Demi purnama yang dengan indahnya menyinari malamku, apa kabar engkau disana? Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan saat mendengar namaku, dan aku tidak peduli dengan kenyataan bahwa mungkin saja kau tidak benar-benar bisa mengingat namaku dengan baik.

Di antara sekian daftar nama yang pernah kau kenal, adakah engkau menyisipkan namaku dalam daftar panjang itu? Mungkin kau akan mengingatku sebagai angin lalu, mungkin saja kau mengingatku sebaik aku mengingatmu.

Untuk kesekian kali saat semesta dan Tuhan berencana, kita dipertemukan dalam satu ruang dan waktu. Hanya ada aku dan kamu.

Adakah engkau merasakan sesuatu? Sesuatu yang menggebu. Karena tidak tahu harus melakukan apa, bagaimana, kau hanya diam. Berusaha memecahkan kesunyian yang malah membuat tingkahmu terasa konyol. Mungkin hanya aku yang merasa kau selalu menghindar, atau jangan-jangan kau pernah merasa begitu, merasa bahwa aku menghindar.

Ah, cinta. Apakah tidak berlebihan jika aku menyimpulkan demikian? Perasaan yang sudah dijumpai di ranah umum, tua dan muda.

Advertisement

Aku tidak tahu kapan ini dimulai, yang aku tahu justru aku takut untuk sekedar memikirkanmu. Sudah kucoba untuk menahan rasa di dada, tapi siapa yang menyangka bahwa rasa itu terlalu kuat untuk sekedar diajak bicara.

Duhai engkau yang sekarang entah dimana. Walaupun aku punya rasa, dan mungkin kau juga sama, apalah arti semua ini? Aku tidak akan terpenjara untuk kenikmatan semata.

Biarlah perasaan ini mengalir. Bersama hujan yang turun. Mengguyurnya, untuk kemudian tumbuh dan mekar, atau hanyut bersama aliran lain, menuju muara dari segala muara.

Untukku yang selalu berdoa agar cinta ini berbalas, dan untukmu yang semoga suatu saat tahu bahwa ada seseorang yang ingin berjuang menolakmu. Kenapa aku menolak bahkan saat kamu belum sempat mengungkapkan? Karena aku sungguh tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Aku bukanlah wanita bermata bulat seperti yang kau idamkan barang kali. Tapi sebenarnya, aku masih sedikit berharap semua akan baik-baik saja. seperti yang dikatakan temanku, aku akan memberimu waktu untuk memikirkan semuanya. Waktu yang cukup untuk menjelaskan yang misterius, menjernihkan yang masih keruh.

Maka ketahuilah, untuk menjaga rasa ini aku tidak benar-benar seratus persen menunggu.

Apabila suatu saat ada yang mendahuluimu mengisi segumpal daging penuh perasaan yang dinamakan hati ini, maka maafkan jika aku harus pergi. Melepas apa yang telah aku perjuangkan. Melepas semua, tanpa menoleh ke arahmu.


Jika dengan Kuasa-Nya kita dapat dipertemukan, maka dengan Kuasa-Nya pula kita dipisahkan. Entah akhir seperti apa yang akan kita pilih. Aku dan Kamu.