Tentangmu.

Terkadang aku berfikir, mengapa aku berfikir. Sebenarnya kamu ini sedang apa di kehidupanku. Mulai dari datang dan pergi seenaknya. Kehadiranmu yang telah memberi banyak suka dan duka itu yang ku bingungkan. Hampir delapan bulan lamanya kamu pergi dengan menanggalkan luka yang membekas. Delapan bulan lamanya juga aku berusaha sekuat mungkin menyembuhkan luka dan kemudian kamu dengan santainya kembali hadir tanpa sepengetahuanku.

Advertisement

Apa kamu pernah memikirkan bagaimana aku, bagaimana perasaanku saat tahu dirimu telah ada di kehidupanku kembali setelah sekian lama aku hidup dengan pukulan keras karenamu? Berusaha mati-matian layaknya orang bodoh karena gila cinta pada hamba-Nya. Dan kamu, kamu dengan santai melayangkan ucapan "bagaimana" ke aku.

Hahaha, entahlah aku tak peduli lagi dengan kebenaranmu. Yang aku tahu, aku hanya telah merasa bisa memaafkan dan melupakan segala tentangmu. Kupikir awalnya aku akan baik-baik saja. Tapi kehadiranmu, semakin jauh hari terasa menyesakkan bagiku.

Kamu ini sedang apa? Kamu ini maunya apa? Hey, tolonglah!

Advertisement

Aku telah berusaha berhuznudhon terhadapmu bahwa kamu datang kembali hanya karena ingin memperbaiki silaturrahim yang pernah putus. Tapi kenapa usahamu berlebihan? Kumohon, jika kamu merasa biasa saja atau bahkan tenang dengan apa yang kamu lakukan, setidaknya beri orang lain pengertian. Kita ini berbeda, aku seorang perempuan, yang jika kamu merasa biasa saja, tidak begitu denganku. Walau aku bilang telah memaafkan dan melupakan, kuingatkan tidak sepenuhnya lukanya hilang. Bekasnya masih ada.

Jadi kumohon, setidaknya hargai usahaku.

Aku hanya tidak ingin menjadi seorang munafik yang menduakan cinta Allahku. Aku tidak pernah memintamu kembali. Aku juga tidak menginginkanmu pergi kembali. Aku hanya ingin sewajarnya, lihat aku sebagai orang lain. Biarkan aku hidup tanpa menjadi sosok pengemis kasih. Biarkan aku bernafas menghirup udara tanpa kebencian. Biarkan penyakitku berhenti menyakiti dan lekas pergi. Apa kau tak sedikitpun merasakan iba saat melihatku?

Kurus kering minim daging, tulang yang semakin menampakkan diri, mata yang selalu bengkak dan tak pernah kering, pikiran juga hati yang terus-terusan tergores. Aku bahkan sangat merasa hina di hadapan siapapun.

Terutama di hadapan Allahku.

Sering mengadu berkeluh kesah merasa diri paling tersakiti, memohon-mohon, dan bertekad untuk menjadi hamba yang lebih baik. Dia selalu setia mendampingiku juga menguatkan hatiku, tapi bagaimana aku? Hamba macam apa aku ini, bahkan saat seharusnya mengatakan "maaf aku tidak bisa" yang terlontar dari mulut kosong ini justru "iya." Dan bila di hadapan sesama, aku bahkan mudah bersu'udzan.

Setiap berhadapan dengan orang, aku selalu merasa takut dan memiliki kewaspadaan yang berlebih. Aku lebih membatasi diri dengan memilih hidup sendiri dan melakukan apapun sendirian. Dalam benakku, aku hanya takut dihianati, aku takut akan diberikan kebohongan, aku benci pergi dengan luka.

Lihat bagaimana aku telah menjadi sosok yang lemah, sekali lagi, apa kamu tidak merasakan iba sedikitpun? Tolong berhenti menyakitiku atau menyakiti orang lain dengan apapun, setidaknya bantu aku. Tolong, bantu aku menghilangkan sifat buruk itu semua. Aku hanya ingin kembali hidup tenang di jalan Allahku. 

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya