Tentang teori penerimaan yang selama ini kita pikir hanya berlaku sebagai bekal kelak berpasangan. Tapi ternyata cakupannya lebih luas. Hal ini juga berlaku di rumah. Kita akan berada pada usia dimana kita sudah bisa menentukan mana yang terbaik untuk kita, apa yang harus kita pilih, apa yang menurut pandangan kita benar, apa yang kita setujui dan tidak kita setujui, tentunya kita akan sering berbeda pandangan sama orang tua kita.

Dalam hal apapun, misal perihal tidur dengan lampu yang dimatikan atau tidak, tentang tata letak barang di rumah, tentang apa yang dirasa perlu untuk dibeli atau tidak. Hal-hal sederhana yang membuat kita berbeda pendapat dengan orangtua kita. Akan sampai pada masa dimana anak bisa mengutarakan pendapatnya sendiri, tidak lagi mengekor serta merta apa yang orang tua katakan.

Tentunya akan ada saja saran atau pendapat dari orang tua yang tidak kita setujui. Bahkan ternyata mungkin kebiasaan-kebiasaan perilaku yang selama ini dirasa baik-baik saja, ternyata kita tidak setuju. Lantas? Teori tentang penerimaan bisa diterapkan kok. Kita akan mulai sadar ternyata orang tua kita pun punya sisi baik dan sisi buruk. Karena bagaimana pun juga mereka tetap manusia biasa. Menghakimi karena merasa kita benar, membentak, mengomeli, itu semua bukan solusi.

Bahkan tidak sewajarnya kita memperlakukan orang tua kita seperti itu. Bicarakan baik-baik. Diskusikan mungkin seharusnya begini, mungkin semestinya begitu. Ambil tengahnya. Kalau memang tetap beda pendapat, tidak perlu dipaksakan. Cukup melakukan penerimaan.


Karena pada umumnya, usia dimana kita sudah bisa menentukan pilihan sendiri, adalah usia dimana orang tua kita tidak lagi sekokoh dan sekuat dulu. Mungkin ada pengaruh bahwa manusia semakin menua akan balik lagi menjadi anak kecil. Terima saja. Sudah kodratnya seperti itu. Jangan sampai hati orang tua kita tersakiti karena ulah anaknya sendiri, anak yang dibesarkannya dari kecil.