Ketika mendengar kata petani, apa yang terlintas di pikiranmu?

Kotor karena berkutat di sawah setiap hari? 
Kumuh dan kumal karena terpapar sinar matahari seharian?
Kerjanya keras tapi penghasilan nggak cukup untuk hidup sehari-hari?
Kuno dan sama sekali nggak keren?

Persepsimu soal petani sebagai pekerjaan yang tidak keren ataupun bergengsi akan berubah setelah kamu melihat Kiyoto Saito, petani muda Jepang yang mendapat julukan petani modis ini. Tidak seperti umumnya petani yang memakai kaos oblong dan celana pendek, atau kemeja longgar dan celana training, Saito memakai setelan jas lengkap dengan dasi dan sepatu pantovel. Bila bertemu di jalan, kamu tidak akan menyangka Saito akan ke sawah untuk membajak, melainkan dia akan ke kantor dan meeting dengan klien-klien penting.

Kiyoto Saito dilahirkan dalam keluarga petani yang sudah mengolah lahan selama hampir 400 tahun. Niat Saito untuk berdandan modis awalnya mendapat tantangan keluarga. Selain tidak pantas juga dikhawatirkan akan berbahaya. Bahkan Saito pernah dituduh menghina profesi petani dengan memakai pakaian yang tidak umum itu.

Namun Saito tetap berkeras dengan tujuannya untuk mengubah persepsi orang bahwa petani adalah pekerjaan yang ‘kotor’ sepanjang hari dan penghasilannya pun tidak banyak. Dengan menjadikan setelan sebagai kostum bekerjanya sehari-hari, Saito ingin memberi kesan bahwa menjadi petani juga bisa fun dan trendi seperti pekerjaan lainnya. Tak seperti anak muda yang sering gengsi, Saito mengajarkan untuk berbangga pada pekerjaan yang kita jalani, asalkan itu dilakukan dengan sepenuh hati.

1. Kiyoto Saito membuktikan bahwa pakaian bukanlah level pekerjaan. Dia yang berjas dan berdasi belum tentu lebih hebat. Toh, siapa saja bisa pakaian yang sama untuk bekerja di mana saja

Advertisement

Di sawah juga bisa pakai jas dan dasi via okepost.com

Apa yang dilakukan Saito seolah menjadi kontradiksi dalam hierarki pekerjaan dalam kehidupan. Selama ini dia yang berdasi dan berjas dianggap lebih hebat, dan cocok untuk digolongkan sebagai VVIP person. Sementara petani identik dengan orang desa yang lugu, bodoh, serta miskin. Saito membuktikan bahwa pakaian tidak menunjukkan tingkatan. Dia tetap bisa memakai setelan dan sepatu pantovel meski tidak bekerja di gedung-gedung tinggi dan berkendara dengan sopir pribadi.

3. Saito juga mendobrak tren masa kini. Petani tak harus kuno dan tua, anak muda pun bisa melakukannya dan tetap mempesona

Menjadi petani tak membuatnya kotor dan kusam. Tetap modis dan tampan via eparxies.gr

Ingat-ingat masa kecilmu dahulu, adakah satu saja temanmu yang menjawab ingin jadi petani saat ditanya apa cita-citanya? Dokter, pilot, polisi, guru, diplomat hingga astronot pasti ada. Tapi petani? Selama ini sektor pertanian begitu saja dibebankan kepada orang desa dan orang-orang yang sudah dan mulai menua. Sementara anak muda berlomba-lomba pergi ke kota untuk bekerja di sektor industri.

Selain dianggap penghasilannya lebih menjanjikan, juga gengsi rasanya bila harus berakrab-akrab dengan lumpur dan sinar matahari di sawah. Tapi di Jepang, Kiyoto menjadi petani muda dan tetap mempesona. Hilang semua kesan petani selalu miskin dan kumuh, bila melihat gaya Saito yang lebih mirip direktur utama.

3. Penting tidak penting sebuah pekerjaan adalah soal persepsi, tentang bagaimana kamu menghargai dirimu sendiri

Bagaimana menghargai diri sendiri? via boomee.co

Meski awalnya ditertawakan dan dianggap aneh, lambat laun gaya Saito justru didukung dan diikuti banyak orang. Gaya Saito yang tidak umum ini harus kita lihat sebagai pembebasan diri dari stigma masyarakat yang terkadang begitu mengikat.  Namun bila kita melihat lebih dalam, itu adalah cara Saito menghargai dirinya sendiri. Tak ada rasa minder ataupun rasa kurang derajat dibanding para direktur perusahaan yang disepakati sebagai standar kekerenan dunia. Dia bangga pada profesinya sebagai seorang petani yang, akui saja, kita anggap sebagai profesi yang tidak keren sama sekali.

4. Rumput tetangga selalu jauh lebih hijau, buat kita sering kurang percaya diri sebab pekerjaan yang kurang bergengsi dibandingkan teman sejawat

Tak perlu merasa minder atas pencapaian diri via unsplash.com

Ada pekerjaan-pekerjaan yang selalu terlihat wah di mata orang. Yaitu pekerjaan yang mensyaratkan title tertentu seperti S.H, atau dr, atau S.E, dan lain sebagainya. Pekerjaan-pekerjaan yang berkantor di gedung-gedung tinggi, dengan kostum formal sehari-hari, dan tentu saja, gaji yang tinggi. Saat reuni angkatan tiba, kamu yang sekian lama masih karyawan biasa akan ciut duluan ketika pembicaraan mulai merambah pada soal pekerjaan. Pasalnya kamu merasa apa yang kamu lakukan sama sekali tidak bisa dibanggakan. Gajimu belum seberapa, pekerjaanmu pun biasa saja.

5. Rasa nyaman dan cinta akan membuat seseorang melakukan pekerjaannya sepenuh hati. Sebab bekerja bukan semata untuk memenuhi gizi, tapi untuk buktikan eksistensi diri

Cinta pada pekerjaan adalah modal kenyamanan via luaadblog.tumblr.com

Yang terpenting dari sebuah pekerjaan adalah kenyamanan. Sekeren apapun jabatan yang kamu miliki, bila bukan hal yang kamu inginkan, sulit juga untuk merasa nyaman. Sebaliknya, meskipun orang lain memandang sebelah mata pekerjanmu, selama kamu nyaman maka kamu sudah senang.

Ada benarnya bahwa pekerjaan paling keren adalah hobi yang dijadikan sumber penghasilan. Dengan begitu hari-harimu tidak terasa seperti bekerja, melainkan berkarya. Setiap hari kamu lalui tidak sekadar menunggu jam 9 bergeser ke angka 5. Bukan sekadar menunggu-nunggu tanggal gajian tiba. Ada proses yang kamu nikmati, ada ilmu yang kamu serap sehingga waktumu tidak sia-sia.

6. Yang terpenting adalah rasa syukur atas apa yang sudah dimiliki. Karena sekecil apapun itu di matamu,  pasti masih banyak orang yang lebih tidak beruntung daripada kamu

Jangan lupa berhenti sejenak untuk mengucap syukur via unsplash.com

Selain rasa cinta atas pekerjaan, kunci dari kenyamanan adalah rasa syukur atas apa yang sudah kamu miliki saat ini. Sekian lama bekerja tapi jabatan dan gaji masih begitu-begitu saja memang terkadang membuat hati miris. Sementara teman-teman yang lain sudah melalang buana ke mana-mana, kamu masih terkurung di meja sempit dengan pola 9-5 sebagai jam kernya. Di saat teman-teman sudah mapan, kamu masih pontang-panting memenuhi kebutuhan. Sekilas itu memang terlihat mengenaskan.

Namun, berhentilah melihat ke atas dan lihatlah ke bawah. Apapun pekerjaanmu, saat kamu begitu malas bangun di Senin pagi, ada orang yang penuh semangat menyambut Senin untuk berburu lowongan pekerjaan. Saat kamu menunggu-nunggu weekend datang, ada yang stres ingin bekerja tapi tak kunjung dapat kesempatan. Karena meskipun tidak bisa liburan sebulan sekali, setidaknya kamu bisa makan tiga kali sehari. Syukuri saja apa yang kamu miliki, karena belum tentu itu abadi.

7. Kita yang masih sering kalah dengan gengsi, seharusnya belajar dengan sosok satu ini. Apapun pekerjaanmu, tetap keren bila dilakukan dengan sepenuh hati

Apapun yang kamu lakukan, cintai itu via okepost.com

Apa yang dilakukan Saito layak untuk kita teladani. Mencintai apa yang dikerjakan membuat rasa percaya diri kita tumbuh lebih mudah. Tak perlu menuruti gengsi yang hanya akan membuat kita sibuk membandingkan perncapaian kita dengan orang lain. Seperti Saito yang tak gengsi menjadi petani muda di negara industri, kita bisa mengikuti jejaknya. Karena pada akhirnya bukan jabatan atau pakaianmu yang membuatmu terlihat keren, melainkan seberapa serius kamu menekuni pekerjaanmu.

Barangkali benar bahwa sebaik-baik pekerjaan, adalah pekerjaan yang dicintai sepenuh hati. Di sini kamu bekerja bukan semata untuk memenuhi kebutuhan gizi, melainkan juga mengembangkan seluruh potensi diri. Bila sudah di sini, di manapun kamu bekerja, bosmu adalah diri sendiri.