Apa reaksi kita saat dikatain temen, “Dasarrr KOPLAK Lo…”

Bisa jadi, marah. Atau diam saja. Bahkan ada yang ketawa. Hahaha, dasar koplak. Buat saya, gak terlalu penting sih tentang reaksi kalo dikataiin koplak. Tapi jauh lebih penting untuk tahu, apa sih sebenarnya KOPLAK itu ?

Buat mereka yang gaul, tentu sering mengucapkan kata KOPLAK. Memang agak aneh. Dan mungkin berkonotasi negatif. Maka wajar, kalo sebagian orang dibilang koplak, langsung marah. Lha, terus buat apa "ngaca mulu" di cermian kalo akhirnya cermin bilang jelek. Buat apa juga gak mau ketemu saudara karena masih jomblo? Takut ditanya pacarnya mana? Jawab aja lagi "solo karier". Ya begitu deh, koplak.

Koplak. Asal tahu saja, dalam beberapa literasi Bahasa Jawa, KOPLAK bisa kita pahami dalam 2 makna:

1. KOPLAK bisa diartikan KOCAK alias lucu, atau koclak,

2. KOPLAK dianggap berasal dari peribahasa “kocak (koplak) tandha lukak (setengah kosong)”, yang artinya orang bodoh yang banyak bicara. Sebagai representasi dari orang yang kepalanya besar tapi otaknya kecil.

Ini juga kalo setuju ya, buat saya, KOPLAK itu artinya GILA alias kurang waras dalam hal yang lucu. Mengundang tawa. Bahasa Jawa-nya “wong gendheng nan lucu” hehe. Kata temen-temen saya di kampus dulu, GARDOT (Gara Dae Otaknye).

Advertisement

Mungkin, pengertian KOPLAK dalam arti “kurang waras yang lucu” inilah yang dijadikan spirit beberapa acara TV, talk show, yang makin marak. Karena mereka, menyajikan “kelucuan yang agak tidak standar”. Coba aja di cek, modelnya dan gaya lucunya. Koplak banget. Itu juga kalo setuju ya.

Mari kita baca teks KOPLAK di bawah ini:

A: Neng Cecak apa yang bisa bikin mati?

N: Cecak beracun ya Bang

A: Salah..

N: Terus apa dong?

A: Cecak nafas kalo ngeliat senyum manismu.. #cuiittt

Ini kisah 3 cowok jomblo yang saling curhat. Kisah hubungannya dengan pacarnya masing-masing.

CoJom 1: Gue lagi sedih nih, abis putus ama pacar gue

CoJom 2: Kok, bisa putus. Emang kenapa?

CoJom 1: Karena beda prinsip

CoJom 2: Sama ama gu dong. Gue juga baru bubaran ama cewek gue

CoJom 1: Kenapa elo bubaran….??

CoJom 2: Karena beda keyakinan.

Lalu CoJom 3 mulai ikut nimbrung.

CoJom 3: Lha, aku juga baru putus ama pacar.

CoJom 1: Duh, emang elo kenapa? Beda prinsip juga?

Cojom 3: Bukan

CoJom 2: Lha terus kenapa dong…???

CoJom 3: Gara-gara aku beda kelamin ama dia.

Cojom 1 & 2 langsung Illfeel ama si CoJom 3 yang ternyata homreng.

Terus, apa hubungannya KOPLAK ama kita?

Ya. Gak ada sih. Cuma KOPLAK bisa jadi pesan buat kita bahwa HIDUP sesekali butuh suasana rileks, nyantai. Sedikit beda, berteman dengan sesuatu yang lucu. Agak humor. Jika perlu, sedikit kurang waras. Gak apa kok. Asal mampu kita kendalikan.

Kayak zaman sekarang, buat apa kita serius melulu. Urusan negara dipikirin, urusan pejabat dikomenin. Ya gak ada habisnya kali. Sesekali mikir dan bertindak KOPLAK juga gak apa. Itu juga kalo setuju sih.

Sungguh, kadang-kadang hidup kita memang butuh rileks. Nyantai aja bro, kalo kata orang sekarang.

Kata orang pintar, manusia memang perlu rileks. Untuk mendinginkan tubuhnya, sekaligus mengurangi kerja jantung. Kata orang pintar lagi, orang yang rileks bagus setelah kerja sehari penuh itu dapat menambah umurnya lima tahun lebih lama. Kerennn kan??

Bagi kita, ada fakta yang gak bisa dihindari lagi. Bahwa kita menggunakan seperempat dari umur kita untuk berkembang, sedangkan sisanya untuk bertambah menjadi tua. Jadi, orang yang selalu serius, akan sering dihinggapi rasa khawatir, frustasi atau merasa jemu. Akhirnya, jadi terlalu prematur dan bahkan pemikirannya kaku. Hidupnya jadi tidak seimbang.

Nah, dengan KOPLAK alias rileks, kita bisa agak santai. Untuk menghilangkan rasa penat setelah kerja seharian. Lihat aja, makanya di TV sekarang banyak acara TV yang tayangannya mengundang gelak-tawa kita. Rasakan dan nikmatilah.

Yukk, kita KOPLAK dikit, rileks. Agar kita tidak terjebak pada permusuhan yang gak abis-abis. Serius mulu tapi gak jelas juntrungan. Buat apa sisa hidup dipake buat nyari pro dan kontra melulu. Lagi juga, gak ada manfaat langsung buat kita.

Buat apa berseteru tentang Presiden. Yang dukung ama yang menghujat, bisa jadi sama gak benernya. Kok begitu? Iya, karena:

Bagi pendukungnya, bisa jadi mereka tak ubahnya orang-orang yang buta dan dibutakan, atau ditulikan. Mereka dibutakan dan ditulikan oleh harapan mereka sendiri. Harapan akan terciptanya negeri yang makmur dan sejahtera. Makanya, mereka membela mati-matian. Karena mereka sedang membela harapan dan mimpi-mimpi mereka sendiri.

Mereka tidak ingin siapapun menghancurkan harapan dan impiannya, karena hanya itu yang mereka punya. Sampai sekarang, mereka bersedia menunggu agar harapan dan impian yang mereka tunggu bisa segera menjadi nyata.

Bagi para penolaknya, bisa jadi sama. Mereka orang-orang yang buta dan dibutakan, juga ditulikan. Mereka buta karena benci, tuli karena iri. Mereka sedang menunggu kesalahan Presidennya sendiri. Jika perlu didoakan gagal memimpin. Karena keberhasilan Presiden dianggap derita mereka.

Buat mereka, siapapun boleh sukses, asal jangan Presiden yang ini. Siapapun boleh jadi presiden, asal jangan dia. Mereka lebih suka negara ini hancur di tangan orang lain, asal jangan berhasil di tangan sosok yang satu ini.

Pertanyaannya sekarang? Emang, siapa yang bisa jamin bahwa Indonesia akan bisa lebih baik jika presidennya bukan Pak Jokowi. Tapi satu yang pasti, terpilihnya beliau sebagai presiden adalah sebuah keterlanjuran sejarah yang tidak bisa diubah. Suka tidak suka. Itu saja cukup.

Lha, kok jadi serius gini? Mana KOPLAK-nya?

Ahhhh, sudahlah. Ini hanya tulisan yang gak berarti kok. Cuma tentang KOPLAK. Tentang Rileks. Yang gak penting-penting amat. Tapi patut dicoba, jadilah KOPLAK (RILEKS) agar kita sehat. Karena KOPLAK membebaskan kita dari berpikir negatif, dari rasa benci dan meratapi. Salam KOPLAK, bro !!

#BelajarDariOrangGoblok