Untukmu yang Memberikan Janji tapi Akhirnya Justru Memilih Pergi

Beri janji lalu pergi

Kisah kita telah berakhir. Akad sudah kau ucapkan pada ayah seorang gadis, yang bukan ayahku. Aku sudah mencoba menerima semua keputusan mu dengan membawa pulang kepingan-kepingan hatiku. 

Advertisement

Aku sudah tak ingin membahas perpisahan kita, sudah selesai. Kau katakan pernikahan itu untuk ibadah, bukan karena hianat padaku. Baiklah tidak peduli seberapa banyak kata2 mu menjelaskan itu, yang jelas ada kata2 yang kau tak tepati. Ada janji yang kau ingkari dan ada harapan yang kau hancurkan. 

Apapun alasanmu, takkan mengubah kenyataan bahwa itulah yang terjadi. Jika memang ibadah, kenapa tak kau tepati janji mu? 

Jika memang ingin takwa, kenapa tak kau hargai komitmen mu? Jika menurutmu restu itu penghalang, artinya aku tak cukup berharga untuk kau berjuang!

Sudah ku terima alasan itu, alasan uangmu yang belum ada, alasan keluargamu yang tak suka. Sudah ku bawa potongan hati ini pulang, saat aku tau kau telah menikah dengan seseorang beberapa waktu setelah penjelasan untuk penolakanku. 

Aku menerima memang inilah takdirku. 

Advertisement

Tak beselang lama, salah seorang dari orang-orangmu menghubungiku untuk bertanya kabarku! Kenapa harus begitu? Aku sudah kalah, aku sudah mengalah, tak bisakah aku memperjuangkan hidupku untuk lebih baik.

Tahukah kamu? Saat adikmu menanyakan kabarku, itu seolah mengulik luka kembali.

Baiklah kau tak tau akan hal itu. Salahku jika menuduhmu yang menyuruhnya, kata-kata itu kembali melukai ku.

"Aku gak pernah menyuruh siapapun, bertanya kabarmu, dan tolong jangan sebut2 nama keluargaku, aku lebih mengenal mereka dari pada siapapun" 

Bisa-bisanya kau hina aku kembali, padahal itulah kenyataannya, kenyataan nya memang darimu yang datang mengulik luka. Lantas apa aku tak boleh sekedar mengingatkanmu, sekedar meminta tolong agar kau menyampaikan pada keluargamu untuk tidak begitu? 

Kembali kau bahas semua, termasuk alasanmu menikah. Termasuk pandanganku yang sangat berbeda denganmu tentang pernikahan. 

Kembali kau ungkit segala nasihatmu pada ku. Membuat aku semakin merasa, memang dirimu layak meninggalkanku. Membuat aku merasa tidak berharga.

Aku berdoa yang baik, agar hidup mu baik-baik saja. Kau katakan aku menyindir, aku berkata semua akan ada balasnya. Kau katakan aku tega berdoa yang buruk.

Kau suruh aku memahami antara rasa cinta dan benci, penjelasan nasehat yang seolah aku ini wanita jalang, gak tau sopan santun, gak pernah mengerti apapun nasehatmu.

Untuk apalagi kau umbar semua itu, bukan kah istrimu sudah ada dan bukan aku. Jadi bagaimanapun aku, bukan kah tak ada masalahnya bagimu?

Mengapa kamu merasa berhak menyakitiku, lantas maumu apa? Kau yang pergi, kau yang menikah dengan yang lain, keluargamu yang tak menerimaku. 

Saat aku menangis karena hancurnya hatiku, kau katakan aku yang tak sabar. Aku yang tak tawakkal dan aku tak layak berdoa yang buruk untukmu?

Lantas apa?

Apa maumu? Apa aku harus  menghadiri pernikahanmu, mengucapkan selamat karena telah berhasil menyempurnakan ibadah dan telah menemukan wanita suci yang layak dijadikan istri? 

Apa aku harus berdoa bahagia dunia akhirat? Apa aku harus menyanyi "titip cintaku"? Apa aku harus memohon izin pada keluargamu walaupun mereka menolakku dan aku harus menerima semua kata-kata penolakan tanpa boleh membela diri? Tanpa boleh bertanya kenapa?

Kenapa begitu? Aku tidak pernah berharap kau menayakan kabarku dan aku tidak pernah berharap kau kembali. Aku bukan perusak rumah tangga orang, tapi ku mohon juga, janganlah orang-orangmu kembali datang dihidupku.

Apapun alasanmu takkan mengubah kenyataan, bahwa memang kenyataan nya kau ingkar janji. Kau tidak komitmen dan adikmu yang kembali bertanya kabar. 

Aku percaya Allah menakdirkan seperti ini karena ini yang paling baik. Tapi untukmu, setiap kata-katamu, bagiku itu hanya pembenaran untuk apa yang telah kau lakukan. 

Tidak usah menjelaskan apapun, karena itu tak mengubah kenyataan apapun yang ku rasakan. Jika memang ibadah ya sudah, ibadahlah dengan baik, tak perlu ribuan kali menjelaskan hal yang sama itu. 

Bukankah Allah juga tak mengukur takwamu dari penilaianku? Jadi tak perlu risau, tak perlu capek menjelaskan itu kembali.

Tak ada masalah bukan, jika menurutmu kamu menikah untuk ibadah. Tapi menurutku, pernikahanmu diawali dengan pengingkaran janjimu padaku. Jalankan saja hidupmu, tanpa harus menjelaskan padaku niat ibadahmu. 

Aku sudah mengalah, aku sudah kalah, kau telah melangkah. Aku hanya hidup sendiri dan kau sudah punya tempat berbagi. Lantas apalagi, tak usah menyentuh lukaku lagi. 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE