“Ah, aku nggak jadi beli sepatunya deh. Harganya terlalu mahal gitu.”

“Nggak deh, aku makannya nanti dulu. Ini masih terlalu kenyang.”

Sehari-hari, frasa “terlalu mahal”, “terlalu kenyang”, “terlalu kecil”, atau “terlalu besar” sering kita dengar atau ucapkan. Tapi di antara frasa-frasa ini, pernahkah kamu perhatikan bahwa tak ada istilah “terlalu pintar”? Wajar saja, karena pintar memang tak punya batasan. Saat kita sedang serius-seriusnya belajar, tak pernah ada orang yang menegur lalu bilang: “Aduh, jangan. Nanti kamu terlalu pintar!”

Advertisement

Setiap hari, selalu ada pengetahuan baru untuk dipelajari. Tapi kita terlalu sering lupa ini. Menyia-nyiakan waktu jadi hal favorit baru. Bukannya berpikir bagaimana bisa selalu meng-upgrade diri, kita jadi pecundang yang kalah pada distraksi.

Padahal, bukankah hidup hanya bisa terasa menyenangkan jika diri terus berkembang?

Tak pantas bila kita malas belajar, sementara hidup tak pernah berhenti memberi pelajaran

Bukankah hidup tak pernah berhenti memberi pelajaran? via www.huffingtonpost.com

Mungkin sekarang kamu tak lagi menyandang status mahasiswa. Sudah beberapa lama kamu lepas dari institusi akademik dengan menyandang gelar sarjana. Hidup jadi penuh rutinitas, deadline demi deadline memakumu untuk mengerjakan tugas sampai tuntas. Waktu luang yang jarang ada akhirnya dimanfaatkan untuk istirahat saja.

Advertisement

Atau sebaliknya, mungkin kamu masih resmi berstatus mahasiswa. Namun sehari-hari, kamu lebih nyaman melakukan sesuatu yang tak banyak manfaatnya. Maraton nonton serial drama sampai tak tidur, nongkrong hingga lewat tengah malam, jalan-jalan bermalam-malam demi tabungan feed Instagram —  sementara buku-buku yang sudah dibeli dari toko hanya menganggur tak terbaca di kamar.

Kita tak terlatih menyediakan waktu untuk menyerap informasi atau membaca buku. Bahkan membaca koran setiap hari saja belum tentu. Berdiskusi tentang hal-hal yang sebenarnya penting, kita malu.

Lucu rasanya saat kita malas belajar. Padahal hidup selamanya akan memberi pelajaran

Orang bodoh tak punya banyak guna. Lebih celaka lagi, mereka tak sadar kalau sering merepotkan orang-orang di sekitarnya

Menyalakan lilin via www.lurvely.com

Kamu boleh jadi pendiam atau pemalu. Boleh jadi perasa dan sedikit terlalu peka. Tapi jangan jadi pandir alias tak cukup cerdas. Karena mereka yang tak cukup cerdas, takkan punya banyak guna. Celakanya, orang bodoh sering tak sadar kalau merepotkan orang-orang di sekitarnya.

Padahal, bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang menjadi lilin bagi sekitarnya?

Mulai saat ini, berjanjilah untuk tak lagi menelantarkan buku-buku yang kamu beli. Saat ada tayangan tak berguna di televisi, tutup telinga dan mata sampai channel-nya terganti. Saat kamu tak tahu apa yang teman-temanmu diskusikan, jangan malu bertanya agar pengetahuanmu satu level dengan mereka yang pintar.

Jangan pernah malu untuk terus belajar. Karena dalam bahasa kita, tak ada istilah “terlalu pintar”.

Kamu punya terlalu banyak potensi untuk jadi budak kemalasan. Ada profesi lain yang lebih cocok kamu jalani daripada jadi pecundang

Kamu bukan pecundang via www.porcelainista.net

Berapa banyak waktumu yang terbuang sia-sia selama ini? Tidur dan gegoleran di atas kasur saat kamu bisa mendengarkan podcast atau berlatih bahasa asing sehari-hari? Tak melakukan apa-apa alih-alih berpartisipasi dalam kegiatan yang berjibun manfaatnya?

Ayolah, kamu belum jadi mayat sekarang. Potensi dalam dirimu tak sepantasnya beristirahat dengan tenang.

Bangkit dari kasurmu sekarang. Kamu punya terlalu banyak potensi untuk dibuang atas nama kemalasan.

Tak pernah ada batas dalam menjadi pintar.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya