Setahun yang lalu, tepatnya bulan Februari 2019 saya bersama keluarga menjalankan agenda liburan yaitu ke luar negeri. Ini merupakan pertama kali saya berkunjung ke luar negeri setelah sebelumnya sempat ingin berkunjung pada tahun 2010 tapi entah kenapa tidak kesampaian, dan baru kesampaian pada tahun lalu. Saya bersama keluarga berencana berkunjung ke Malaysia.
Saya saat itu sedang mengembangkan hobi fotografi, terutama pada genre Cityscape. Sehingga berkunjung ke sana mengharapkan mendapatkan foto-foto bagus dan menjadi referensi tentang suasana di Negara tetangga. Namun ternyata kita bisa dapat yang lebih dari itu. Berkunjung ke Negara tetangga kita bisa mengapati berbagai perbedaan dari sosial, budaya, kesenian dan tata kota. Di sinilah saya ingin ceritakan.
Setiba di sana yang pertama kali saya cari adalah paket internet. Berhubung uang rupiah harus ditukarkan dulu maka saya ke tempat penukaran. Di tempat penukaran saya sibuk menghitung dan mempertimbangkan, punya uang berapa dan mau ditukarkan berapa sampai pusing. Jangan sampai kehabisan uang saat traveling terjadi. Meskipun pada akhirnya karena terlalu lama dan pusing mempertimbangkan, maka saya menukarkan sebanyak-banyaknya, mengabaikan hitung-hitungan dan pertimbangan itu.
Setelah uang Ringgit Malaysia saya dapatkan, saya langsung ke loket penjualan provider internet internasional. Ketika saya ingin membeli pake internet saya malah dibuat pusing karena semua pilihan paket internet asing dari yang biasanya, tidak ada yang dari Indonesia. Oh iya, saya sempat menanyakan “apakah provider merek “X” (provider Indonesia) ada?”. Saya melihat ekspresi penjual yang kebingungan yang menandakan ia tidak mengerti tentang merek itu sehingga itu menandakan merk “X” itu tidak ada di sana. Pada akhirnya saya beli saja apapun, acak yang penting bisa berfungsi disana.
Setelah bertolak dari Bandara KLIA (Kuala Lumpur International Airport) saya langsung bertolak ke destinasi pertama, Putrajaya. Dipandu oleh driver sekaligus pemandu wisata kewarganegaraan Malaysia. Sehingga tiap kali berbicara menggunakan bahasa Melayu yang jarang sekali saya dengar, sehingga terdengar asing bagi saya. Dan sebut saja dalam pemilihan kata (diksi) dalam berkomunikasi juga berbeda. Contohnya pada saat menyebut Putrajaya sebagai kota yang “terancang”, saya bingung, bukannya tiap kota juga bener-bener dirancang ya? kan Arsitek sama Planology yang merancang tata kota. Namun ketika sampai disana saya baru menyadari kenapa disebut sebagai kota yang “terancang”. Bener-bener dirancang lebih khusus pada tujuan tertentu, yaitu pusat pemerintahan dan wisata. Saya belum melihat tempat wisata sebagus ini sebelumnya. Semua spot sangat instagramable dan wajib untuk diabadikan moment. Tempat wisata yang sangat mirip dengan tempat wisata di Negara maju. Semua bangunan terancang dengan menonjolkan gaya Arsitektur Arab yang sangat khas tidak dijumpai di tempat lain. Benar-benar “terancang” dan tidak terpikirkan sebelumnya, tidak mungkin saya jumpai tempat seperti ini di tempat lain.
Selain Putrajaya, ada tempat wisata lain yang wajib dikunjungi yaitu Melaka. Dalam perjalanan dari Putrajaya ke melihat keluar dan banyak mendapatkan hal yang berbeda dengan Indonesia, namun saya menceritakan itu nanti saja… hehe… Melaka tempat wisata yang terletak di ujung semenanjung dan terletak di pinggir laut. Di tempat itu sangat panas namun dari tata kota, Melaka ini sangat berkelas. Tempat wisata yang bisa disejajarkan dengan Negara maju. Saya hanya bisa menceritakan sedikit, karena kebanyakan bercerita lewat foto yang bisa anda amati di media sosial. Yang jelas, Melaka tempatnya sangat bagus banget sebagai tujuan wisata.
Saya begitu heran begitu melihat adanya kendaraan roda dua yang melintas di jalan Tol, mengingat penggunaan motor dilarang di jalan Tol di Indonesia. Baik dari motor ber-cc gede yang bisa kecepatan tinggi maupun motor bebek ber-cc kecil sekalipun bisa melintas (motor bebek hanya bisa melewati bahu jalan). Sangat berbeda dengan Indonesia. Kedisiplinan pengendara di Malaysia justru terlihat di jalan tol ini. Kecepatan sangat dibatasi (maksimal 100kmpj) dan diawasi dengan pendeteksi kecepatan, yang mereka sebut “tangkap laju”.
Sehingga mereka sangat berhati-hati dalam berkendara sehingga meminimalisir kecelakaan. Dan juga dari etika mendahului kendaraan lain yang mengharuskan mendahului dari sebelah kanan mobil depan. Mobil depan mungkin tidak begitu terkejut ketika melihar mobil dengan kecepatan tinggi mendahului melalui arah kiri. Kebiasaan seperti ini membuat pola pengendara di Malaysia sangat teratur dan disiplin. Berbeda dengan di Indonesia yang bisa mendahului dari arah mana saja, bahkan ada saja yang berbelok tajam dari lajur 1 langsung ke lajur 3. Saya melihat di Malaysia bisa lebih meminimalisir kecelakaan. Mungkin ini menjadi alasan motor bisa lewat jalan tol di Malaysia.
Kuala Lumpur menjadi tujuan terakhir saya saat berkunjung ke Malaysia. Saya sangat terkesan begitu melihat kemajuan kota Kuala Lumpur yang belum saya lihat di kota-kota sebelumnya. Semisal tidak begitu padat dan membuat kemacetan dan juga transportasi umum sangat tersedia di sana, dari Bis Kota dan juga LRT, dibandingkan Jakarta yang baru menyelesaikan proyek LRT nya pada 2019. Pemandangan gedung-gedung tinggi diamati dari jalan laying membuat saya sangat terkesan. Suasana urban lifestyle sangat terasa. Anda bisa mengekspresikan apapun ketika berada di sini. Dan jangan lupa untuk berkunjung ke ikon Kuala Lumpur, yaitu Petronas Tower. Karena jika hanya melihat dari foto-foto di medsos aja tidak cukup akan lebih menakjubkan jika anda lihat pake mata sendiri.
Sekian tulisan perdana saya, mohon maaf jika ada kesalahan.
Terima kasih
ADVERTISEMENTS
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”