Buatmu, dunia sedang gaduh-gaduhnya. Tenggat pekerjaan, target di depan mata, tugas kuliah yang melanda, sampai kewajiban di rumah pada orangtua membuat waktu yang 24 jam tak pernah cukup terasa. Seperti tersedak dan hampir tenggelam rasanya saat melihat deretan hal yang harus dilakukan tiap harinya.

Saat perasaan “penuh” macam ini melanda kita berubah jadi pribadi yang merasa paling penting sedunia. Semua prioritas seakan harus jadi soal kita. Kalau perlu pakai voorijder deh agar tak ada lagi yang menghalangi semua agenda. Ketika rasa “paling” macam ini tiba, banyak hal seakan terlipat dan lenyap begitu saja. Termasuk tentang syukur-syukur kecil yang seharusnya membuat kita merasa beruntung jadi manusia.

Kali ini maukah kita mengingatnya bersama?

Syukur tidak harus dipanggil sesulit itu. Dalam gelung malas menyambut hari baru, harapan terselip di bawah bantalmu

Dalam gelung malas, sebenranya harapan terselip di bawah bantalmu via katmervynphotography.com

“Udah Senin nih? Harus banget mulai kerja lagi?”

Advertisement

Rasa enggan keluar dari nyamannya selimut dan tumpukan bantal sering kita anggap sebagai revenge semesta. Nampaknya dunia sedang berkonspirasi menekuk semangat demi mengalahkan tantangan yang ada. Perasaan malas dan ingin bercumbu dengan tempat tidur seharian jadi buktinya.

Tapi bukankah pemahaman kita sebagai manusia memang begitu dangkalnya? Kadang kita tidak tahu bahwa dalam rasa berat dan malas itu semesta sedang membentuk harapan baru. Suara dalam kepalamu yang berkata, “Tutup Path dan Twitternya. Mandi sekarang!” atau dalam andai-andai “Ah…nanti sore pulang kampus cari makan enak apa ya?” — Tuhan sedang membuka mata bahwa harapan selalu bisa muncul dalam cara-cara yang sangat sederhana.

Dan kita-kita ini hanya terlampau kurang peka untuk menyadarinya.

Kebaikan semesta tercecer pada senyum orang asing yang tak kita tahu. Atau dalam bantuan tukang parkir yang sigap menyelamatkan nasibmu

Kebaikan semesta tercecer pada hal-hal yang sesungguhnya kita tak tahu via katmervynphotography.com

Selepas jadi dewasa dan punya banyak embel-embel tanggung jawab di dada, keluhan kita pun tumbuh jadi makin gigantis saja.

Mulai dari gaji yang tetap terasa tak cukup (padahal sebenarnya bisa cukup jika mau mengubah gaya hidup), betapa merananya hari karena tak ada yang bisa dipeluk sepulang kerja, sampai masih kecilnya kontribusi kita untuk membahagiakan orangtua.

Rasanya tak ada yang sempurna di hidup kita. Jadi dewasa ternyata setara dengan kemampuan merajuk tingkat dewa.

Barangkali butuh hati yang lebih lembut untuk mengerti bahwa semesta selalu berbaik hati. Ada Ibu sebelah rumah yang menyapa dan tersenyum tulus padamu tadi pagi. Padahal namanya pun belum tuntas kamu ingat setelah bertetangga selama ini. Tukang parkir kampus yang sabar menghadapi kemampuan menyetirmu juga layak diberi bintang tanda jasa kebaikan hati.

Saat kita-kita ini merasa dipercundangi, sebenarnya Tuhan sedang menyiapkan kebaikan-kebaikan kecil yang menunggu untuk disadari.

Di akhir hari, bukankah hanya lelah yang ditinggalkan keluh pada harimu? Syukur, sehalus apapun, malah mampu menyelamatkanmu

Syukur, sehalus apapun malah mampu menyelamatkanmu via katmervynphotography.com

Sekian banyak keluhan yang dikeluarkan tidak lantas membuat hidup lebih ringan. Mengungkapkannya pada dunia, membungkusnya dengan foto dan kata-kata manis agar mendapat spotlight di sosial media sesungguhnya juga tidak membuat kita punya banyak dukungan di balik kepala.

Dari sekian banyak mereka yang membaca – membagi frown atau love nya, percayalah tak sampai 1/3 yang benar-benar ikut merasa. Lalu, buat apa?

Bukankah kita-kita ini sudah makin dewasa? Juru selamat dan rasa tenang di dada seharusnya sudah lebih bisa diakses kapan saja. Demi hidup yang lebih tertata.  Demi rasa impulsif di hati yang lebih bisa diprediksikan kapan datangnya.

Dan sesungguhnya, mengamini bahwa ada harapan yang terselip dalam kemalasanmu. Mendongak dan berterima kasih atas senyuman orang asing yang menghangatkan harimu. Mengangguk dalam pada tukang parkir yang suaranya sampai serak memberi aba-aba demi menghindarkan lecet dari kendaraanmu — juru selamat kini datang dalam hal-hal sederhana macam itu.

Menjadi dewasa memang terkadang lucu sekali. Kita mesti pintar-pintar melembutkan hati agar mampu mengerti betapa banyak hal yang harus disyukuri. Bukan mencari bahan untuk dirutuki tanpa henti 🙂