjang jarak dari rumah menuju kantor atau mall tempatmu biasa nongkrong. Ada dunia yang lebih indah dan lebih luas yang tidak pasti akan ada habisnya untuk dijelajahi. Indonesia begitu kaya dengan destinasi wisata. Saat ingin suasana yang berbeda, negara-negara tetangga pun layak jadi tujuan wisatamu selanjutnya.

Yang pasti, ilmu dan pengetahuan tidak hanya datang dari senior atau atasanmu di kantor. Tidak pula dari buku atau tugas-tugas kantor yang biasa kamu akrabi. Interaksi dengan penduduk lokal atau perkenalan dengan orang asing sepanjang perjalanan adalah salah satu yang menjadikanmu semakin “kaya”. Apa yang kamu lihat, dengar, dan rasakan sepanjang perjalanan adalah kemewahan.

5. Traveling berarti keluar dari zona nyaman, perjalanan menempamu belajar menghadapi tantangan

siap menghadapi tantangan via addakhil.wordpress.com

Pekerjaan seringkali menghadapkanmu pada situasi yang sulit. Sebagai seorang marketing, perusahaan membebanimu dengan target penjualan yang begitu tinggi. Bekerja sebagai jurnalis, kamu dihadapkan dengan berbagai situasi dan kondisi saat mencari berita. Kamu yang bekerja sebagai customer service di bank pun harus siap menghadapi berbagai macam karakter klien yang terkadang menyebalkan.

Dengan traveling, kamu belajar memantapkan hati untuk mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah kamu sambangi sebelumnya. Selain itu, berbagai aktivitas menangtang pun bisa kamu coba demi menempa fisik dan mentalmu; mendaki Semeru, menjajal arung jeram di sungai Citarik di Sukabumi atau mencoba wisata paralayang di Batu. Pergi traveling berarti membiasakan diri untuk menerima tantangan. Kelak saat kembali bekerja, kamu pun siap dengan tugas-tugas kantor yang bahkan paling sulit sekalipun.

6. Traveling saat akhir pekan atau mengajukan cuti demi pergi liburan bukan dosa. Produktivitas di kantor malah semakin meningkat setelahnya

produktivitas makin meningkat via www.jerryrlucado.com

Semakin produktif sepulang traveling? Kok bisa, ya? Penelitian dari Oxford Economics menyebutkan bahwa waktu liburan membuat karyawan semakin produktif. Bahkan, karyawan akan kembali ke kantor dengan lebih semangat setelah menjalani cuti berbayar.

Sayangnya, ada 42% pekerja di Amerika yang hanya menggunakan setengah waktu cutinya di tahun 2013. Total 40% karyawan justru merasa tidak mau mengambil cuti, dan 12% sisanya merasa ketakutan kalau-kalau pekerjaan akan menumpuk begitu mereka kembali dari berlibur.

Berpikir bahwa kerja terus-menerus akan lebih baik adalah pemahaman yang keliru. Justru cara ini akan semakin memperburuk produktifitas dan mengakibatkan stres. Mengambil waktu di akhir pekan atau cuti 3 hari untuk berlibur berarti mengistirahatkan fisik dan mental. Setelahnya, kamu bisa kembali ke kantor dengan kondisi yang lebih prima.

7. Liburan bukan berarti meninggalkan pekerjaan, cara inilah yang menjadikan hidupmu lebih seimbang

hidup yang lebih seimbang via www.levo.com

Jika pekerjaanmu di Minggu ini sudah tuntas, memilih traveling di akhir pekan tidak akan jadi masalah. Namun, lain soal jika kamu memutuskan pergi berlibur dengan mengambil jatah cuti. Biasanya, kantor mewajibkan karyawan untuk mengajukan cuti sejak jauh-jauh hari. Pasalnya, 1 atau 2 karyawan yang absen bisa jadi mempengaruhi yang kinerja karyawan lainnya.

Asalkan tidak mengajukan cuti secara mendadak dan bisa mengatur atau mendelegasikan tugas-tugasmu, sejenak “kabur” dari kantor tidak akan jadi masalah. Memilih rehat dari rutinitas sehari-hari justru bisa jadi caramu untuk membuat hidup lebih seimbang. Keseimbangan inilah yang menjadikan segala yang kamu lakoni sehari-hari menjadi lebih lancar.

8. Karena hidup adalah tentang ketidakpastian, tidak ada salahnya sejenak meninggalkan pekerjaan dan bersenang-senang!

traveling selagi ada kesempatan via www.panoramio.com

Hidup memang tidak melulu menjanjikan hal-hal yang pasti. Justru setiap harinya kamu “dipaksa” akrab dengan berbagai ketidakpastian. Bukan tidak mungkin perusahaan tempatmu bekerja akhirnya bangkrut atau bisa jadi kamu dipecat lantaran melakukan kesalahan dan dianggap tidak memenuhi ekspektasi perusahaan. Namun, segala ketidakpastian ini selayaknya tidak ditanggapi dengan rasa takut, justru kamu bisa lebih rileks menjalani hidup.

Tidak perlu memforsir diri untuk bekerja. Menganggap bahwa dengan bekerja mati-matian maka kehidupanmu di masa depan akan lebih baik. Satu hal yang mungkin sering terlupa, perkara usia dan akhir dunia adalah sesuatu yang tidak bisa diprediksi. Saat kamu tidak baik-baik memanfaatkan waktu di akhir pekan atau jatah cutimu untuk liburan, yakin kamu masih punya kesempatan di lain hari? Belum tentu ‘kan?

Nah, gimana? Sudahkah kamu menentukan destinasi liburan, memesan tiket kereta, atau mengepak ranselmu? Mumpung masih punya waktu dan kesempatan, bolehlah sejenak melupakan soal pekerjaan dan pergi liburan! 🙂